
Pernahkah kita merasa baik-baik saja dengan hidup sendiri, sampai akhirnya melihat kehidupan orang lain? Awalnya hanya membuka media sosial sebentar. Kemudian melihat teman yang sudah lulus, ada yang mendapatkan pekerjaan, ada yang melanjutkan pendidikan, ada yang mulai menghasilkan uang, bahkan ada yang sudah mencapai sesuatu yang selama ini kita inginkan. Kita ikut senang melihatnya. Namun, entah mengapa setelah menutup media sosial, muncul satu pertanyaan kecil dalam kepala: “Aku kapan?” Lucunya, beberapa menit sebelumnya kita merasa hidup kita baik-baik saja sampai akhirnya kita melihat kehidupan orang lain yang tampak luar biasa.
Fenomena seperti ini sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan kita. Kita sering menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran untuk menilai diri sendiri. Ketika orang lain terlihat lebih maju, kita merasa tertinggal. Ketika orang lain mendapatkan sesuatu lebih dulu, kita merasa gagal. Padahal, belum tentu kita benar-benar gagal.
Dalam psikologi, kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain dikenal dengan istilah social comparison atau perbandingan sosial. Sederhananya, social comparison adalah kecenderungan seseorang untuk menilai kemampuan, pencapaian, bahkan dirinya sendiri dengan membandingkannya dengan orang lain.
Sebenarnya, membandingkan diri bukanlah sesuatu yang selalu buruk. Kita bisa belajar dari orang lain, mendapatkan motivasi, bahkan mengetahui kemampuan apa yang perlu dikembangkan. Masalahnya muncul ketika perbandingan tersebut membuat kita terus merasa kurang.
Dalam psikologi, perbandingan seperti ini dapat terjadi dalam dua arah. Pertama, upward social comparison, yaitu ketika kita membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul. Perbandingan ini sebenarnya bisa menjadi motivasi untuk berkembang. Kita melihat keberhasilan orang lain, kemudian terdorong untuk belajar dan memperbaiki diri. Namun, jika tidak disikapi dengan tepat, perbandingan tersebut justru membuat kita merasa tidak cukup.
Kedua, downward social comparison, yaitu ketika kita membandingkan diri dengan orang yang dianggap berada di bawah kita. Perbandingan ini dapat membuat kita merasa lebih baik tentang kemampuan diri sendiri. Artinya, membandingkan diri dengan orang lain tidak selalu membuat kita merasa rendah. Namun, jika harga diri terus ditentukan oleh posisi kita dibandingkan dengan orang lain, bukankah kita akan selalu membutuhkan seseorang untuk dibandingkan?
Kita mulai berpikir, “Dia sudah punya itu, kenapa aku belum?, dia bisa seperti itu, kenapa aku tidak?, teman-temanku sudah sejauh itu, aku masih di sini”. Tanpa sadar, kita sedang menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.
Ketika Kehidupan Orang Lain Menjadi Ukuran
Salah satu hal yang membuat social comparison semakin mudah terjadi adalah media sosial. Di media sosial, kita bisa melihat pencapaian banyak orang hanya dalam hitungan menit. Ada yang membagikan wisuda, pekerjaan baru, perjalanan, bisnis, prestasi, hubungan, dan berbagai pencapaian lainnya.
Sementara itu, kehidupan kita sendiri tidak pernah hadir dalam bentuk yang sesingkat itu. Kita tahu seluruh prosesnya. Kita tahu ketika kita gagal, bingung, menangis, mencoba lagi, kemudian gagal lagi. Kita mengetahui bagian-bagian kehidupan yang tidak pernah kita unggah.
Sedangkan dari kehidupan orang lain, sering kali kita hanya melihat hasil akhirnya. Akhirnya, kita membandingkan behind the scenes kehidupan kita dengan highlight kehidupan orang lain. Bagaimana kita tidak merasa kalah? Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu keseluruhan cerita mereka.
Setiap Orang Punya Waktunya Sendiri
Ada satu hal yang sering kita lupakan ketika terlalu sibuk melihat pencapaian orang lain: setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Ada orang yang menemukan jalan hidupnya lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang langsung mendapatkan kesempatan, sementara yang lain harus mencoba berkali-kali. Ada yang lulus lebih dulu. Ada yang bekerja lebih dulu. Ada yang menikah lebih dulu. Ada yang memiliki rumah lebih dulu. Lalu, siapa yang menentukan bahwa kita harus mengikuti urutan yang sama?
Sering kali bukan kehidupan yang membuat kita merasa terlambat, tetapi standar yang kita buat sendiri setelah melihat kehidupan orang lain. Kita membuat semacam timeline dalam kepala: umur sekian harus sudah lulus, umur sekian harus sudah bekerja, umur sekian harus sudah mapan, dan seterusnya. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan timeline tersebut, kita mulai menganggap diri sendiri tertinggal. Padahal, hidup bukanlah perlombaan yang memiliki satu garis akhir dan satu waktu kemenangan.
Lalu, Bagaimana Agar Tidak Terus Membandingkan Diri?
Bukan berarti kita harus berhenti melihat keberhasilan orang lain. Kita tetap boleh kagum. Kita tetap boleh belajar. Bahkan, tidak ada salahnya menjadikan seseorang sebagai inspirasi. Hanya saja, kita perlu belajar mengubah cara membandingkan diri.
Pertama, jadikan pencapaian orang lain sebagai inspirasi, bukan ukuran harga diri. Ketika melihat seseorang berhasil, kita tidak harus langsung berpikir, “Kenapa aku belum seperti dia?” Cobalah mengubahnya menjadi, “Apa yang bisa aku pelajari dari perjalanan dia?” Dengan begitu, keberhasilan orang lain tidak lagi menjadi alasan untuk merendahkan diri sendiri.
Kedua, bandingkan dirimu dengan dirimu yang dulu. Terkadang kita terlalu sibuk melihat orang yang sudah jauh di depan sampai lupa melihat seberapa jauh kita sendiri telah berjalan.
Mungkin kita belum mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Tetapi bukankah kita sudah belajar lebih banyak daripada tahun lalu? Mungkin kita belum mencapai target yang besar. Tetapi bukankah kita sudah berani mencoba? Kemajuan tidak selalu terlihat spektakuler. Ada proses yang memang hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri.
Ketiga, belajar merasa cukup tanpa berhenti berkembang. Merasa cukup bukan berarti menyerah pada keadaan. Merasa cukup berarti mampu menghargai apa yang sudah dimiliki sambil tetap berusaha menjadi lebih baik. Kita boleh punya cita-cita besar. Kita boleh ingin sukses. Kita boleh ingin hidup lebih baik. Namun, jangan sampai keinginan untuk menjadi lebih baik membuat kita membenci diri sendiri yang sekarang.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Tidak apa-apa jika hari ini kita belum berada di tempat yang kita inginkan. Tidak apa-apa jika pencapaian kita belum sebesar orang lain. Tidak apa-apa jika perjalanan kita terlihat lebih lambat. Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu perjalanan yang sedang ditempuh orang lain, sebagaimana mereka juga tidak tahu seluruh perjuangan yang telah kita lalui.
Jadi, ketika suatu hari kita kembali bertanya, “Mengapa aku belum seperti mereka?”, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya, aku ingin menjadi seperti mereka, atau aku hanya takut dianggap tertinggal?” Barangkali selama ini kita bukan kekurangan sesuatu. Barangkali kita hanya terlalu sering melihat ke kanan dan ke kiri sampai lupa menikmati jalan yang sedang kita tempuh.
Hidup bukan perlombaan. Tidak semua orang harus sampai pada waktu yang sama. Berjalanlah dengan langkahmu sendiri. Bertumbuhlah dengan caramu sendiri. Sebab menjadi diri sendiri bukan berarti berhenti berkembang, melainkan berani berkembang tanpa harus kehilangan diri sendiri.
Daftar Bacaan:
– Cherry, K. (2026, 24 Agustus). How Social Comparison Theory Influences Our Views on Ourselves. Verywell Mind.
https://share.google/rR5a8XqHaFYQNeBxw
– Psychology BINUS University. (2020, 14 Mei). Social Comparison. Faculty of Humanities, Psychology BINUS University.
https://psychology.binus.ac.id/2020/05/14/social-comparison/
Asmi Ulfiyah Farista bisa disapa melalui Instagram @fara.writes




