
Kedudukan sastra Arab modern memanglah sangat penting bagi peradaban Islam dan budaya-budaya di dunia. Salah satu bentuk sastra yang paling menonjol dan menarik dalam sastra Arab modern adalah puisi (syair). Sejak masa Jahiliyyah (era pra-Islam), syair merupakan media untuk mengungkapkan sebuah perasaan, pemikiran, kritik sosial, nasionalisme, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada abad ke-20, pada abad yang serba mudah, media publikasi di mana-mana dan industri musik yang semakin populer, yang mempermudahkan untuk memperkenalkan dan menghidupkan sastra Arab modern ke masyarakat luas. Salah satu tokoh yang memperkenalkan dan menghidupkan sastra Arab modern lewat sebuah nyanyian yang diiringi seni musik klasik ala-ala Timur Tengah serta lewat kaset klasik khas abad ke-18 an adalah Ummu Kultsum, sang penyandang julukan Kawkab al-Sharq (كوكب الشرق) (“Bintang dari Timur”) atau The Star of the Orient dalam bahasa Inggrisnya, dan Egypt’s Fourth Pyramid (Piramida ke-4 Mesir).
Beliau adalah penyanyi legendaris, penulis lagu, dan aktris film kenamaan Mesir yang aktif sejak era 1920-an hingga 1970-an. Beliau telah merekam lebih dari 300 lagu sepanjang 60 tahun berkarier. Beliau lahir pada tanggal yang tidak diketahui kepastiannya, antara tanggal 31 Desember 1898 atau 4 Mei 1904, di Tummay al-Zahirah, Mesir, dengan nama awal Fatima Ibrahim as-Sayyid al-Biltaji nama yang diberikan oleh sang ayah tercinta yang bernama Syekh Ibrahim al-Sayyid al-Baltaji, yang menjadi seorang imam di salah satu masjid di desanya.
Menurut Hind Soufi-Assaf dalam buletinnya Al-Raida edisi 122–123 (2008), yang dijelaskan oleh Ali Zaenal pada artikelnya di Tirto.id (“Ummi Kulsum, Biduanita Pemersatu Bangsa Arab Lewat Nyanyian”, gelar Ummi Kulsum didapat dari ayahnya usai mendapatkan mimpi bertemu dengan putri Nabi Muhammad, Ummi Kultsum, yang memberinya sebuah perhiasan yang berkilau agar dirawat sebaik-baiknya. Beliau menafsirkan mimpinya sebagai sebuah rezeki pembawa keberkahan dan harapan yang akhirnya disematkan pada nama panggung putrinya.
Peran Ummu Kultsum terhadap penyebaran sastra Arab modern merupakan peranan yang sangat besar. Tak jarang seorang penyanyi yang membawakan sebuah lagu-lagu yang di dalamnya terdapat sastra yang indah. Kehebatannya dalam menyebarkan sastra Arab modern melalui sebuah nyanyian yang diiringi dengan musik klasik ala-ala Timur Tengah menjadikan orang yang mendengarkan nyanyiannya menjadi sangat terpukau dan takjub sembari menghayati bait-bait sastra Arab modern di dalamnya.
Beliau banyak membawakan dan menyanyikan judul-judul syair Arab karya sastrawan Arab modern lewat suaranya yang menyihir para pendengar, sembari memperkenalkan luas kepada masyarakat tentang penyair era modern, seperti:
– Al-Atlal (Reruntuhan) karya Ibrahim Nagi
– Inta Omri (Kamu adalah Hidupku) karya Ahmad Rami
– Alf Leila wa Leila (Seribu Satu Malam) karya Ahmad Mursi
– Saluu Qalbi (Tanyakan pada Hatiku) karya Ahmad Syauqi
– Wulida al-Huda (Telah Lahir Sang Petunjuk) karya Ahmad Syauqi
Beliau-beliaulah yang menjadi dalang utama atas ketenaran Ummu Kultsum. Berkat panggung besar Ummu Kultsum serta sya’ir yang dikemas melalui nada dan melodi khas dari beliau, para penyair-penyair era modern tersebut menjadi lebih dikenal luas oleh masyarakat, sehingga menjadikan sastra-sastra yang terkandung dalam syair tersebut menjadi kekal dan dapat dinikmati hingga kini.
Beliau secara tidak langsung juga memberikan dampak besar terhadap pelestarian puisi klasik maupun puisi modern, yang biasanya hanya dibaca dalam buku-buku kini menjadi hidup kembali melalui seni musik klasik, serta mempererat identitas budaya Arab dan menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Arab dan sastranya.
Di era prime-nya, hampir di setiap sudut kota di Mesir hingga di desa-desa terpencil banyak masyarakat mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Ummu Kultsum lewat radio klasik, terlebih saat akhir pekan tiba. Tak hanya di Mesir saja, bahkan suara emas Ummu Kultsum menggema ke seluruh negara-negara tetangga, Tunisia, Sudan, Lebanon, Suriah, Yordania, dan seluruh Timur Tengah.
Bahkan, suara emasnya tembus ke pelosok-pelosok Nusantara yang hingga kini pun masih menggema suaranya. Tak jarang masyarakat Nusantara yang mengenalnya dan mendengar lagu-lagu yang dibawakan oleh beliau, terlebih pada kalangan masyarakat Nahdlatul Ulama di pesantren-pesantren yang ada di Nusantara. Di antara ulama-ulama Nusantara yang menjadi pengagum Ummu Kultsum adalah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4 (Jombang); K.H. Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus), Rembang; KH Mahfudz Shiddiq; KH Achmad Shiddiq, putra-putra dari K.H. Muhammad Shiddiq (Jember); Guru Sekumpul; bahkan Syaikhuna K.H. Zuhrul Anam Hisyam. Diceritakan dari salah satu khodimnya, beliau sering mendengarkan nyanyian Ummu Kultsum ketika hendak pergi ke luar kota untuk mengaji dan ketika sedang rehat di ndalem.
Kiai Achmad Shiddiq pernah menyampaikan pandangannya sebagaimana dikutip Munawar Fuad dan Mastuki dalam buku Menghidupkan Ruh Pemikiran Kiai Achmad Shiddiq. Beliau mengatakan, “Manusia memiliki rasa keindahan dan seni sebagai salah satu bentuk aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari pengaturan dan penilaian agama Islam. Oleh karena itu, seni hendaknya terus ditingkatkan mutunya.”
Wafatnya sang legenda dan peninggalannya
Beliau wafat pada 3 Februari 1975 di Kairo akibat gagal ginjal. Ia wafat pada usia 76 tahun. Prosesi pemakamannya di Masjid Omar Makram menjadi peristiwa nasional. Sekitar 4 juta warga Mesir turun ke jalan untuk mengantar jenazahnya. Jumlah ini bahkan lebih besar daripada pemakaman Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser saat itu.
Semua peninggalan Ummu Kultsum, seperti jejak-jejak rekamannya, alat-alat musik, busana-busana yang sering beliau pakai saat manggung, sepatu kuda berbahan silver asli, perhiasan, kacamata hitam khas abad 18 yang diberi ornamen berlian yang menjadi ciri khasnya, serta semua harta milik Ummu Kultsum masih tersimpan rapi di museumnya yang berlokasi di Kompleks Istana Manasterly, di Pulau Roda, Kairo Lama, Mesir.
Ummu Kultsum memanglah bukan sastrawan Arab modern, akan tetapi peran beliaulah yang membuat sastra Arab modern tetap hidup dan melestarikan perkembangan sastra Arab modern. Beliau menjadi jembatan antara penyair era modern dan masyarakat melalui seni musik klasik dan memperkenalkan karya sastra kepada generasi baru. Oleh karena itu, beliau layak dikenang sebagai salah satu tokoh budaya yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan sastra Arab modern.
Daftar Bacaan:
Khafifudin, Akmal. (2020). Berkeislaman dalam Kebudayaan. Alif.id.
NF, Syakir. (2021). Ummi Kultsum dan Lagu Perjuangan untuk Palestina. NU Online.
Soufi-Assaf, Hind. (2008). Umm Kulthum: The Voice of Cairo. Al-Raida Journal, Issue 122–123.
Umm Kulthum. (n.d.). Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia. Diakses pada 1 Agustus 2026, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Umm_Kulthum
Umm Kulthum. (n.d.). Dalam Wikipedia English. Diakses pada 1 Agustus 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Umm_Kulthum
Zaenal, Ali. (2018). Ummi Kulsum, Biduanita Pemersatu Bangsa Arab Lewat Nyanyian. Tirto.id. Diakses pada 1 Agustus 2026, dari [https://tirto.id/ummi-kulsum-biduanita-pemersatu-bangsa-arab-lewat-nyanyian-gF8C]
Zulfa, Munawar Fuad, & Mastuki. (2002). Menghidupkan Ruh Pemikiran Kiai Achmad Shiddiq. Jakarta: LTN PBNU.
Ahmad Mahbub ‘Atoillah lahir di Kebumen tahun 2005. Ia berasal dari Giwangretno, Sruweng, Kebumen. Saat ini ia aktif sebagai mahasantri di Ma’had Aly Andalusia Leler, Banyumas. Ia turut berkontribusi dalam kegiatan UKM Jurnalistik & Literasi sebagai penulis dan editor. Dapat dihubungi melalui Instagram @m4.bobs_.




