
Catatan ini sebagai penanda dari sebuah konser intimate musisi Kunto Aji, “bERANI” UPDATE KEHIDUPAN. Malam intimate itu Kamis 20 Agustus 2026, di LECI CAFÉ Purwokerto. Saat ke-“bERANI”-an menemukan pemiliknya.
Di depan Leci Café, penonton mengular di depan tempat pengecekan tiket. Kerumunan juga di depan bar. Sebagian penonton cuci mata di lapak pernak-pernik di selasar Kedai Batavia. Bangunan Leci Café dengan konsep modern minimalis, bergandengan erat dengan Kedai Batavia dengan gaya kolonial yang masih kental. Penonton lain bercengkerama sambil menikmati kopi. Beberapa kali para penonton itu melirik jam tangan. Ada yang menatap ponsel sejenak, menjeda obrolan. Memastikan, jangan sampai terlewat dari jam 8.
Gilang Ramadhan atau Mas Gram menyapa satu persatu penonton yang hadir. Didampingi Umay Umbara. Mereka adalah tuan rumah dari konser intimate malam itu. Di Purwokerto, Mas Kun sapaan akrab Kunto Aji sudah beberapa kali mengadakan konser. Namun melalui lagu “bERANI”, sang inisiator Urup Festival ini ingin ada konser yang intimate. Sehingga ia bisa banyak menceritakan tentang lagu “bERANI”.
Mas Kun menurut Umay menginginkan konser yang intimate. Lebih banyak berinteraksi dengan penonton secara langsung. Mendengarkan mereka. Menyapa mereka lebih lama. Dan mendengarkan lebih dalam.
Perjalanan “bERANI” Kunto Aji di Purwokerto merupakan bagian dari tur ke beberapa kota. Dan konser yang membicarakan tentang kehidupan, seperti kali ini adalah konser ke 5 setelah pertama kali diadakan tahun 2020 saat pandemi covid. Saat banyak orang menjalani karantina dan isolasi.
Dalam konser UPDATE KEHIDUPAN, kota yang dipilih Mas Kun adalah jenis kota ke 3. Meskipun definisi kota ke 3 menurut Carl Taylor dalam “Third City” tahun 1987 adalah kota yang dibangun oleh komunitas marginal dan berbagai variabel dunia hitam. Mungkin bukan itu yang dimaksud. Mas Kun ingin ada konser yang tidak hanya di kota besar atau metropolitan. Namun di kota yang sedang bertumbuh. Dan Purwokerto, menjadi salah satu kota yang tumbuh pula di hati Mas Kun.
Membuka dengan “Mercusuar”
Mas Kun masuk ke area konser dan langsung menyapa para penggemarnya yang sudah menanti. Mengenakan kaus putih dengan desain gambar tangan buatan Gesang. Gambar kuda dengan tulisan “bERANI”.
Setelah menyapa para penonton, “Mercusuar” menjadi lagu pembuka pertemuan malam itu. Penonton terhanyut sambil lirih mengikuti alunan nada petikan gitar akustik yang Mas Kun bawakan.
Setelah “Mercusuar”, Mas Kun bercerita tentang dirinya yang sedang di fase writer block sebagai penulis lagu. Apalagi melihat kondisi sosial, politik dan kemanusiaan saat ini. Musiknya tidak hanya untuk hiburan. Melainkan musik hasil membaca situasi zaman yang ingin ia sampaikan melalui lirik dan nada.
Sal Priadi dan Bola Golf
“Ada yang sudah nonton video klip “bERANI?, tanya Mas Kun kepada para penonton. Serempak menjawab sudah.
Ia melanjutkan cerita di balik pembuatan video klip, yang mengajak Sal Priadi sebagai aktornya.
“Pada saat saya lagi nulis skrip buat video klipnya, Sal itu lagi sakit mata. Kena bola golf. Bonyok gitulah. Matanya merah”, tutur Mas Kun diikuti tawa para penonton. Akhirnya Sal Priadi ia minta untuk jadi aktor di video klip “bERANI”. Di video klip itu mengisahkan 3 orang yang sedang terpuruk dalam hidupnya dan terus berani berjuang.
“Klip itu kan berisikan seorang mantan kiper, yang gagal jadi atlet, ada juga seorang pekerja perempuan yang terkena PHK. Dan juga kisah yang patah hati, gagal dalam percintaanya”, yang kemudian Mas Kun memetik gitarnya untuk mengajak penonton “bERANI” bersama.
“Melati. . . “
Lagu “bERANI” bagi Aca
Setelah lagu “bERANI” dinyanyikan bersama, seperti keiinginan Mas Kun yang ingin berinteraksi dengan penonton. Dimulailah percakapan pertama.
Penonton yang angkat tangan pertama kali ingin bicara, ternyata sudah mempersiapkan diri.
“Oh dia beneran udah nyiapin loh”, respon Mas Kun.
“Terima kasih banget Mas Kun, aku dinotice” (red: dapat kesempatan pertama).
“Sebelumnya perkenalkan teman-teman semua dan Mas Kun. Nama aku Aca”, ucap penonton itu mengawali pembicaraan.
“Hai Aca”, balas Mas Kun
“Hai”, kata Aca
“Pake Septriasa gak?”
“Enggak, beda-beda. Aku gak main film juga sih. Enggak-enggak, beda-beda Mas Kun”, lanjutnya sambil diikuti tawa penonton.
“Sebelumnya, selamat datang Mas Kun untuk datang lagi di Purwokerto. Di kota kecil yang sudah tidak kecil lagi. Udah gak kecil ya? Udah gak kecil Mas Kun”, tawa penonton masih mengiringi ucapan Aca.
“Udah macet sekarang”, kata Aca.
“Masa sih?”, sanggah Mas Kun.
“Iya, makin banyak coffee shop juga. Street coffee apalagi.”
“Aduh makin banyak,” lanjut Aca.
“Robocop”, celoteh Mas Kun.
“Nyobain Mas Kun. Nyobain ya?” ajak Aca
“Belum-belum. Baru lewat tadi”, sambil Mas Kun tertawa lagi.
Setelah menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Mas Kun atas kesempatan yang diberikan, Aca membagikan perasaannya mengenai lagu “Berani”. Ia mengaku merasa tergerak dan harus mengutarakan hal tersebut agar tidak terus membebani pikirannya.
Dalam momen yang tenang di hadapan para pendengar, Aca mengungkapkan bahwa sosok “Melati” yang sering disebut oleh Mas Kun dalam lagu tersebut sangat merepresentasikan dirinya sendiri. Ia kerap mempertanyakan kelayakan dirinya untuk tetap bertahan dan berdiri di posisinya saat ini, sebuah pikiran yang ia sadari cukup kejam terhadap dirinya sendiri.
Namun, seiring berjalannya waktu dan berbagai pelajaran hidup yang ia lalui, meski berawal dari rasa sakit yang sangat mendalam, Aca akhirnya sadar bahwa ia berhak untuk terus bertahan dan melangkah maju. Ia menegaskan bahwa tidak masalah jika di masa depan ia harus merasa bingung menentukan arah maupun terjatuh berkali-kali, karena hancur bagaimanapun, ia akan tetap menjaga dirinya sendiri. Bagi Aca, lagu tersebut terasa sangat personal dan relevan untuk dirinya, walau ia memahami setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda dalam memaknai lagu tersebut.
“Tepuk tangan dong buat Aca dong”, Kata Mas Kun
“Terima kasih”, tutup Aca.
Kemudian Mas Kun memberikan tanggapan balik.
Lagu “bERANI” dan kata “Melati” di dalamnya dinilai menjadi sarana pengingat penting bagi banyak orang untuk berbicara pada diri sendiri, bahwasanya sehancur apa pun keadaan, mereka akan tetap menjaga diri mereka sendiri.
Mas Kun mengakui bahwa komunikasi intrapersonal bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena tidak semua orang merasa mampu atau kuat secara emosional untuk melakukannya. Ia menceritakan pengalamannya saat mengikuti latihan teater bersama beberapa rekan seperti Igamasardi, Baskara, Sal, dan Nadine, di mana mereka diminta untuk sekadar mendeskripsikan diri sendiri. Momen tersebut terbukti sangat berat hingga membuat pembicara dan beberapa rekannya menangis, menunjukkan betapa banyak orang sering kali menghindari komunikasi dengan diri sendiri karena takut menghadapi kerentanan atau kerapuhan di dalam dirinya.
Meskipun lagu “bERANI” tidak dirancang sedalam lagu-lagu lain seperti “Rehat”, “Sulung”, atau “Bungsu”, Mas Kun mengaku sangat senang dan bersyukur apabila lagu ini mampu menyentuh sisi emosional serta memicu komunikasi intrapersonal bagi para pendengarnya.
Mas Kun berharap dan berdoa, agar apa pun rintangan yang sedang dihadapi oleh kita kelak akan membuahkan hasil, serta segala hal yang sempat hilang atau diambil dari mereka dapat digantikan dengan sesuatu yang jauh lebih baik berkali-kali lipat. Mas Kun mempersilakan lagi bagi siapapun yang ingin didengar. Memberikan kesempatan ke semua penonton.
Kisah tentang “A”
Seorang perempuan bernama A membagikan kisah keberanian terbesar dalam hidupnya saat hadir dalam kesempatan intimate tersebut.
Di hadapan Mas Kun dan para penonton, ia menceritakan perjuangan beratnya melewati dua tahun terakhir setelah menjadi penyintas tindakan kejahatan (KS). Trauma tersebut sempat membuatnya berada di titik terendah hingga hampir mengundurkan diri dari bangku kuliah. Namun, dengan keberanian yang luar biasa, ia bangkit menyelesaikan skripsinya hingga berhasil meraih gelar Sarjana Hukum. Sebuah pencapaian yang ia dedikasikan agar kelak dapat membela dan menolong kaum perempuan yang berada dalam kondisi tidak berdaya.
A juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas karya-karya musik Mas Kun, terutama lagu “Besar dan Besari” yang menjadi motto hidup sekaligus penopang semangatnya hingga berencana melanjutkan studi S2 Hukum.
Menanggapi cerita tersebut, Mas Kun merasa sangat terharu dan mengagumi ketangguhan A, sembari menegaskan bahwa perjuangan A bukan hanya dikuatkan oleh musik, tetapi kisahnya justru balik memberikan inspirasi serta kekuatan bagi orang banyak.

Cerita Fadis, Mas Kun dan Urup Festival
Seorang penonton bernama Fadis membagikan kisah perjuangannya dalam dua tahun terakhir setelah melakukan perjalanan jauh dari Jogja dengan kereta api. Ia menceritakan momen krisis kehidupannya yang berawal dari patah hati berat akibat putus kontak dengan satu-satunya sahabat sejak masa sekolah, yang kemudian mendorongnya untuk mencari bantuan profesional hingga akhirnya didiagnosis mengidap bipolar.
Fadis mengaku pernah beberapa kali harus dilarikan ke IGD karena kondisi pikirannya yang tidak stabil. Meski sempat mengurung diri dan kehilangan arah, Fadis berjuang bangkit dengan memberanikan diri berpindah kerja ke Purwokerto, berkonsultasi dengan psikolog baru, serta belajar menghargai setiap pencapaian kecil dalam hidupnya.
Sebagai pendengar setia lagu-lagu Kunto Aji seperti “Saudade” dan “Mercusuar” yang kerap menemaninya saat rapuh, Fadis juga menceritakan rutinitas uniknya yang selalu mendengarkan konser tahunan Urup dari rumahnya karena harus bekerja shift malam. Fadis kemudian melontarkan pertanyaan mengenai apakah ada kekhawatiran dari Kunto Aji jika lagu atau album terbarunya tidak bisa melampaui kejayaan karya-karya sebelumnya seperti album Mantra-Mantra. Pertanyaan tersebut disambut hangat oleh Kunto Aji yang mengapresiasi keberanian Fadis serta mengundangnya secara khusus untuk bisa hadir langsung di konser berikutnya.
Menanggapi pengalaman Fadis mengenai dinamika berkonsultasi dengan profesional, Mas Kun mengarahkan para pendengar untuk tidak menyerah jika merasa tidak cocok dengan satu tenaga kesehatan mental. Ia menekankan bahwa spektrum penanganan kesehatan mental sangat luas, di mana selain melalui psikolog atau psikiater, seseorang bisa menemukan ketenangan dari alternatif lain seperti meditasi, filosofi stoisisme, hingga olahraga teratur yang memicu hormon positif. Mas Kun mengingatkan agar semua orang tidak menutup diri dan terus mencari metode pemulihan yang paling cocok untuk diri mereka masing-masing.
Mengenai pertanyaan tentang kekhawatiran dalam berkarya, Mas Kun jujur mengakui bahwa rasa khawatir itu pasti ada, terutama karena adanya tanggung jawab terhadap tim manajemen dan anggota band yang hidup dari karyanya. Namun, ia selalu memegang teguh niat awal dalam bermusik dan percaya bahwa karya yang dibuat secara sungguh-sungguh serta tulus pasti akan menemukan pendengarnya sendiri. Ia mencontohkan album “Mantra-Mantra” yang awal rilisnya melawan arus tema pasar, namun terbukti mampu menciptakan ruang diskusi yang erat dan menyatukan komunitas pendengar yang saling menguatkan, seperti saat Urup Festival.
Urup Festival bagi Mas Kun bukan sekadar pertemuan antar manusia. Urup dibentuk oleh berbagai macam energi yang dibawa oleh orang-orang yang datang. Kehadiran yang menjadi penyemangat satu sama lain.
Tahun 2026 ini, Urup Festival memasuki tahun ke 4. Meskipun belum keluar temanya. Penentuan tema adalah hal yang sulit. Namun, Urup Festival akan disempurnakan kembali. Ia berharap Urup Festival jadi tempat penenang bagi siapapun yang datang.
Salah satu yang berkesan saat Urup Festival adalah seluruh yang hadir bernyanyi bersama tanpa musik dan tanpa pengeras suara.
Selain itu, Mas Kun juga menyadari bahwa mengatur banyak manusia itu tidak mudah. Harus saling menurunkan ego. Apapun posisi dan jabatan. Karena jabatan yang tinggi pun, harus tetap mendengar yang di bawahnya.
“Jernih” kemudian Mas Kun bawakan. Penonton kembali terhanyut dalam lirik dan nadanya. Para penonton seolah memeluk dendam masa lalunya. Berusaha berdamai dan melewati prosesnya. Karena yang berat adalah melawan diri sendiri.
Cerita dari Nita, Mas Kun dan Jerapah
Seorang penonton bernama Nita membagikan pengalamannya di hadapan Mas Kun dan para penonton yang hadir. Nita mengawali ceritanya dengan mengenang momen pada tahun 2024 saat ia pernah disapa melalui unggahan Instagram Story oleh Mas Kun karena memberikan hadiah boneka jerapah.
Keikutsertaannya malam itu diwarnai candaan ringan mengenai filosofi jerapah. Bagi Nita yang suka dengan jerapah ini, karena tinggi. Kemudian ia jadikan penyemangat untuk terus tumbuh, yang mana hal itu dianggap selaras dengan cita-cita serta harapan hidupnya untuk bisa terus berkembang dari waktu ke waktu.
Filosofi mengenai pertumbuhan tersebut juga menjadi landasan utama bagi Nita dalam menjalankan bisnis toko bunganya yang bernama Flora Seya. Ia menjelaskan bahwa nama tokonya diambil dari bahasa Spanyol yang memiliki arti berkembang. Itu sesuai dengan impiannya bersama sang mitra bisnis, untuk terus memajukan usahanya secara bertahap.
Meskipun bisnis toko bunga yang berlokasi di daerah jalan kampus dan sudah cukup populer dan memiliki banyak pelanggan, Nita mengaku kerap menghadapi berbagai dinamika serta tantangan harian sebagai seorang pemilik usaha.
Di balik rasa lelah dan keinginan untuk menyerah akibat berbagai permasalahan operasional maupun tim kerja yang terjadi setiap hari, Nita menyadari bahwa keberadaan para anggotanya justru menjadi alasan utamanya untuk tetap bertahan. Ia memahami bahwa para timnya, yang seluruhnya adalah perempuan, memiliki berbagai kebutuhan hidup serta tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga yang menggantungkan harapan pada usahanya. Nita merasa bangga atas kerja keras dan dedikasi timnya, sembari menegaskan komitmennya untuk terus berjuang demi masa depan bersama.
Sebagai penutup perbincangannya, Nita mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan para pendengar serta menyampaikan lagu favoritnya, yaitu “Urup”. Lagu tersebut menjadi salah satu pendorong semangat baginya untuk bangkit kembali setiap kali menghadapi hari yang berat, karena memberikan pengingat bahwa selalu ada kesempatan baru di hari esok. Interaksi penuh kehangatan tersebut kemudian ditutup dengan apresiasi dan tepuk tangan meriah dari Mas Kun serta seluruh penonton yang hadir.
Setiap lagu Kunto Aji dibangun dengan emosional yang dekat. Ia mencontohkan, lagu “Pilu Membiru” adalah lagu yang paling berat secara emosional baginya.
Lagu itulah yang dibawakan sebelum berinteraksi kembali dengan penonton yang hadir di Leci Café Purwokerto malam itu.

Cerita dari Seorang Ibu yang Kuat
Seorang penonton bernama Dewi membagikan kisah perjuangan hidupnya yang sangat menyentuh di hadapan Mas Kun dan para penonton. Ia mengawali ceritanya dengan mengenang momen pada tahun 2024 saat menghadiri konser “Perjalanan Menawar Racun” di Semarang bersama sang suami.
Momen tersebut menjadi titik balik setelah enam tahun menjalani program kehamilan tanpa hasil, hingga secara ajaib, seminggu seusai menyaksikan konser tersebut, Dewi dinyatakan positif hamil. Kebahagiaan pasangan ini pun memuncak ketika putra pertama mereka yang diberi nama Sotya Dirganiasa Masita lahir pada bulan April 2025.
Namun, penantian panjang itu diuji ketika anak yang dinantikan ternyata terlahir sebagai penyandang down syndrome. Sebagai seorang tenaga kesehatan di bidang fisioterapi yang biasa menangani anak berkebutuhan khusus, Dewi sempat merasa bingung, terpukul, dan mempertanyakan takdir. Meski di awal terasa sangat berat karena harus bolak-balik ke rumah sakit untuk pemeriksaan organ vital sang buah hati, Dewi dan suaminya perlahan bangkit. Mereka menanamkan keyakinan bahwa kehadiran anak tersebut bukanlah hukuman atas dosa, melainkan wujud kepercayaan dan kasih sayang Tuhan yang dititipkan kepada mereka.
Dengan penuh rasa bangga, Dewi menceritakan bahwa berkat ketabahan serta keterampilannya, sang anak menunjukkan perkembangan pesat dan sudah mulai bisa merembet di usia 16 bulan. Pengalaman ini membuatnya merasa berani dan utuh menjalani peran sebagai ibu dari anak berkebutuhan khusus. Mendengar ketegaran tersebut, Mas Kun menyampaikan apresiasi yang mendalam serta meyakinkan Dewi bahwa tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini. Mas Kun beserta seluruh penonton pun memberikan doa dan dukungan penuh agar Dewi dan suaminya selalu diberikan kekuatan, keberanian, serta kebahagiaan dalam merawat buah hati mereka.
Dipeluk oleh Lagu-lagu Kunto Aji
Percakapan malam itu dilanjutkan oleh penonton bernama Anna. Ia membagikan kisah perjuangan hidupnya yang sangat berat di hadapan Mas Kun dan para penonton. Anna mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam atas rilisnya lagu “bERANI”, yang baginya menjadi tempat nyaman untuk menenangkan dan menguatkan diri.
Ia menceritakan bahwa tahun 2025 menjadi fase terberat dalam hidupnya setelah kehilangan ibunya pada bulan Maret, disusul kepergian ayahnya pada bulan Oktober. Duka mendalam tersebut kian bertambah ketika seminggu setelah menjadi yatim piatu, hubungan asmaranya yang penuh cobaan juga harus berakhir, hingga membuat dunianya terasa runtuh seketika.
Meski harus bangkit dari puing-puing kehancuran tersebut, lagu “bERANI” memberi kekuatan bagi Anna untuk tetap bertahan hidup dan bersyukur masih berdiri tegar hingga hari ini.
Karya-karya Mas Kun diakui telah menemani perjalanan emosionalnya sejak tahun 2020 saat ia merasa kehilangan arah. Saat mendengarkan lagu “Sulung” di acara tersebut, tangis Anna tak terbendung mengingat kini ia terpaksa mengambil peran sebagai kepala keluarga untuk kedua adiknya, sebuah tanggung jawab besar yang tidak pernah ia duga sebelumnya namun harus ia jalani.
Mendengar penuturan tersebut, Mas Kun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas keberanian serta kekuatan luar biasa yang dipancarkan oleh Anna. Mas Kun meyakinkan Anna bahwa kedua adiknya pasti sangat bangga memiliki sosok kakak yang begitu tangguh.
Suasana haru tersebut kemudian ditutup dengan momen hangat dan candaan ringan saat Anna menyampaikan dirinya sedang mengenakan kaus merchandise dari musisi lain, Sal Priadi, yang disambut tawa oleh Mas Kun serta seluruh penonton yang hadir.
Mas Kun dan Percakapan di Purwokerto
Dalam konser “bERANI” UPDATE KEHIDUPAN di Kamis malam itu, Mas Kun membawakan 10 lagu. Sedangkan “bERANI” dibawakan sebanyak dua kali. Selain itu, ada banyak percakapan atas perjumpaan antara Mas Kun dan penggemarnya. Ada cerita yang tertumpah. Ada tawa yang saling dibagikan. Ada do’a yang saling mengaminkan. Ada air mata yang tertahan. Ada juga yang tetap meluapkan meskipun berusaha ditahan.
Sekali lagi Bagi Mas Kun, lagu bukan hanya untuk hiburan. Lagu baginya adalah saat kita tidak mampu mengungkapkan dengan bahasa dan kata-kata yang vulgar. Lirik dalam lagu bisa mewakili emosi yang tertahan namun ingin ditumpahkan. Seperti dalam sebuah video saat Feri Amsari yang menyampaikan luapan emosinya dengan air mata, saat Mas Kun menyanyikan “bERANI”.
“Terlalu Lama Sendiri” menjadi penutup perjumpaan pada malam itu. Menjadi penanda bahwa semua harus kembali ke kehidupannya masing-masing.
Dan untuk Mas Kun, jika ada apa-apa, datanglah ke Purwokerto (lagi) untuk menjeda. Lalu “bERANI” bersama-sama.
Ini adalah catatan reportase yang kami kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber. Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada catatan ini kecuali seizin tim redaksi. Mari kita dukung kerja media partner yang mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.

dari Banyumas menyapa Indonesia




