
Identitas arsip: Yusroni Henridewanto, Heddy Lugito, dan Hetty. “Antara Martabat dan Ngojek”. Majalah TEMPO, No. 24, 12 Agustus 1989, Kolom Pendidikan, hlm. 33.
TERNYATA akar permasalahan 37 tahun yang lalu, belum selesai. Majalah TEMPO No. 24 Edisi 12 Agustus 1989 dalam “Kolom Pendidikan”, menulis tentang dua orang guru. Kolom itu berjudul “Antara Martabat dan Ngojek”. Guru itu adalah Ichwanto dan Mujib. Guru di SMP Muhammadiyah 11 Cilongok yang menyambi ngojek pangkalan. Kini, sekolah itu menjadi SMP Muhammadiyah 1 Cilongok.
Kebutuhan ekonomi dan kecilnya gaji guru, membuat mereka mencari solusi. Mencari penghasilan tambahan, dengan ngojek adalah solusi yang mereka pilih. Meskipun dinilai merendahkan martabat guru. Ada kekhawatiran stigma di masyarakat, siswa ternyata diajar oleh tukang ojek. Juga ada kekhawatiran, siswa akan terabaikan saat jam pelajaran.
Akhirnya, Ichwanto yang saat itu berusia 29 tahun dan Mujib 31 tahun, dibebastugaskan. Mereka tetap datang ke sekolah setiap pagi hingga jam pulang. Namun tidak mendapatkan jam mengajar.
Ichwanto dan Mujib adalah guru pegawai negeri. Mereka guru yang diperbantukan di sekolah swasta. Setelah kisahnya dimuat TEMPO, peristiwa itu menjadi guncangan bagi stabilitas pemerintah daerah. Karena Ketua Umum PGRI (Basyuni Suriamiharja) dan Menteri P dan K (Fuad Hassan), kini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, turut berkomentar. Sebenarnya keduanya tidak mempermasalahkan, asalkan tugasnya mengajar tetap dilaksanakan dengan baik.
Hal yang menjadi sorotan kami adalah di akar permasalahan. Bukan tentang martabat guru, bukan guru yang mengojek, bukan pula polemiknya. Namun sejak 37 tahun yang lalu, ternyata permasalahan kesejahteraan guru bukan menjadi prioritas pemerintah. Ichwanto dan Mujib adalah pegawai negeri golongan 2-B saat itu. Ada gaji dari negara, namun belum mencukupi.
Lalu, bagaimana dengan yang honorer? Sampai sekarang, guru -terutama yang honorer- masih berjuang hidup dengan gaji kecilnya. Padahal, ada tanggung jawab mendidik generasi penerus bangsa.
Ternyata hanya “apa” yang menjadi prioritas negara.
***
Lantas, bagaimana kini kabar mereka? Dua sosok guru yang 37 tahun yang lalu menjadi cerminan antara martabat dan realitas atas kebijakan struktural dunia pendidikan. Berbekal rasa penasaran, kami menelusuri mereka. Kami mulai menggali informasi dari berbagai pihak. Di bulan yang sama saat berita di TEMPO itu terbit, kami berhasil bertemu dengan mereka secara terpisah.
“Benar dengan Pak Mujib yang dulu guru di SMP Muhammadiyah Cilongok, yang pernah masuk TEMPO?”, kami mengawali pembicaraan. “Betul mas”, jawabnya sambil tersenyum. Ia sangat senang dengan kedatangan kami setelah menunjukkan salinan berita yang memuat dirinya. “Ini arsip yang saya cari-cari. Dahulu setelah dimuat, saya dikasih majalahnya. Tapi ada yang pinjam dan belum dikembalikan,” ucapnya sambil tertawa mengenang peristiwa 37 tahun yang lalu.
“Saat masih di SMP Muhammadiyah, meskipun tanpa jadwal mengajar, saya tertib masuk mas. Pulangnya baru ngojek,” ujar kakek yang saat kami temui ditemani dua cucu kembarnya. Usia mereka masih 4 tahun. Cucunya perempuan semua.
Penghasilan menjadi tukang ojek setiap harinya saat itu sangat besar. Belum banyak orang yang punya kendaraan pribadi. Angkutan umum hanya di jalan-jalan besar.
Mereka biasa membawa penumpang sampai lintas kecamatan. Mujib juga mengenang jika jalan yang dilalui tidak seperti sekarang. Masih jalan berbatu dan menanjak. Semakin jauh tujuan penumpang, semakin jadi favorit dirinya dan tukang ojek lain. Apalagi hari lebaran.
“Lebih ramai lagi kalau lebaran mas, bisa tidak putus yang naik ojek”, kenangnya.
Ia lantas menelpon Ichwanto. Menyampaikan tentang kedatangan kami.
“Di pertigaan jalan itu awal mulanya tidak ada pangkalan ojek. Namun ada tukang ojek yang berhenti, lalu dapat penumpang. Ganti hari, orangnya mangkal lagi di situ. Akhirnya saya ikut,” ujar Ichwanto, saat kami temui di rumahnya.
Mereka biasa mangkal di pertigaan jalan Pernasidi. Depan Masjid Baitul Mattien yang hanya beberapa meter dari SMP Muhammadiyah 11 Cilongok.
“Jadi saya itu tukang ojek kedua, setelah itu Mujib. Total sampai ada 6 pengojek waktu itu,” kenangnya sambil tertawa.
Di kemudian hari, dampak kejadian itu, dua guru tersebut ditarik ke dinas. Sebelum akhirnya mengajar di sekolah berbeda. Mujib di SMP N 1 Baturraden, sedangkan Ichwanto di SMP N 1 Gumelar. Meskipun masih di kabupaten yang sama, namun jarak tempuh yang jauh membuat mereka tidak bisa sambil mengojek kembali.
Mereka bercerita tentang beratnya menghadapi polemik di tahun itu. Meskipun jiwa muda Mujib dan Ichwanto memberontak atas kebijakan yang menimpa mereka. Tapi mereka memilih untuk tidak melawan.
“Kami akhirnya mengalah mas. Manut dengan kebijakan pemerintah”, kenang Ichwanto.
Beberapa tahun kemudian, Ichwanto yang guru IPA mengajar di SMP N 3 Ajibarang. Lebih dekat dengan rumahnya. Disusul oleh Mujib yang mengajar Bahasa Indonesia di sekolah yang sama dengan Ichwanto. Mereka bertemu kembali di satu sekolah.
Kini di usia pensiun mereka banyak mengambil hikmahnya.
Mujib bersyukur dikaruniai dua cucu perempuan kembar yang menemaninya. Ia pensiun tahun 2018 dengan golongan cukup tinggi meskipun bukan sarjana. Sedangkan Ichwanto selepas kejadian itu, mendapat kesempatan kuliah dari negara.
“Saya rasakan, setelah itu, karir saya sangat mudah naik. Termasuk punya kesempatan kuliah gratis yang sebelumnya saya cuma tamatan PGSLP, dapat uang saku dan uang makan juga,” tutur Ichwanto yang telah pensiun tahun 2020.
“Harta saya yang paling berharga ya dua cucu ini mas. Meskipun 40 miliar, tidak akan saya jual,” kelakar Mujib saat kami berpamitan.

dari Banyumas menyapa Indonesia




