
Di sebuah kamar pondok bernomor empat memiliki penghuni dua anak santri, yaitu aku dan kakak tingkat yang bernama Lani. Berbeda dengan aku yang masih mahasiswi, sedangkan Kak Lani sudah lulus kuliah dan bahkan sudah memiliki pekerjaan menjadi guru IPA. ia tetap tinggal di pondok, mungkin Kak Lani merasa nyaman tinggal di sini dan masih ingin dekat dengan lingkungan pondok.
Awalnya aku merasa senang bisa sekamar dengan seseorang yang pastinya mempunyai banyak pengalaman di masa kuliah. Aku berharap bisa belajar banyak darinya, baik tentang perkuliahan ataupun kehidupan setelah lulus nanti. Namun, seiring berjalannya waktu, ada satu hal yang membuatku merasa ngganjel dan tidak nyaman dengan kelakuan Kak Lani.
Di sudut kamar, tepat di dekat tempat tidurku, ada banyak sekali pakaian yang tergantung milik Kak Lani. Bukan hanya satu atau dua baju, tetapi hampir satu tali gantungan penuh. Di gantungan milik Kak Lani ada berbagai jenis kain, ada handuk, rok, celana, baju, kerudung, semuanya tergantung di gantungan keramat itu. Sebagian pakaian sudah lama tergantung dan sebagian lainnya terlihat seperti pakaian baru saja dipakai. Setiap harinya seakan jumlahnya semakin bertambah dan menimbulkan bau yang tidak sedap.
Awalnya aku mencoba untuk bersabar dan memakluminya. Karena Aku pikir Kak Lani tidak mencucinya mungkin sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga belum sempat mencucinya atau membereskan pakaiannya. Setiap pagi ia berangkat bekerja dan baru kembali menjelang malam.
Namun, hari demi hari berlalu keadaan tetap sama, pakaian-pakaian tersebut masih menggantung di sudut kamar. Kamar yang tidak terlalu luas terasa semakin sempit dengan adanya tumpukan pakaian milik kak Lani. Tidak hanya itu, pakaian yang menumpuk dan tergantung terlalu lama membuat ruangan menjadi pengap dan terkadang menimbulkan bau yang kurang sedap.
Aku ingin menyampaikan keluhanku kepada kak Lani. Berkali-kali aku menyusun kalimat dalam kepala.
“Kak, maaf mungkin bajunya bisa dirapikan sedikit?”
Namun setiap kali aku melihat kak Lani, seolah-olah kata-kata yang sudah aku siapkan menghilang begitu saja. Aku takut dianggap tidak sopan atau kurang menghormati kakak yang lebih tua.
Pada akhirnya, aku memilih untuk diam. Aku hanya bisa memandangi deretan baju yang menggunung dan terus bergantung. Aku muak sekali, tetapi aku hanya bisa menghela napas dan berharap suatu hari semuanya akan berubah.
Suatu hari, ada kabar bahwa Umi, selaku pengasuh pondok, akan memeriksa kamar mandi setiap komplek. Karena ada laporan mengenai kebersihan dan kerapian yang perlu ditindaklanjuti. Sejak mendengar kabar itu, aku melihat Kak Lani menurunkan beberapa pakaian dari gantungan. Supaya Umi tidak melihatnya, mungkin kalau Umi melihatnya Kak Lani akan diceramahi dan dinasehati seharian oleh Umi.
Aku merasa lega, sudut kamar yang biasanya penuh mulai terlihat lebih rapi. Dalam kepalaku aku pikir pakaian-pakaian itu mungkin akan dicuci atau dibawa ke laundry. Namun ternyata aku salah.
Sore itu, ketika kembali ke kamar, aku melihat sebuah tas besar terselip di bawah ranjangku. Karena aku penasaran, aku membuka sedikit resletingnya. Betapa terkejutnya aku saat melihat isinya. Ternyata isi tas itu penuh dengan pakaian milik Kak Lani yang sebelumnya tergantung di sudut kamar.
Aku hanya bisa menghela napas. Ternyata pakaian-pakaian itu tidak dicuci. Semuanya hanya dipindahkan ke dalam tas besar dan diletakkan di bawah ranjangku agar kamar terlihat lebih rapi. Aku merasa sedikit kesal dan ingin protes, tetapi sekali lagi aku tidak sanggup mengatakannya kepada Kak Lani.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya liburan pondok pun mulai tiba, sebelum liburan pondok mengadakan kegiatan bersih-bersih dan pengurus pondok melakukan pemeriksaan kebersihan kamar. Seluruh penghuni kamar diminta memastikan kamar mereka dalam keadaan bersih dan rapi.
Ketika pengurus memasuki kamar kami, mereka memeriksa setiap sudut ruangan yang ada di kamar hingga akhirnya melihat area bawah ranjang, salah seorang pengurus menemukan tas besar berupa berisi tumpukan pakaian.
“Ini tas di bawah ranjang punya siapa?” tanya pengurus dengan wajah yang lumayan ketus.
Kak Lani menjawab pelan dan menahan rasa malu bahwa tas itu miliknya.
Pengurus kemudian menegur kami agar menjaga kerapian kamar dengan baik. Menyimpan pakaian dalam jumlah banyak di bawah ranjang bukanlah solusi, karena hanya memindahkan masalah tanpa benar-benar membereskannya.
Setelah pengurus keluar, suasana kamar menjadi hening. Kak Lani terlihat malu. Ia kemudian mengeluarkan pakaian-pakaian dari dalam tas dan mulai melipatnya satu per satu.
“Maaf ya,” katanya pelan. “Seharusnya dari dulu aku membereskannya.”
Aku tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa, Kak.”
Meski hanya singkat, aku merasa lega. Keluhan yang selama ini tidak pernah berani kusampaikan akhirnya tersampaikan dengan cara yang tidak terduga. Dari kejadian itu, aku belajar bahwa memendam perasaan terlalu lama tidak selalu baik. Terkadang, berbicara dengan sopan justru dapat membantu menyelesaikan masalah dan membuat hidup bersama menjadi lebih nyaman.
Pesan moral: menegur seseorang dengan sopan bukan berarti tidak menghormati orang lain. Komunikasi yang baik dapat membantu menyelesaikan masalah dengan lebih bijaksana tanpa menimbulkan kesalahpahaman
Faizatul Multazam, lahir di Kebumen, tahun 2008. Saat ini, sedang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di Universitas Negeri Islam Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Ia merupakan santri dari Pesantren Mahasiswa Annajah Purwokerto. Ia merupakan alumni MAN 1 Kebumen. Alamat rumah di Dukuh Wanasara, Desa Kemangguan, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Bisa dihubungi melalui kanal sosial medianya di Instagram @fza.mltzm.




