Rahasia di Balik Roll Film

Sejujurnya, aku bukan orang yang mudah untuk bergaul dengan orang-orang baru. Tapi di tempat itu, aku jadi mengenal banyak orang termasuk Esha, anggota divisi dokumentasi yang tidak bisa dipisahkan dengan kamera analog yang selalu dibawanya. Dirinya sudah lebih dulu masuk Unit Kegiatan Mahasiswa Seni ini sebelum aku masuk, oleh karena itu dia sering membantu dan mengarahkan anggota-anggota baru dalam kegiatan.

Seiring berjalannya waktu, aku dan Esha menjadi semakin dekat dan mulai tumbuh perasaan di antara kita berdua.

“Ra, lihat sini deh.”
Aku menoleh karena merasa terpanggil
Cekrek..
“Ih kak, kenapa difoto? Pasti hasilnya ga bagus ya?”
“Bagus kok, cantik.”
“Mana lihat.”
“Gamau…” Esha berlari menghindar.
“Kak… aku mau lihat dong!”
Aku sudah berusaha mengejarnya, tapi tubuhku sudah lelah sehabis acara.
“Ah sudahlah.” Aku menyerah.
Esha terkekeh melihatku tidak bisa mengejarnya.
“Ra, aku mau ambil roll film lagi ya di gudang.” Serunya.
“Oke.”

Esha masuk ke gudang secretariat untuk mencari stok roll film lagi, karena miliknya sudah hampir habis. Dalam gudang banyak sekali kotak dan minim pencahayaan. Akhirnya dia mengeluarkan ponselnya dari saku untuk menyalakan senter, kemudian ia mulai mencari di rak satu persatu.

Tapi ada satu kotak berwarna pink pastel yang menarik pandangannya. Esha pun mengambil kotak tersebut. 

“Eh, kotak apa ini?”

Karena rasa penasarannya akhirnya Esha membuka kotak tersebut. Ternyata di dalamnya ada beberapa roll film, sebelah sepatu bayi perempuan, dan sebuah kalung. Esha mengambil kalung itu, di liontinnya ada sebuah kalimat dalam bahasa asing 

Meine Tochter.

***

Di sisi lain, aku yang sedang membereskan beberapa barang, pandanganku tertuju pada sebuah piano tua yang ada di sudut ruangan itu mengingatkanku pada ibu. Dulu, dia pernah mengajarkan aku sebuah trik sederhana, yang mana katanya jika kedua tuts paling ujung ditekan secara bersamaan akan ada sesuatu yang muncul.

Karena penasaran, aku mendekat ke arah piano tersebut dan duduk di depannya. Kemudian aku mencoba menekan kedua tuts piano paling ujung itu secara bersamaan seperti yang dulu ibu ajarkan.

Suara kecil muncul dari bawah piano. Sebuah laci rahasia perlahan terbuka, menampilkan sebuah box kecil dengan gambar bunga lily di atasnya. Lalu aku membuka box itu, di dalamnya ada sebuah kertas yang berisi sebuah tulisan.

Bagaimanapun keadaan kita sekarang, aku akan tetap mencintaimu.” -Anas

Aku terdiam menatap kertas itu. Kalimat sederhana yang ditujukan untuk seseorang, entah siapa. 

***

Sore itu, Esha mengajakku ke ruang sekretariat, kemudian ia memutarkan sebuah proyektor tua yang ia pinjam dari ruang dokumentasi. Perlahan gambar-gambar dari roll film yang mulai bergerak, menampilkan video dua mahasiswa mengenakan almamater yang sama, mereka tersenyum sambil saling menatap. Keduanya tampak akrab hingga beberapa teman mereka bersorak dari balik kamera. 

“Pasangan paling serasi di kampus!”
“Kalau mereka ngga nikah, aku yang paling kecewa sih!”


Hening…
“Perempuan itu… ibu? Lalu laki-laki itu siapa?”
“Papaku.”

Tanganku menggenggam erat ujung bajuku.
“Jadi… Mereka benar-benar pernah bersama.”
Esha menghela napas panjang.

“Iya, dulu aku pernah diceritakan sedikit oleh papa tentang masa lalunya. Dulu papaku dan ibumu itu termasuk mahasiswa berprestasi di kampus, sehingga mereka berdua mendapatkan beasiswa di kampus ini. Kemudian hubungan mereka semakin dekat semenjak mengikuti organisasi lalu mereka menjalin hubungan, dan jadi couple famous di kampus.”

“Terus kenapa mereka putus?”

“Kakekku tidak menyetujui hubungan mereka berdua. Papaku berasal dari keluarga yang berada, sedangkan ibumu dari keluarga yang sederhana. Keluarga papa menganggap kalau hubungan mereka itu diteruskan hanya akan merusak citra baik keluarga. Mereka dipaksa untuk mengakhiri hubungan. Setelah putus, kakek langsung menjodohkan papa dengan mamaku.”

Mendengar hal itu aku langsung teringat pada surat yang kutemukan di box kecil dari piano.  Mataku mulai berkaca-kaca.

“Jadi… surat itu untuk ibuku?”
Esha mengangguk “Iya, dan itu papaku sendiri yang menulisnya.”

Kemudian Esha menyodorkan kotak pink pastel yang ia temukan itu kepadaku. Aku langsung membukanya, di dalamnya terdapat sebelah sepatu bayi perempuan dan sebuah kalung.  Aku mengambil kalung itu. Aku melihat ada sesuatu tertulis di liontinnya “Meine Tochter.

“Artinya, anak perempuanku.”

Aku membeku.

“Ternyata papa masih menyimpan semua hal tentang ibumu. Bahkan setelah dia menikah.”

Esha menatap layar proyektor yang menampilkan gambar papanya sedang memandang ibuku dengan tatapan penuh penyesalan tanpa ada senyum yang terukir di wajahnya.

“Aku baru paham sekarang, kenapa selama ini rumahku terasa hampa dan tidak bahagia. Mama sering merasa papa itu tidak benar-benar mencintainya.” Ucap Esha.

Aku terdiam mendengar hal tersebut.

“Dua tahun belakangan, mamaku mengalami depresi yang cukup parah hingga ia harus minum obat setiap waktu. Lalu pada suatu malam, mama merasa sangat stress dan ia meminum obat lebih dari yang dianjurkan dokter, dan akhirnya mama meninggal karena overdosis.”

Ruangan kembali hening. 

Tidak ada yang saling menyalahkan.

Yang tersisa hanyalah dua orang yang sedang berkutik dengan pikirannya masing-masing. Mereka baru saja mengetahui orang tua mereka pernah dipenuhi cinta, penyesalan, dan keputusan yang tidak pernah benar-benar mereka inginkan. Mereka juga baru mengetahui fakta bahwa mereka masih terikat dalam satu keluarga.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top