
Seorang manusia bernama Adam tengah duduk manis di bawah pohon Thuba yang kokoh dan rindang. Ia tidak sendiri, di sampingnya berjejer para bidadari yang sangat cantik, sungguh tak bisa digambarkan dengan kata-kata kecantikan para bidadari pendamping Adam, dan setiap bidadari itu juga mempunyai 50an asisten bidadari yang tak kalah cantik. Mereka selalu setia menemani Adam ke manapun pergi. Semua permintaan Adam selalu dipenuhi.
Adam memang diberi wewenang untuk melakukan apapun di surga, mandi di sungai susu, berteduh di bawah pohon rindang, makan buah-buahan termanis, hingga memanjat gunung emas. Hanya satu hal yang tidak boleh dilakukan Adam. Yaitu mendekati wanita bernama Hawa.
Suatu ketika saat Adam diterpa kebosanan, ia berjalan-jalan mengelilingi tepi Telaga Kautsar, ia memandang sekitar, dan matanya tertuju kepada seorang perempuan yang tengah membasuh muka di tepi telaga. Perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah Hawa, seorang yang harus Adam jauhi. Ia mengarahkan kakinya menuju Hawa, baru beberapa langkah, ia teringat dengan larangan Tuhan. Dengan berat hati, ia balik arah, menjauhi Hawa.
Dalam perjalanan tanpa arah, Adam melihat Azazil tengah bersantai di bawah pohon Tin. Ia langsung terduduk di sebelah Azazil.
“Hei Adam, ada apa gerangan? Kenapa mukamu lesu sekali?” Azazil mencoba bertanya, tapi Adam hanya diam.
“Ya sudah, jika kau memang tidak mau bercerita, aku akan pergi” Sebelum Azazil berdiri, tangan Adam menahan Azazil.
“Tunggu dulu Azazil, aku mau cerita”
“Nah begitu, jadi ada apa?”
“Hatiku gundah, resah, gelisah”
“Lucu sekali kau, Surga dan semua isinya kan sudah menjadi milikmu, kau boleh melakukan apapun, Bidadari-bidadari juga setia menemanimu. Hidupmu sudah sempurna”
“Kau salah Azazil, ada satu hal yang tidak boleh aku lakukan?”
“Apa itu Adam?”
“Mendekati Hawa”
“Jangan membuatku tertawa, para bidadari jauh berkali lipat lebih cantik dari Hawa, dan jumlah mereka ratusan, bahkan ribuan, masa gara-gara satu perempuan hidupmu gelisah”
“Tapi Hawa berbeda dengan para bidadari, saat aku melihat Hawa, hatiku bergetar, ia seperti mata air di tengah padang yang tandus”
“Hemmm”
“Apakah kau mau membantuku mendekati Hawa?”
“Bagaimana ya, Aku tidak berani melawan perintah Tuhan”
“Kali ini saja, kau cukup mengatur waktu untuk mengajak Hawa ke suatu tempat, nanti aku sudah menunggu di sana” Adam merengek seperti anak kecil. Azazil mengangguk.
Tak berselang lama, Azazil menemui Hawa yang tengah memetik buah di taman Eden.
“Hawa, bolehkah aku meminta tolong”
“Ada apa Azazil? Aku akan sangat terhormat bila bisa membantu makhluk taat sepertimu”
“Aku mau kau menemaniku memetik buah di balik Jabal Uhud”
“Oh begitu, dengan senang hati Azazil”
Mereka berdua berjalan menuju Jabal Uhud. Sampai di Jabal Uhud, Hawa terkejut, Adam sudah berada di sana. Adam menatap Hawa, mereka saling tatap, Ada suasana canggung, Hawa menatap sekitar, ia mencari Azazil, namun Azazil hilang seperti dibawa angin. Mereka kembali saling tatap. Adam mencoba memulai obrolan.
“Hawa, maafkan aku”
“Maaf untuk apa?”
“Aku yang sudah menyuruh Azazil membawamu ke sini”
“Emm, memangnya ada apa ya?”
“Aku hanya ingin bertemu denganmu, entah mengapa, saat menatapmu, hatiku tenang, damai, aku tidak tahu perasaan itu. Mungkin memang kau tercipta untuk menemaniku” Hawa terdiam, selama ini sebenarnya ia juga mengagumi Adam, akan tetapi ia takut dengan larangan Tuhan.
“Maukah kau bersedia berada di sisiku? Menikmati Surga Firdaus sepanjang hari?” Dengan sangat pelan, Hawa mengangguk.
Dan seperti cerita-cerita romantis, Adam dan Hawa berlarian menikmati Surga Firdaus, memakan buah bersama, mandi di sungai susu berjemur di Jabal Uhud, hingga rebahan di bawah pohon Thuba.
Hingga suatu ketika, suasana di Surga Firdaus mendadak mencekam, awan hitam menyelimuti langit, Suara angin mendadak berhenti, aliran sungai juga berhenti. Tuhan muncul di hadapan Adam dan Hawa.
Aku sudah melarang kalian untuk bertemu dan menjalin kasih. Tidak ada ampunan lagi buat kalian. Mulai detik ini kalian akan kuturunkan ke Bumi
Tiba-tiba pakaian Adam dan Hawa hilang, mereka telanjang, dan sedetik kemudian mereka sudah berada di bumi, berpisah ribuan kilometer. Tidak sampai di situ, Tuhan memanggil Azazil, Tuhan tahu, Azazilah yang membantu Adam untuk bertemu dengan Hawa.
Azazil, mulai sekarang kau juga bukan lagi penduduk Surga, kau akan tinggal di Bumi bersama pasukanmu, menggoda Adam dan para keturunannya, dan namamu sekarang adalah Iblis
***
“Begitulah kisah manusia pertama yang turun ke bumi” Ayah menutup ceritanya. Aku dan adikku masih diam tak berkedip. Mencerna semua yang masuk lewat telinga kami.
“Masih mau tanya lagi?” Ayah membuyarkan imajinasiku.
“Tapi kok ceritanya agak berbeda dengan yang biasanya diceritakan oleh pak guru di sekolah ya” Aku mencoba berpendapat. Adikku, Rusdi yang baru kelas tiga SD hanya manggut-manggut seolah memahami semua yang kami katakan.
“Itu kan sekadar cerita, kita tidak tahu mana yang benar, mana yang salah. Kita cukup mengambil hikmahnya saja. Belakangan banyak juga cerita dan hadis yang dikarang oleh orang-orang Yahudi agar orang Islam terpecah belah. Makanya kalian berdua harus banyak baca buku, punya wawasan yang luas supaya tidak mudah ditipu orang lain”
“Baik, Yah” Aku dan adikku menjawab bersamaan.
Bayu Prakoso seorang lelaki beruntung yang lahir dan tumbuh di kota kecil sejuta keindahan, Kebumen. Sejak kecil menyukai sepak bola, musik dan tentu dunia literasi. Bayu dapat dihubungi melalui Instagram @BayuPrakoso74




