
Pernahkah Anda menyadari, tangan ini begitu ringan membuka aplikasi pesan-antar makanan, tetapi begitu berat mengangkat buku yang sudah dua minggu tergeletak di meja? Saya mengalami hal ini hampir setiap hari. Untuk jajan, saya langsung bergerak tanpa berpikir panjang. Tapi untuk membaca buku kuliah, baru beberapa halaman, mata sudah mengantuk, pikiran sudah melayang entah ke mana. Padahal keduanya sama-sama cuma butuh niat untuk mulai. Jadi kenapa rasanya effort keduanya bisa jauh berbeda begini?
Saya masih ingat betul satu hal yang, kalau dipikir-pikir lagi, lucu juga. Waktu itu sedang ramai voucher TikTok untuk jajan, dan entah kenapa saya begitu terobsesi mendapatkannya. Sampai mengajak teman ke sana kemari, ikut war voucher bareng-bareng, demi potongan harga yang sebenarnya juga tidak terlalu besar. Semua energi dan waktu saya habis untuk itu. Sementara buku kuliah yang seharusnya saya baca tetap terbengkalai di tumpukan rak, tidak tersentuh sama sekali. Padahal kalau dipikir-pikir, usaha yang saya keluarkan untuk berburu voucher itu jauh lebih besar dibanding usaha untuk sekadar membuka buku kuliah dan membaca satu halaman saja. Tapi entah mengapa, yang satu terasa ringan dan menyenangkan, sedangkan yang satu terasa berat padahal sebenarnya jauh lebih sederhana.
Dari situ saya jadi berpikir, ini bukan soal saya malas atau tidak punya semangat belajar. Ini lebih ke soal seberapa cepat hasil yang bisa kita rasakan dari sebuah aktivitas. Berburu voucher dan jajan itu instan: ada perburuan, ada ketegangan, ada kemenangan kecil begitu voucher berhasil didapat, lalu makanan datang dan rasa puas langsung terasa. Semuanya selesai dalam waktu singkat. Membaca buku kuliah justru kebalikannya, kepuasannya baru muncul setelah berhalaman-halaman, kadang baru terasa setelah buku itu selesai dibaca seluruhnya. Wajar saja kalau otak kita lebih condong memilih yang lebih cepat memberi rasa senang, meski usahanya sebenarnya tidak kalah besar.
Kalau dipikir lebih jauh lagi, war voucher itu sebenarnya punya satu unsur yang bikin ketagihan, yaitu ketidakpastian. Kita tidak pernah tahu pasti akan dapat atau tidak, sampai detik terakhir saat tombol checkout berhasil ditekan. Rasa penasaran dan harap-harap cemas semacam ini yang membuat aktivitas berburu voucher jadi terasa seperti permainan, bukan beban. Setiap kali gagal, rasanya justru jadi tertantang untuk mencoba lagi di kesempatan berikutnya. Bandingkan dengan membaca buku kuliah, yang hasilnya bisa ditebak sejak awal: kalau dibaca dengan tekun, isinya akan habis dan paham, tidak ada kejutan atau ketegangan semacam itu. Justru karena hasilnya sudah pasti dan tidak ada unsur “permainan”, membaca buku kuliah jadi terasa kurang menggoda dibanding berburu voucher yang penuh ketidakpastian.
Belum lagi soal energi mental yang dibutuhkan. Berburu voucher memang melelahkan, tapi anehnya tidak terasa seperti beban, karena ada keseruan dan rasa kompetisi di dalamnya. Membaca buku kuliah menuntut saya tetap fokus, butuh kesabaran, menahan diri agar tidak tergoda memeriksa ponsel, menahan kantuk, menahan distraksi dari segala arah. Effort untuk bertahan dalam keheningan inilah yang membuat membaca jadi berat, apalagi kalau di waktu yang sama saya sudah lelah berpikir karena aktivitas lain sepanjang hari. Jadi sebenarnya bukan soal seberapa besar usahanya, tapi soal kemampuan menahan diri yang lebih dulu terkuras oleh hal-hal yang terasa lebih seru.
Belum lagi, era serba cepat sekarang ini memang dirancang untuk membuat jajan semakin mudah dan menggoda. Ada promo di mana-mana, ada notifikasi diskon, ada war voucher yang bikin jantung berdebar, dan konten makanan yang terus muncul tiap kali buka media sosial. Buku? Tidak punya godaan semacam itu dalam hidup kita sehari-hari. Tidak ada yang menawarkan diskon supaya kita mau membaca, tidak ada notifikasi yang mengingatkan “sudah membaca hari ini?” Dorongan untuk jajan datang terus-menerus dari luar, sementara dorongan untuk membaca harus kita ciptakan sendiri dari dalam diri. Wajar saja kalau yang satu lebih mudah memenangkan perhatian kita.
Jadi kalau dipikir-pikir lagi, effort jajan yang ringan dan effort membaca yang berat ini bukan kebetulan. Ini terjadi karena jajan, termasuk segala drama war voucher di baliknya, memberi kepuasan instan, ketegangan yang menyenangkan, dan keseruan yang terasa langsung, sementara membaca butuh kesabaran dan hasilnya baru terasa belakangan. Bukan berarti saya sepenuhnya bersalah karena lebih sering pilih jajan daripada membaca. Tapi tetap saja, kalau dipikir lagi, sayang juga energi sebesar itu habis hanya untuk voucher, sementara buku-buku kuliah di rak masih menunggu untuk dibuka. Sampai sekarang juga belum kelar saya baca, masih di halaman yang sama dari beberapa minggu lalu.
Solusinya, menurut saya, bukan dengan memaksa diri membaca berjam-jam sekaligus, karena saya juga tahu diri, pasti tidak akan bertahan. Cukup mulai dari hal kecil: satu paragraf, satu halaman, atau pilih buku yang memang membuat penasaran. Mungkin triknya adalah mencari cara supaya membaca juga punya sedikit rasa “permainan” itu, misalnya menantang diri sendiri menyelesaikan satu bab sebelum boleh njajan, atau menandai progres bacaan seperti menghitung skor di sebuah game kecil. Dari situ, otak akan perlahan menemukan rasa puas dari membaca, sama seperti rasa puas saat berhasil dapat voucher setelah war panjang. Kebiasaan baik memang tidak lahir dari niat besar yang cuma muncul sesekali, tapi dari langkah-langkah kecil yang diulang terus, sampai akhirnya membaca bisa terasa seringan njajan.
Fatikhatur Rahmah lahir di Banyumas tahun 2006. Saat ini ia sebagai mahasiswa aktif semester dua jurusan Tadris Matematika di UIN Prof K. H Saifuddin Zuhri Purwokerto. Ia berasal dari Desa Selandaka Kec. Sumpiuh Kab. Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Bisa di sapa melalui instagram @fatikamh_




