
Segitiga di Ruang Renta
1
di ujung jauh
kereta tak bergeser
mematung panjang
entah ada atau tiada
barangkali peron di sana
penuh sesak manusia
menanti kereta merambat
melumat usia
2
lintasan mengalungi rumput
halaman rumah berkisar dengung
terlalu sering berdering
kursi ruang tamu jadi kedap
ada yang berkunjung
antara maut atau senandung
mengelabuhi hidung
aroma terasa baik-baik saja
3
segitiga jadi ruangan baru
di rumah yang ditumbuhi waktu
menunggu ucap
atau menanti sergap
udara mengepal
darah menggumpal
peron di sana
luruh
: bergerak manusia-manusia
2026
***
Kepal Kepala
tiba pada babak kedua
kakinya bergetar
celana kombor
menyelubungi lutut
sambil berkata-kata
ia mengubah angin
menjadi lipatan
di sikunya
pegal semalam
kambuh
tiba di akhir babak kedua
dialognya rampung
ia keluar lewat pintu kiri
memeriksa kepalanya
berjalan sendiri
2026
***
Persiapan
kain hitam berputar di ruang
koridor berisi kepala bersiap pergi
di baliknya
mereka mencari napas
guna menampilkan wajah lain
pening sedikit mematuk kepala
masuk lewat telinga
kata terakhir jadi petanda
mereka sibuk
menghitung detik
kapan tiba mereka berjalan
menuju panggung pertunjukan
napas bertutur
kepala wajah-wajah batu
menghabiskan dialog dengan seru
terengah di akhir geliat
langkahnya lega
mengerut dan bercucur keringat
di balik tirai hitam besar
mereka menghela napas
mencari wajah lain yang lepas
2026
***
Menghadiri Kesedihan
mata berbinar melihat peran
dengan pakaian yang panggung suguhkan
peta perjalanan pemeran
terkadang membuat nyaman
pun sempat membuat risi
dialog dimainkan
dengan nada sesuai bekal latihan
mata lesu menyimak percakapan panjang
tanpa persoalan atau dentum iringan
berganti babak
tubuh menebak arah angin
sudah berakhir atau masih lanjut berdenting
lirih dawai melambari narasi kesedihan
tentang manusia yang bertanya pada langit
kapan kepala mereka benar-benar tegak
atau bagaimana supaya lapar sudah menjadi jinak
biola dan gitar berpadu
mengiringi pecah-pecah sendu
kemudian melambat
kemudian udara berangsur pekat
menghambat napas
setelah mengurai cerita-cerita
2026
***
Muka Larut
orang-orang takzim membaca naskah
membenamkan wajah di muka pagina
dialog panjang membuat mereka terbawa
: benak lain
orang-orang sukar menerka manuskrip
menenggelamkan kepala
waktu seperti benang berserabut
dan basah dan kalut
orang-orang mendengarkan tanda baca
menebak arah cerita
terperangkap ke lampau masa
: berkeringat
orang-orang membusungkan dada
meraih udara supaya bertukar
dengan napasnya. menghidu
bau-bau kelu di sekitarnya
orang-orang berseragam dingin
meretas arah angin. mencari
pintu keluar dari labirin
keramaian yang kering
orang-orang bertukar mata
memprediksi cuaca di dalamnya
rasa terbesit ada di mana
dalam duka atau ceria
orang-orang merebahkan tubuh
terlentang di halaman utuh
tak pernah selesai percakapan-percakapan
meninggalkan tanya pada keburaman
kamus berhenti mencari arti
orang-orang mencari maknanya sendiri
2026
***
Hananto Kurniadhi, akrabnya Didik. Kelahiran Sragen, tahun 1997. Pendengar musik dan berdawai di proyek musik folk minimalis, Moon is Vanilla. Buku yang sudah terbit: Bingkai Melankolia (2018), Langkah-Langkah Melangkah (2021), Pot (2021). Instagram: @didik__kurniadhi




