
Lara
Perasaan itu datang lagi
menggendong kenangan yang begitu sepi
kian dimakan dalam sunyi
dikebiri dengan pedih peri
aku yang terdiam dalam sadar
menadah luka yang tak bernadar
engkau menyelubungi rekah di balik sabar
kian aku meniru bagai pilar
aku yang mengawali dengan menerima
lantas diakhiri dengan cinta yang hilang makna
tentang epilog yang tiada makna
tentang aku yang dibuang dengan nyata
***
Palung Intimidasi
Kian hari kian suram
Bagai malam yang kelam
Sunyi nan mencekam
Seolah terus menerus menerkam
Kian hari kian menghilang
Bagai bayang terhimpit ruang
Gelap merekah dan mencemaskan
Seolah bentuk dari pengintimidasian
Aku takut dalam cengkeraman
Tertambat dan tak bisa lari
Bergantung pada kepasrahan
Yang siap untuk mati
***
Yang Disalahkan
Bergerak mati
tak menggubris, siksaan menanti
menadah memohon
agar mendapat diskon
digerogoti perasaan bersalah
luntang lantung tanpa arah
merekah tapi lemah
bagai luka tapi tak berdarah
apakah aku salah?
atau memang disalahkan
***
Monolog Bisu
Saat berdiri di depan cermin
terpantul bayangan diam
berisi tatapan kosong
bak kapal tanpa nahkoda
Apakah ia adalah diriku,
tetapi mengapa ia begitu riuh dalam sunyi
seolah banyak gejolak dalam sanubarinya
ingin bicara tapi tertambat
Sosoknya begitu lemah
Hilang arah dan tak punya kendali
Sosok yang selalu menjadi korban perselisihan
Antara kedua manusia yang menjadi arahnya
Apakah ia begitu nyata tampaknya?
Tanpa kusadari, ia adalah monolog bisu
***
Tak Heran, Aku…
Malam ke pagiku ditemani alas
dan kemudian berlanjut malas
tak heran orang tuaku menganggap pengangguran
karena kamarku terisi terus seharian
diam dan merenung
mengisi kepala hingga pening
tak heran orang menyebutku pundung
karena aku begitu hening bak patung
kenestapaan kian jadi bencana
banyak masalah yang berupa-rupa
tak heran bagiku yang seorang pengangguran
oh indah sekali sesaknya pikiran
***

dari Banyumas menyapa Indonesia




