
Pada saat beberapa manusia masih tertidur, aku dengan perasaan senang membawa dua ikat tali tambang. Tali tambang tersebut aku bawa menuju ke sebuah tempat penuh pohon dengan tinggi yang bermacam-macam, Beberapa bebatuan yang bersandar di batang kuat pohon. Tempat yang aku datangi penuh sunyi dengan embun hujan yang menjadi selimut penuh kedinginan dari pohon-pohon yang ada.
Oh, Ya aku hampir lupa bahwa ada seekor babi yang mengikutiku dari tadi. Entah mengapa semenjak aku melemparkan sepotong daging busuk kepada babi dan babi itu memakannya dengan sangat lahap mendekati rakus, melalui mulutnya yang mengeluarkan air liur bercampur debu-debu yang menempel di wajah sang babi.
Bukankah seharusnya babi tersebut marah kepadaku. Seorang manusia yang menghinanya dengan melemparkan sepotong daging busuk kepada sang babi. Kenapa babi tersebut mengikutiku? Aku tak begitu peduli juga. Malah, harusnya aku bersyukur kan dengan adanya seekor babi yang mengikutiku dari belakang membuatku tak perlu repot-repot berburu di tengah selimut sang embun masih menyelimuti bumi dan pepohonannya.
Langkah kakiku kemudian berhenti di sebuah pohon yang tak begitu tinggi dengan tiga cabang yang masih dapat dijangkau oleh dua tanganku. Aku kemudian meletakan dua tali tambang di bawah pohon, Lalu, badanku berbalik untuk melihat sang babi yang ada di belakangku dengan jarak hanya dua langkah kaki dari belakangku.
Sang babi yang buruk rupa meskipun ia sebenarnya tak sepenuhnya seperti babi. Mulutnya masih menggerogoti tulang yang tadinya merupakan sepotong daging busuk, Matanya berwarna gelap malam tanpa cahaya, Tubuhnya penuh debu dan memprihatinkan. Sang babi juga setengah telanjang dan kau dapat melihat rupanya yang sangat buruk.
Selimut sang embun masih menyelimuti sekitar. Tubuhku dibuat menggigil kedinginan oleh selimut itu. Tanganku dengan cermat mengambil salah satu tali tambang dan kemudian mulai menjalankan aksiku.
Pertama, aku melemparkan salah satu ujung tali tambang ke sisi lain cabang pohon yang cabangnya paling dekat dengan sang babi. Kedua, aku mulai membentuk simpul Yosemite Bowline yang bentuknya mirip seperti huruf P ataupun Q dari ujung tali yang dekat dengan sang babi. Setelah semua persiapan selesai aku bernafas lega. Mataku kemudian menatap sang babi. Lehernya yang ramping begitu menggoda untuk aku ikat.
Aku memasukkan tanganku ke dalam salah satu saku. Lalu aku mengeluarkan sebatang coklat dan satu permen lolipop. Aku kemudian membuka permen lolipop tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut. Setelah itu, Aku melemparkan banang coklat yang bungkusnya sudah aku buka ke depan arah sang babi. Babi itu memakannya dengan rakus lebih rakus daripada ketika memakan sepotong daging busuk.
Aku tersenyum tanpa arti dengan pinggiran bibirku dihiasi oleh permen lolipop. Kemudian aku bergerak. Berjalan perlahan mendekati sang babi yang masih rakus memakan batang coklat yang tadi aku lemparkan ke arahnya. Tanganku mengambil ujung tali paling dekat dengan sang babi yang berbentuk sampul Yosemite Bowline. Lalu tanpa babi itu sadari aku memasukkan tali itu melalui kepalanya dan sampai pada lehernya yang penuh daki dan sangat kurus hingga tulang lehernya terlihat jelas. Simpul itu bagaikan menjadi aksesoris terakhir yang akan ia kenakan di lehernya.
Setelah memasukan tali bersimpul Yosemite Bowline, langkah kakiku bergerak ke sisi lain tali tambang yang tak aku ikat apalagi aku buat menjadi simpul. Kedua tanganku kemudian memegang tali tersebut. Seringai muncul tepat di kedua ujung bibirku.
Tanganku tak terbalut oleh sarung tangan kemudian menarik tali tambang itu dengan sekuat tenagaku hingga membuat kaki sang babi tak menyentuh ke tanah. Babi itu meronta-ronta, Memberontak karena kesakitan yang amat dahsyat di sekitar lehernya. Gigitan terakhir dari batang coklat itu terjatuh dari mulutnya. Tangannya yang juga seramping lehernya yang sekarang tergantung dengan tali, mencoba meraih dan melepaskannya. Namun, Hal tersebut sia-sia saja. Sang babi yang ramping itu menjadi tak berdaya begitu saluran pernafasan di tenggorokannya mulai habis. Oksigen tak dapat masuk lagi karena pintu masuknya sudah diikat dari luar.
Tanganku masih memegang tali yang akhirnya membunuh babi. Wajah babi itu sangat indah walaupun wajahnya sangat berantakan. Rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresi kematian dari sang babi.
Sang babi akhirnya resmi mati setelah tanganku memegang ujung lain tali tak bersimpul selama kurang lebih sepuluh menit. Bersamaan dengan permen lolipop yang ada di mulutku telah habis. Aku kemudian melepaskan genggaman tali di tanganku, membuat tubuh babi yang telah tak berdaya itu jatuh ke tanah. Aku kemudian membuang gagang batang dari permen lolipop ke tanah lalu menginjaknya hingga hancur tak berbentuk. Tubuhku berdiri tegak dengan selimut embun yang masih tetap sama.
Wajah sang babi yang telah mati itu pucat. Lehernya terdapat kalung berwarna biru yang menyatu di kulit lehernya yang kurus. Mulutnya mengeluarkan busa yang menutupi sisa-sisa coklat yang ada di mulutnya.
Aku menghembuskan nafas lewat mulut. Menatap kedua telapak tangan yang memerah dengan rasa dingin. Aku kemudian mengambil kembali tali yang tak terikat di leher babi mati itu. Menariknya kembali hingga tubuh babi itu melayang kembali. Bedanya, babi itu tak meronta-ronta memberontak. Babi itu hanya diam tak bergerak. Sedikit tamparan dari angin mungkin akan cukup untuk menggerakkannya.
Aku lalu mengikatkan tali tambang itu kepada batang pohon. Membiarkan sang tali memeluk batang pohon dengan erat untuk memastikan bahwa tubuh babi tetap menggantung hingga ada orang yang menemukannya atau mungkin saja tubuh babi itu ditemukan tepat setelah selimut dingin dari sang embun kembali dilipat oleh matahari.
Liliyi Tirta Rasy. Panggil aku Liliyi atau Rasy. Aku lahir dan tinggal di Purbalingga. Hobi saya adalah menulis sekaligus membaca. Walaupun aku terkadang melihat diriku tidak hidup tapi menulis membuatku merasa hidup hanya dengan sebuah tulisan. Jika kalian penasaran tentangku silahkan kunjungi Instagram saya @liliyi_ray_lanss




