Penantian Panjang: Menunggu Teduhnya Untaian Mutiara Gus Baha

Selamat pagi, siang, sore, dan malam semuanya. Izinkan saya berbagi cerita tentang penantian panjang untuk mendengarkan untaian mutiara Gus Baha.

Alhamdulillah. Pada awal Mei 2026 lalu, saya berdua (dengan adik saya) sowan ke area komplek pesantren LP3IA. Tidak ada tujuan gede sebenarnya. Cuman ingin main-main, menikmati vibes Narukan, melihat lingkungan sekitar ndalem LP3IA, sekaligus membaca hawa pesantren milik Gus Baha yang selama ini baru beberapa kali saya kunjungi.

Perjalanan itu, kami memang biasa saja, tapi entah kenapa rasa di hati saya berbeda. Ada riang yang cukup angel untuk dijelaskan. Barangkali karena sejak lama saya sering menyimak kajian beliau dari layar ponsel. Mendengar keterangan khas beliau yang sederhana, enteng, kadang diselingi guyonan ala pesantren, tapi selalu membekas di hati.

Sesampainya di pelataran pesantren, suasana terasa teduh. Tidak ramai berlebihan. Orang-orang lalu lalang seperti biasa. Santri berjalan santai, beberapa ngobrol di depan pondok, menikmati penthol, sebagian lain sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tapi justru kesederhanaan itu yang membuat saya betah.

Selayaknya orang bertamu, kami uluk salam kepada abah beliau, Almarhum Almaghfurlah KH. Nursalim. Dalam hati saya lirih membaca doa. Ada rasa haru yang muncul begitu saja. Saya sadar, dari ndalem itu lahir sosok ulama yang ilmunya sekarang didengar ribuan orang dari dalam dan luar negeri.

Saat itu sebenarnya ada satu krentek kecil dalam hati saya: ingin sekali rasanya bisa bermuwajahah langsung dengan Gus Baha. Duduk khusyuk menyimak kajian beliau secara langsung. Bukan melalui video, bukan melalui  reels Instagram, TikTok atau YouTube. Saya ingin benar-benar istima’ kajian beliau secara langsung, mendengarkan analogi-analogi khas beliau yang terdengar sederhana tapi kadang menampar batin.

Namun saya ingat betul pepatah jawa: “alon-alon asal kelakon”. Yups, tidak semua keinginan harus buru-buru dikabulkan. Pelan-pelan saja.

Karena kebetulan tidak berbarengan dengan hari rutinan Gus Baha, maka hari itu saya hanya menikmati suasana pondok. Berjalan pelan di sekitar ndalem LP3IA, melihat santri-santri, dan menyimpan harapan kecil untuk bertemu dalam hati.

Alhamdulillah. Belum genap satu bulan sejak berada di sekitar ndalem LP3IA, Allah benar-benar mengabulkan krenteg kecil saya. Puji syukur saya diberi kesempatan mengikuti acara “Ngaji Bareng Gus Baha: Peluncuran Ulang Al-Qur’an dan Terjemahan Artinya” di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Rasa yang sulit dijelaskan. Duduk satu ruangan dengan beliau secara langsung ternyata jauh berbeda dibanding mendengarkan dan menonton lewat layar. Ada suasana hangat yang tidak bisa ditulis dengan sempurna. Ketika beliau mulai intro ndawuh, jamaah tertawa bersama di satu waktu, lalu tiba-tiba hening karena tersentuh di waktu lainnya.

As always, beliau menerangkan materi kajian dengan ringan. Tidak rumit dan ruwet, tidak membuat orang-orang merasa berkecil hati. Sebaliknya, justru malah membuat kami merasa bahwa Islam itu dekat, teduh, dan penuh kasih sayang. 

Salah satu satu pelajaran yang saya dapat dari kajian itu adalah bahwa suatu keburukan itu bisa dihapus oleh kebaikan. Gus Baha memberi analogi hal ini dengan orang yang dicopet oleh jambret, tetapi kemudian di waktu lain jambret tersebut menolong nyawa anaknya di jalan raya. Jambret itu memang mencuri uang di dompetnya sebesar 50 juta, tapi di sisi lain jambret itu jugalah yang menyelamatkan nyawa anaknya atas dasar kemanusiaan. Kehilangan 50 juta tidaklah sulit untuk memaafkan jambret, tersebab nyawa anaknya selamat oleh si jambret.

Sembari menyimak kajian, di tengah-tengah Auditorium Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakir itu saya terus meresapi rasa syukur dalam hati. Alhamdulillah.

Ternyata doa-doa sesederhana apapun tetap benar-benar didengar Allah. Berkat doa orangtua, guru-guru, dan orang-orang baik di sekitar saya, keinginan kecil itu akhirnya terkabul juga. Semoga keinginan-keinginan besar kami, kita semua, segera menyusul dikabulkan oleh-Nya yang maha besar.

Dan semenjak kajian di hari itu saya semakin yakin, kadang perjalanan menuju sebuah majelis ilmu bukan hanya tentang datang dan duduk menyimak. Tetapi juga tentang penantian, harapan, dan rasa syukur ketika akhirnya apa yang kita inginkan terwujud dalam hal yang tidak kita sangka. Min Haitsu Laa Yahtasib.

Ternyata doa-doa sesederhana apapun tetap benar-benar didengar Allah SWT.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top