Gentayangan dan Puisi Lainnya

l’existence Précède l’essence

aroma pagi menyuruk hidungku
mata ini terbuka, hatiku tertutup,
langit bersih di kaca jendela, pikiranku kusam berkabut,
pada sabtu awal Februari, pada hari hari biasa
untuk situasi tidak biasa
aku mulai menggumamkan bait bait sajak gelisah
tidak peduli kelat asam menggumpal di pucuk lidah,

matahari senantiasa menyapaku dari celah dahan dahan trembesi
memanggilku dengan aubade yang sopan,
seperti kenyataan, seperti bukan
kehidupan menawarkan secercah angin lembut
bagaikan bayi aku disambut,
dipagut, ditimang, dirayakan kehadiran
sebelum aku menyadari malam malam kelam
telah menyiapkan janji janji fana
untuk segera ditepati kemudian,

sudah sekian lama aku resah
disengap dorongan sakral
yang menolak berkeluh kesah,
tetapi di atas untaian kata kata ini
aku menjadi apa adanya,
sebagaimana adanya, sebagaimana mestinya,
untuk apa lagi aku bersembunyi
bertahun tahun lamanya melipur diri
membakar gaduh ke dalam sunyi
toh tidak jua
mengubahku menjadi sempurna,

sebab manusiakah aku ini,
jika hanya tertawa lebar di mulut,
tetapi meraung raung di dasar batin,
manusiakah kita ini,
terus beredar edar mencari petunjuk
tersesat di labirin pikiran tak berbentuk.

2026

***

Mengapa Sebaiknya Cinta Tidak Perlu Dikatakan

Usai ia memutuskan bicara
‎belum lagi kujumpai (ia kembali ke sini)
‎atau di lain kesempatan (kesempatan yang tepat)
buat aku bertanya
ke mana ia lari, ke mana ia menghindar
‎ke mana hatinya tanggal,
‎ia raib seakan buih menyelami sungai
‎kepergiannya seperti tanda tanya
‎yang kekal tertinggal,
Seperti mimpi yang belum sempat kutafsir
meninggalkan gelegak rasa bersalah tak kenal akhir,
‎‎
‎cintamu mengubahku menjadi pintu
‎rontok semalam demi semalam
‎menjadi butir butir kayu,

‎cinta meluruhkan tubuh kita
‎menjelmakan sebagai kubangan air mata,

kubilang itulah bahaya mencintai,
‎mencintai ialah binasa.

2026

***

Gentayangan

kau bilang kita terberkati,
aku bilang kita terbengkalai,
kita sering terombangambing
di gelombang kesepian
yang kita bangun sendiri.

kau kuberitahu arti duka
saat melihatku sakit (dan mati muda),
semua orang akan sakit, kataku
kau hanya belum saja merasa,

aku bangkit dari kuburan
untuk memeriksa lemari boks plastik penuh pakaian pakaian kebohonganmu,
topeng topeng kepalsuanmu,
aku ingin membongkar tumpukan kain
di bawahnya kau simpan senjata
benarkah itu lading yang ingin kau hunuskan ke dada?
padahal kau janji ingin hidup lama,

tiap kali kita ketemu, ingatkah kau?
aroma sabun murahan semerbak bergumul keringatku
aroma deodoran espreso kepunyaanku,
walau aku tiada
tidak kunjung aku pergi
sampai mati
kuingin menjagamu dari sini.

2022

***

Lelaki yang Gagal Menulis Sajak

hendak kutulis tiga sajak kecil
namun jemariku ragu ragu
bimbang, bimbang kata apa yang layak
kutimbang timbang, kesialan mana layak dipamerkan, luka mana akan kutelanjangi, kusut yang mana ingin kuurai, kegagalan mana hendak kupenggal penggal,

katamu aku harus tergila gila estetika
agar suaraku terdengar bak Sapardi
merekam nasib tragis umpama penyair betulan
memikat pembaca dalam buai keindahan
seolah olah dewi bulan
yang menidurkan Endymion,

sayang aku tidak piawai merajut keindahan
pikiranku rusak, ia berkeping keping berantakan: aku menyaksikan peti berisi bayi dihanyutkan di atas lautan berdarah darah, ikan raksasa meleleh di dinding, pintu terbuka menuju tangga bercahaya dengan Yesus berdiri mengulurkan tangan, batu raksasa melayang dan Buddha bersila di atasnya, pria berjas hitam dengan apel busuk di kepala, ular keluar dari mulut perempuan berambut, semangka merah terbelah di meja, langit dihujani orang orang menggendong senjata,

pikiranku makin kusut berkeliaran: pria bengis menendang perahu sebesar gunung, pria mengutuk wanita menjadi arca, pria mengintip babi dimakan ular menjadi ular, pria mencuri selendang bidadari, pria memotong kepala gadis berambut ular, pria minum racun karena ditinggal mati, pria mengadu pedang berebut putri, pria merakit bom mengikatnya di tubuh sendiri, pria tertawa tawa sebelum membangun kamar gas,

pikiranku liar, tumpang tindih, meluap
mengalir, menyublim, lalu kehilangan arti
aku gelisah, tetap bertanya, setelahnya:
sajak apa yang hendak kutulis?

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top