Di Balik Lagu Bersenja Gurau: Tentang Lelah, Keluh, dan Bertahan

Dalam perjalanan hidup, setiap orang pasti mempunyai plot twistnya. Melakukan aktivitas yang dirasa membosankan, merasa begitu lelah dengan keadaan, hingga muncul rasa ingin menyerah. Saat merasakan fase yang membagongkan, Jujur untuk keluh seakan-akan adalah cara paling sesuai untuk menggambarkan keadaan. Hidup memang tidak selalu pas dengan cita-cita kita. Ada kalanya yang sangat kita inginkan, ternyata begitu hebatnya membuat kita kecewa. Begitu pula tuntutan selalu datang menghampiri tanpa diundang, dan rintangan terasa semakin banyak. Dalam kondisi tersebut, cukup banyak yang ingin goyah, bahkan ada yang putus asa.

Kadang kita sering lalai, terlalu sibuk memikirkan urusan orang lain, terlalu sibuk menilai orang lain, dan pada akhirnya diri sendiri yang perlu di evaluasi, perlu dikritik, perlu diperbaiki tingkah lakunya. Kita terlalu melihat ke depan, hingga jejak diri sendiri tidak kelihatan. Di Saat itulah kebanyakan tidak menyadari bahwa hal sesederhana seperti mendengarkan musik adalah upaya menjadi penawar. Musik, menurut saya bisa menjadi ruang untuk memahami diri sendiri tanpa ribet, dan bisa menjadi alat untuk bermuhasabah. Lagu “Bersenja Gurau” karya Raim Laode dengan irama yang menyejukkan hati, tenang, namun begitu menyentuh. Seakan bisa menjadi sahabat bagi siapapun yang sedang menghadapi kehidupan yang penuh dengan cobaan. Liriknya bukan hanya tentang Senja dikala Maghrib mau menghampiri, melainkan juga mengajak untuk tetap bertahan, meski realita terlalu kejam dan tidak sesuai dengan doa-doa kita.

Lagu “Bersenja Gurau” hadir dengan nuansa yang penuh makna. Jika kita mampu merenungi, pasti akan berdampak baik bagi kesehatan batin, dan meningkatkan spiritual manusia. Terutama dalam memahami realitas kehidupan. Dengan instrumen yang ramah di telinga, lagu ini membawa pendengar masuk dalam tahap perenungan dan muhasabah diri. Jika dihayati lebih dalam, lirik lagu ini bukan hanya cerita kesedihan semata, melainkan tentang kelelahan yang tak pernah diucapkan. Banyak sekali moment kehidupan yang tidak selamanya tentang kesenangan, dan kebahagiaan, tapi berusaha untuk tetap kuat, berusaha untuk semandiri mungkin, untuk sekuat asumsi mereka yang tidak mengetahui keadaannya. Padahal, di dalam dirinya ternyata sedang merasakan keluh yang tak kunjung usai. Mengeluh bukan kesalahan terbesar, karena setiap manusia pasti mempunyai drama untuk sedih, bahkan hal sepele pun bisa menjadi kesedihan ketika terlalu berharap sesuatu terjadi dengan keinginan kita.

Di tengah realitas, lagu ini cukup relevan bagi orang yang hidup dengan tekanan, baik dari ekspektasi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Sering kali, keluh menjadi respons yang paling gampang dirasakan. Sebaliknya, semangat untuk terus bertahan selalu runtuh dalam diri kita.

Lagu Bersenja Gurau pada bagian Refrain yang berbunyi

Selalu ada pelangi pada setiap mendungnya setiap derita

Bisa kita artikan, bahwasannya untuk melihat pelangi, pasti kita harus merasakan mendung, bahkan hujan agar si pelangi itu muncul. Ini selaras dengan kata-kata Jawa yang berbunyi “Sopo wonge sing gelem Rekoso bakale Mulyo” karena dalam hal apapun, untuk meraih keinginan kita, pasti memerlukan perjuangan, memasuki tahap tidak enak, dan harus bertahan untuk mencapainya. Dari lagu Bersenja Gurau, mengingatkan bahwa hidup tidak selamanya mudah, tapi bukan untuk berhenti di tengah jalan, melainkan untuk pelan-pelan tetap berjalan meski hambatan selalu menghampiri.

Menariknya dari lagu ini, menyimpan makna yang begitu dalam, bahwa di balik lelah, dan keluh, masih ada harapan untuk terus melangkah. Lagu ini tidak memaksa untuk secepatnya bangkit, tapi mengajak perlahan tenang untuk menghadapi keadaan, hingga menemukan kekuatan untuk bertahan.

Menurut saya pribadi, pada lirik bagian tengah yaitu:

Jika sempit hidup ini
Tidur selalu tak tenang
Pagi selalu menyiksa
Semua akan baik saja
Sebab tuhan tlah berjanji
Setelah sempit ada kemudahan

Mempunyai makna yang tersirat, ketika kita sedang mendapatkan masalah, untuk tidurpun tidak akan tenang, selalu memikirkannya bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut. Di pagi hari kita dipaksa bangun untuk menjalankan kehidupan seperti tidak ada masalah. Padahal, Allah SWT sudah berjanji pada surah Al-Insyirah “Fa inna ma’al ‘usri yusro” dalam tafsir Al Misbah dijelaskan bahwa setiap kesulitan dan kesusahan, pasti disertai atau disusul oleh kemudahan selama yang bersangkutan bertekad menanggulanginya. Jadi, tenang saja dalam menghadapi situasi apapun, asal kita mampu menerapkan potongan ayat Surat Ar-Ra’d ayat 28 yang berbunyi “Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub” yang artinya: Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.

Ketika kita sedang tidak baik-baik saja, coba cek lagi hubungan kita dengan Allah itu bagaimana, sholatnya sudah dijaga sepenuhnya apa belum. Maka dengan salat, pasti akan mendapatkan pertolongan dan ketenangan jiwa, asal kita mau mengusahakan semua doa-doa yang telah dipanjatkan.

Demikian juga, lagu ini sangat tepat untuk bercermin, memperlihatkan keadaan diri sendiri yang jarang disadari. Ada banyak ucapan keluh yang justru bisa menjadi bahan refleksi, ada rasa lelah adalah bentuk perjalanan, bahwasannya kita masih tahap berproses. Lagu “Bersenja Gurau” menjadi alarm bahwa hidup tidak harus sempurna untuk tetap dijalani, walaupun kita diciptakan dengan sesempurna mungkin oleh Allah SWT, akan tetapi, kita adalah manusia biasa yang mempunyai keterbatasan. Sekali lagi, hiduplah dengan semaksimal mungkin, asal mampu mengamalkan amar makruf nahi munkar, insyaAlloh bisa mendapatkan ridho dan inayah-nya Allah SWT.

Pada akhirnya, lagu ini bukan sekadar hiburan yang mubazir. Tapi, teman disaat situasi sepi. Ia datang bukan untuk menghilangkan kelelahan secara instan, tapi sebagai ramuan untuk menemani dan membentuk kekuatan. Di tengah kehidupan yang sering muncul keraguan, “Bersenja Gurau” mengajarkan suatu hal yang sangat sederhana, namun sangat bermanfaat. Lelah boleh dirasakan, Keluh boleh diceritakan, tapi jangan sampai kehilangan gairah untuk melanjutkan peran manusia sebagai khalifatul fil ardh agar terus bertahan menjalani kehidupan, sampai ajal menjemputnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top