
Teman-teman bilfest.id yang budiman, selamat datang kembali pada Mozaik Kanon: semacam ruang kecil-kecilan yang menampilkan ulasan singkat mengenai tulisan yang tayang di bilfest.id pada hari Sabtu dan Minggu. Ada sepotong cerpen “Surat Kecil untuk Mama” karya dari M. Ridho, kemudian sehimpun puisi “Doa Pendosa dan Puisi Lainnya” buah kreasi dari Mochammad Syu’aib, dan satu karya berikutnya adalah segelas puisi dari Abdul Wachid BS yang berjudul “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 6)”. Tiga karya tersebut mulai terbit bersinar di bilfest.id pada 14 & 15 Maret 2026.
Sebelumnya, karena ini dalam momentum lebaran, alangkah baiknya jika kita berbagi amplop berisi senyum manis Soekarno-Hatta sekaligus saling silang maaf, bertukar kisah, dan bersulang kasih, asal jangan melulu berbagi kesah dan kesuh (marah). Banyak hal yang patut untuk kita terima – senyum – syukur, supaya tidak rentan untuk terkena kemarahan yang signifikan. // Hidupmu marah-marah mulu / Buang-buang waktu / Mending nyanyi sama aku / EEEE A (Engkol!) //.
Surat Peringatan untuk Negara
Cerpen karya seorang penulis muda asal Medan-Sumatera Utara ini mengisahkan tentang seorang anak kecil bernama Zio (10 tahun) yang memilih mengakhiri hidupnya demi kesejahteraan keluarganya. Jelas sebuah tragedi yang memilukan cum memalukan. Sesaat sebelum mencabut nyawanya sendiri ia sempat menuliskan sebuah surat untuk mamanya, bernama Maria Lidia. Cerpen ini jelas pesannya.
Penulis rasanya memang sengaja menuliskan cerpen ini karena adanya tragedi seorang siswa di Ngada, NTT berinisial YBS yang ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026). Seorang anak SD yang meminta uang sepuluh ribu rupiah untuk keperluan membeli buku dan pulpen. Akan tetapi karena ibunya belum cukup uang, akhirnya sang anak memutuskan untuk menjemput ajal dengan meninggalkan sepucuk surat.
Judul cerpen ini memanglah “Surat Kecil untuk Mama”, namun secara implisit fenomena, adegan, dan konfilk yang ada dalam cerpen tak lain adalah “Surat Besar untuk Negara”. Sebuah surat peringatan untuk negara. Tentang sebuah pendidikan yang belum merata dan terjangkau. Tentang kemiskinan hingga tentang lapangan pekerjaan. Di sini kita bisa melihat, “Apa artinya MBG ketika buku dan pena sulit dipunya?” Ada kalimat yang familiar dari Tan Malaka yang kurang lebih berbunyi, “Mereka tidak takut ketika rakyatnya miskin, mereka takut ketika rakyatnya cerdas.”
Sekeranjang Harapan
Ada enam puisi yang dituliskan oleh seorang yang maniak puisi asal Pati-Jawa Tengah. Ia saat ini berkhidmat di Komite Sastra Dewan Kesenian Batang Hari (DKB). Keenam puisi tersebut yaitu, Tawakkalku, Di Pintu-Mu, Doa Pendosa, Doa di Penghujung Malam, Selembar Sajadah Lusuh, dan Istighfar yang Terdampar. Kami membahasakan puisi-puisi tersebut dengan “Sekeranjang Harapan”. Melihat bahwa banyaknya dominasi harapan dan doa serta potret berserah diri hanya kepada-Nya dalam puisi-puisi karya Mochammad Syu’aib, kali ini.
Manusia memanglah tempatnya salah dan dosa. Di sini aku lirik mengakui akan kelalaian dan seringnya berbuat salah baik disengaja maupun tidak. // Sepotong doa / yang belum sempat di-aminkan/ meringkuk / kikuk / dalam ceruk / telapak tangan seorang pendoa yang pendosa. //. Selanjutnya aku lirik juga menyebutkan // Selembar doa tua melayang / mencari jalan pulang; / Tuhan. //. Dari sini kita belajar bahwa satu-satunya entitas yang bisa dijadikan untuk berharap adalah Dia Yang Maha Sakkersane.
Sekalipun manusia berlumuran dosa sekian banyaknya, tempat berpulang tak lain adalah Tuhannya. Sekotor apapun diri kita, semenumpuk apapun dosa-dosa kita, jalan pulang menuju-Nya selalu terbuka lebar dan lapang. Sekalipun kita terkadang atau acap absen dalam menuaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tetaplah Dia yang kita harapakan kasih sayangnya. Di sini aku lirik menyebut, // Di atas sajadah yang jarang kudatangi / Kumenengadah; / berharap percikan embun Rahman / Tuhanku //.
Segelas Kerinduan
Dalam serial puisi “Segelas Teh Tanpa Gula” yang saat ini sudah mencapai pada Bagian 6, Abdul Wachid BS pada episode kali ini membawakan lima puisi yang berjudul: Tikar yang Menjadi Langit, Zikir yang Gugup, Doa dalam Irama Nafas, Cahaya Tanpa Bunyi, dan Senyum yang Menyembuhkan. Sebagaimana sudah menjadi karakteristik kepenyairannya, bahwa puisi-puisi yang ditawarkan oleh beliau adalah puisi yang sarat akan religiusitas.
Bukan lantas berarti rindunya hanya segelas. Ini hanyalah cara hemat kami membahasakannya. Sebenarnya jika puisi ibarat buah, maka ini adalah buah yang memiliki banyak rasa. Sesuka kita merasakan dan menikmatinya. Kali ini aku lirik dalam puisi Zikir yang Gugup menampilkan sebuah kerinduan yang tal lain adalah tertuju kepada-Nya, //Bukan karena aku khusyuk, / tapi karena tak ada lagi yang kupeluk / selain bayang-Mu / yang m enyala / di reruntuhan jiwaku. //.
Di lain puisi, aku lirik juga menyadari bahwa pada dasarnya sebuah kerinduan, sebuah kebaikan, dan kerja-kerja positif lainnya adalah bagian dari rezeki yang telah dianugerahkan oleh-Nya. // Tuhan, / jika aku lupa ayat-ayat-Mu, / jangan hapuskan irama / yang telah Kau ukir / pada irama nafasku. //. Tuhanlah yang memberikan akses kepada kita untuk bisa ingat kepada-Nya, merasakan kerinduan kepada-Nya, melakukan kebaikan karena-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Jadi sebenarnya tak ada yang layak untuk kita banggakan dalam diri kita. Semua berkat izin dari Yang Maha Kuasa.
Tabik,
Tim Redaksi

dari Banyumas menyapa Indonesia




