
Aku duduk di bawah rak buku menghadap ke arah barat. Memandangi senja yang pelan-pelan melukiskan warna kuning, orange, biru dan berakhiran hitam gemintang sebab malam ini cerah. Bulan menampakan diri lebih awal dengan lancip sabitnya, seperti sabit yang dipakai petani untuk menebas tanaman untuk menyelamatkan hidup dan keluarganya. Suara kendaraan terdengar sayup-sayup masuk ke dalam Coffee Shop dengan konsep slow bar sekaligus roastery ini.
Aku duduk menciumi POV cup yang di dalamnya terisi 180 ml kopi dari Ijen Lestari Jawa Timur dengan proses pasca panen Carbonic Maceration. Menelanjangi buku yang sedang aku baca dalam alunan musik dari Band Indie Murphy Radio. 180 ml kopi itu diseduh dengan metode pour over menggunakan V60 driper. Entah berapa kali air diseduhkan dalam interval oleh barista kalcer itu, aku menyerahkan mandat seduhan sore ini dengan pasrah layaknya aku memasrahkan iman kepada Tuhan. Dan kau tahu apa yang terjadi? Senjaku kali ini benar-benar sempurna, sesempurna manusia sesampainya di surga setelah kelelahan melewati shirotol mustaqim, barangkali.
“Seng, cepet banget kopinya habis? Belum 2 menit tinggal seperempat gelas?” Perempuan yang sejak tadi duduk di meja bar itu tiba-tiba datang, menyapa dan memprotes kopiku yang sudah hampir tandas itu. “Aku duduk di sini ya?” Lanjut perempuan itu sembari menarik kursi kayu yang ada di depanku.
“Silahkan…” Sambil memposisikan diri dan menyesuaikan kebingungan aku menjawab dengan kalimat singkat dan menyeruput tandas kopi Ijenku di dalam gelas. Berikutnya, tanpa berpikir panjang aku berjalan ke meja bar dan memesan kopi itu lagi ke Barista kalcer di sana.
“Mas, kopinya yang kaya tadi, satu lagi yaa!” Ucapku ke barista kalcer itu.
“Siap mas, ditunggu ya! Ngomong-ngomong, perempuannya mas, cantik sekali. Sempurna!” Jawab barista kalcer itu dengan tiba-tiba memuji perempuan yang duduk di depan kursiku.
Perempuanku? Ha? Kenapa perempuanku? Aku menjawabnya dengan pertanyaan namun hanya tersiar di dalam hati. Sambil melihat lagi ke belakang, memandangi kesempurnaan yang disebutkan oleh barista kalcer itu.
Oh ya! Memang sempurna, sesempurna tokoh-tokoh dalam novel romance yang kerap aku baca. Perempuan berambut panjang, berkacamata, berpakaian T-Shirt hitam dengan quote Pramoedya Ananta Toer di belakangnya ‘Aku sudah bosan takut, sudah bosan putus asa’, menggendong tote bag dan sekarang sedang membaca buku entah buku apa sebab tak kelihatan dari meja bar.
“Iya mas, perempuanku memang secantik itu!” Jawabku kepada barista kalcer itu setelah beberapa detik termenung. “Kopinya ditunggu ya mas!” Kataku lagi sembari kembali ke kursi, merampungkan senja bersama perempuanku dalam lembaran-lembaran buku.
“Pesan kopi lagi seng?” Tanya perempuanku itu saat aku menarik kursi dan berniat untuk duduk.
“Iya…. seng!” Jawabku singkat dan masih kebingungan. “Eee… mau kopi juga?” Tanyaku untuk memecah kebekuan antara aku dan perempuanku.
“Boleh seng, kopi yang sama ya!” Jawab perempuanku itu sambil mengarahkan pandangannya kepadaku.
“Mas! Kopi Filter Ijennya satu lagi ya!” Teriakku ke barista kalcer yang sedang asyik menyeduh kopi di meja bar sana.
“Anak Semua Bangsa? Lagi baca Tetralogi Pulau Buru seng?” Tanyaku memecah kesunyian.
Perempuanku diam saja tak menjawab. Saking fokusnya hanyut dalam bacaan, mungkin telinga dan indera 4 yang lain tertutup oleh sabda-sabda dari Pak Pramoedya. Akhirnya aku melanjutkan buku Bumi Manusia-ku yang hampir selesai itu. Oh! Barangkali Annelies Mellema secantik perempuan yang ada di depanku ini?
Aku bersama perempuanku merampungkan senja dengan membaca buku yang sama, Tetralogi Pulau Buru. Bedanya ia membaca Anak Semua Bangsa sedangkan aku membaca Bumi Manusia. Aku hanyut dalam kisah cinta Minke dan Annelies Mellema, dan keberanian Nyai Ontosoroh dan Darsam dalam menantang dunia pada masa Hindia Belanda. Sedangkan perempuanku hanyut dalam keberanian Minke menjelajahi dunia setelah kepergian Annelies Mellema.
Azan maghrib sayup-sayup terdengar dari masjid dari arah yang tak beraturan. Susul menyusul satu sama lain mengingatkan manusia untuk menunaikan pertemuan bersama Tuhan.
“Seng! Aku ke masjid dulu ya!” Pamitku kepada perempuanku yang sedang menelanjangi Anak Semua Bangsa di pangkuan tangannya.
Perempuanku tak menjawab, ia hanya melihat ke arahku dengan matanya yang sempurna seperti Berry Kopi yang dipetik merah lalu ia menganggukan kepalanya seperti pohon kopi yang cantik tertiup angin.
Aku melangkahkan kaki ke depan Coffee Shop dan mencari sandalku yang tidak ada. Kuarahkan pandanganku ke pelataran dan menyelidiki hilangnya sandalku itu. Pandanganku tertuju ke taman di samping kolam ikan yang di atasnya penuh dengan bunga-bungaan. Anggrek bulan tergantung rapi di setiap sudut, Bougenville dengan warna yang seramai pelangi itu tertata rapi di pinggir kolam, Melati bersama bunganya yang putih dan wangi floral itu berdampingan dengan Bunga Sepatu yang kecil itu. Selanjutnya di antara bunga-bunga itu terdapat beberapa tanaman bonsai yang menyempurnakan pemandangan. Lalu pandanganku tertuju pada Pohon Kopi yang berada di pojok kolam “Anjengg, sendalku di sana!” Ternyata sepasang sandalku berada di atas pot Pohon Kopi itu, entah siapa yang menaruhnya. Barangkali Tuhan?
Tanpa berpikir panjang aku berlari ke pohon kopi itu sebab iqomah sudah terdengar sejak tadi. Tanpa hati-hati aku berlari ke pohon kopi itu dan kacaunya aku terpeleset lumut yang menyelimuti pinggiran kolam.
Byurrrr! Aku berenang bersama ikan-ikan yang ada di kolam itu. Anjeng! Umpatku dalam hati.
Tiba-tiba saja kakiku ditarik oleh kerumunan ikan yang ada di kolam itu. Beberapa ikan yang kecil-kecil menabrakkan dirinya ke wajahku. Ikan Sapu-sapu tak ketinggalan mengelapkan moncongnya ke wajahku. Berjalan beberapa detik, sepuluh detik, tiga puluh detik hingga tiba-tiba “Anjeng!” Aku terbangun dari tidurku dengan tersentak kaget tak beraturan sebab kamarku dikerubungi oleh kawan-kawan kuliah yang sedari tadi membangunkanku dari tidur.
Arya yang membawa ember hitam besar dari kamar mandi itu teriak lepas kepadaku, “Bangsat! Disiram air seember ngga bangun-bangun juga kau!” Teriak Arya kepadaku yang masih terdiam bingung dan kaget. “UAS woy! Tadi mata kuliah pertama udah selese, untung kosmu deket dari kampus. Terselamatkan kau!” Teriak Arya melanjutkan.
“Bajingan! Berapa menit tadi kami mbangunin kamu woy!” Teriak Budi melanjutkan. “Tak pukul-pukul mukamu sambil dilap pakai kanebo juga belum bangun kau Jing!” Lanjut Budi merampungkan umpatannya.
“Hehehehe! Okee… oke, aku bangun! Maaf ya Man!” Sambil berdiri sempoyongan aku berjalan menuju kamar mandi dan bergegas prepare untuk menaklukan Ujian Akhir Semester ini.
Oh! Shit! Mimpi yang indah hari ini!
Sambil berjalan ke kamar mandi aku masih membaca ulang mimpi dalam tidurku tadi dan mengingatnya dengan tersenyum-senyum sendiri.
Oh! Dasar nonis cantik itu. Cantik sekali dia masuk ke dalam mimpiku. Sambil mengeluarkan kalung salib yang ada di leherku, mencopotnya dan menaruhnya di meja depan kamar mandi, aku masih tersenyum-senyum dan berniat untuk taubat dan tak mendatangi Coffee Shop Kalcer itu lagi.
Diaran. Ia Lahir bulan Januari tahun 2004. Silahkan sapa saja manusia satu ini di akun instgramnya @diar.an.





*Halo kak, mohon maaf sebelumnya. Dengan lancang saya berkomentar disini, nyuwun sewu🙏.
Pada bagian ini: “seperti sabit yang dipakai petani untuk menebas tanaman untuk menyelamatkan hidup dan keluarganya.” saya kurang enak bacanya karena terdapat 2 kata untuk yang berdekatan 😫.