
…KAMU perempuan dan aku laki-laki, atau kamu laki-laki dan aku perempuan, atau aku tidak laki-laki tidak juga perempuan dan kamu laki-laki atau perempuan, atau kamu tidak laki-laki dan tidak perempuan, sedangkan aku laki-laki atau perempuan, atau aku dan kamu sama-sama tidak laki-laki juga tidak perempuan.
Wan menemukan secarik kertas lusuh di pinggir kali. Selesai membaca tulisan di secarik kertas itu, otak Wan berputar-putar mencoba menangkap makna kalimatnya. Ia yakin kertas itu bukan surat, atau memo ditujukan ke siapa dan dari siapa. Kalimat itu semacam teka-teki, tapi bukan untuk dipecahkan, melainkan kepala yang menemukan dan membacanya yang pecah, karena kepikiran untuk menemukan makna kalimat-kalimat itu.
“Aneh”, batinnya, “apa ada orang yang bisa bertukar kelamin? Atau bahkan tidak berkalamin sama sekali? Seperti batu, teronggok bisu tanpa nafsu. Tentu ia tak mungkin berkembang biak,” ia menghela napas, kemudian meragukan pikirannya sendiri. “Kenapa batu begitu banyak di dunia ini kalau tidak bisa berkembang biak? Pasti mereka punya kelamin. Lalu senggama diam-diam, dan berkembang biak diam-diam.”
“Berarti batu punya berahi?” ragu hatinya. Tapi tak perlu dirisaukan kalaupun mereka punya berahi. Bukankah tak ada yang melarang siapa pun punya berani: manusia, kambing, babi, kodok, bahkan yang menulis di secarik kertas luruh itu. Tapi kalau punya berahi tapi tidak punya kelamin? Otak Wan makin berputar-putar lagi sehingga membuatnya pusing karena ulahnya sendiri memikirkan yang sebenarnya tak harus dipikirkan.
Ia mencoba melanjutkan membaca tulisan di secarik kertas lusuh itu. Kelanjutannya tak bisa terbaca, tulisannya pudar kena air, entah air hujan semalam atau air kencing kucing tadi pagi. Hanya bagian bawahnya yang terbaca samar-samar, yang menunjukkan si penulis itu: Dari yang laki-laki tapi bisa juga perempuan dan bisa juga tidak laki-laki dan tidak perempuan. Baru sekarang Wan yakin tulisan itu surat yang ditujukan kepada seseorang, bukan teka-teki untuk dipecahkan dan membuat pecah kepala.
Tapi sebentar keyakinan Wan berubah lagi, ia berprasangka lain. Secarik kertas itu bukan ditujukan untuk siapa-siapa. Barangkali yang menulis hanyalah anak kecil yang baru belajar baca tulis, atau belajar bahasa. Dan tulisan itu ditulis hanya untuk dibuangnya di pinggir jalan setelah dituliskannya, kemudian dipungut tangan yang kerjanya cuma memungut-mungut seperti tangannya sendiri.
Sepanjang sisa hari itu, pikiran Wan terus kembali ke secarik kertas. Saat melihat dua anak kecil berkejaran, ia bertanya-tanya: apa mereka sudah punya kelamin yang tetap, atau masih bisa bertukar? Saat melewati patung di alun-alun, ia mengamati lekuk tubuhnya yang ambigu.
*
Orang-orang memanggilnya “tukang pungut”. Anak kecil selalu takut kalau melihatnya, takut akan dipungut. “Tapi mau bagaimana lagi,” ucapnya sekali waktu, “tanganku memang suka memungut.” Memungut apa saja: plastik warna-warni pembungkus makanan, botol mineral, tas kresek hitam, kardus, kertas yang kadang berisi gambar superhero, sobekan kain, atau puntung rokok. Untuk puntung rokok yang ia temukan masih cukup panjang, biasanya langsung diselipkan di bibirnya lalu mengeluarkan korek api dari saku. Puntung itu dinyalakan dan diisap dalam-dalam.
Memang rasanya tidak enak, agak apek, tapi itu lumayan, mengurangi pengeluaran untuk membeli rokok, alasan Wan. Kadang kala ketika dia memungut kresek hitam berisi sesuatu, ternyata setelah dibuka Wan sedang memungut nasib. Kalau di malam hari dia bermimpi seekor ular besar dan melilit tubuhnya dengan jinak, maka kresek hitam itu berisi uang berpuluh-puluh lembar, dan dia yakin uang itu adalah uang para koruptor yang dibuang begitu saja karena kepepet hendak ditangkap.
Tentu saja Wan menikmati uang itu. Uang itu dia habiskan untuk berfoya-foya barang semalam atau dua malam, mentraktir kawan-kawannya, orang-orang yang senasib dengannya, tukang pungut-tukang pungut yang tak lebih baik dan tak lebih beruntung darinya. Dia membelikan mereka berbotol-botol bir, berpuluh-puluh tusuk sate kambing, dan berbungkus-bungkus rokok kretek.
Setelah perut mereka kenyang dan lidah serta tenggorokan mereka licin, maka dia mengajak mereka ke warung Mbak Siti. Di sana mereka minum satu-dua botol bir sebelum menggerayangi perempuan-perempuan muda. Duit satu kresek itu pun ludes barang semalam atau dua malam. Namun itu tak menjadi masalah baginya. “Biar tukang pungut, yang penting sombong,” selorohnya.
Tapi ketika malam harinya dia bermimpi dikejar-kejar anjing gila lalu kakinya digigit, maka keesokan harinya saat menemukan kresek hitam berisi, kalau bukan isi kotoran manusia, ya bekas pembalut perempuan. Sedangkan malam sebelum menemukan secarik kertas lusuh itu, Wan hanya bermimpi ada tangan tanpa badan menyodorkan kertas putih kosong. Tapi mimpi itu terlalu kabur untuk diingat-ingat kelanjutannya oleh Wan.
*
“Gak nyicip dulu, Wan?” sergah Mbak Siti, mengagetkannya saat dia bengong sambil memegang secarik kertas lusuh yang bikin pusing itu.
“Belum bermimpi dililit ular, Mbak.”
“Sini, ularmu saja yang dililitkan.”
“Dasar kau! Sudah tahu tubuhku kotor dan bau begini masih juga kau ajak. Nanti kalau sudah mandi aja kau goda aku.”
“Kotor fisik bukan masalah bagiku, Wan. Yang masalah kalau kotor hati. Jangankan air, dibersihkan pakai spiritus pun tak akan mempan.”
“lama-lama kau kayak tukang khotbah Jumat saja, Mbak! Apakah kau pikir aku cuma kotor fisik?”
“Ya kotor-kotor dikit kalau hatimu sih tak apa-apa,” Mbak Siti tersenyum kenes.
“Dasar penggoda!”
“Bukan menggoda, tapi persuasif, Wan. Itu bagian dari marketing.
Wan pun masuk ke warungnya. Hari sudah malam. Malam tenang-tenang saja, berjalan dengan pelan bersama gerimis menuju puncak kedamaian. Sudah hampir jam dua belas malam, Wan sudah mengambil dua botol bir dari kulkas Mbak Siti dan berjanji akan dibayarnya setelah bermimpi dililit ular besar. Mbak Siti memasang muka cemberut.
“Kenapa kau tak melilitkan diri saja ke ular sungguhan di kebun binatang?”ketusnya, sambil membelakangi Wan.
“Mungkin sudah,” gumam Wan.
Mbak Siti mendengar samar-samar dan menatapnya curiga. “Kau menjadi agak aneh hari ini?”
“Bukan aneh, Mbak. Apa kau tidak pernah merasa kita ini seperti barang pungutan? Terbuang, lalu dipungut jadi sesuatu yang lain. Laki di sini, perempuan di sana, tapi sebenarnya kita bisa jadi apa saja.”
Mbak Siti menghela napas, lalu duduk di sampingnya. Suaranya rendah. “Wan, di warung ini aku melihat banyak ‘bisa jadi’. Itu hanya permainan.”
Tapi justru kata “bisa jadi” itu yang bikin otak Wan berputar-putar
Wan tak menanggapi. Ia melangkah dari ruang depan warung menuju ruang belakang. Teman-temannya sudah di sana. Beberapa perempuan dengan wajah menor mencolek-colek pinggangnya. Ada yang membisiki kalimat tidak jelas di telinganya. Satu dari mereka kemudian menarik bajunya, yang lain lalu mengelilinginya, kemudian menahan tubuh Wan, lalu mengikatnya dengan tali tambang yang sudah disiapkan. Seketika Wan tak berkutik. Mereka menggotongnya ke ruang gelap yang luas seperti gudang padi.
Seorang lelaki berkata kepada Wan:
“Apakah kamu ingin jadi perempuan dan aku laki-laki, atau aku perempuan dan kamu laki-laki, atau aku tidak laki-laki tidak juga perempuan dan kamu laki-laki atau perempuan, atau kamu tidak laki-laki dan tidak perempuan sedangkan aku laki-laki atau perempuan, atau aku dan kamu sama-sama tidak laki-laki juga tidak perempuan?”
Wan hanya menganga mendengar itu. Seorang dari mereka begitu hafal tulisan di secarik kertas lusuh yang Wan curigai sebagai surat. “Dari mana dia tahu tulisan tersebut?” batinnya.
“Tentu. Kau yang menuliskannya, dan membuangnya begitu saja kertas itu. Tapi niatmu membuangnya agar sampai pada kami dan kami membacanya, bukan?” jawab salah dari mereka yang kini telanjang di depan Wan.
“Ya betul,” kata yang lain.
Dalam kebingungan Wan berteriak memanggil Mbak Siti, ia ingin menanyakan “ini yang hanya permainan itu?” Namun mereka semakin ganas dan beringas pada tubuh Wan. Seseorang sambil mencopot pakaiannya, berkata: “Kami adalah jawaban dari teka-teki yang coba kau hindari. Bentuk dari semua pertanyaan yang kau buang ke dalam mimpi.”
Wan mencoba meraba saku celananya dengan tangan yang ikatannya agak longgar, untuk mengambil secarik kertas lusuh tadi. Tangannya tak tergapai. Akhirnya ia menyerahkan tubuhnya untuk dipungut menjadi bagian dari kalimat-kalimat di secarik kertas.
Kim Al Ghozali AM lahir di Probolinggo dan memulai proses kreatifnya di Bali dalam pergaulan sastra di Jatijagat Kampung Puisi. Kini ia menetap di Surabaya. Buku terbarunya: Setelah Deru Paku dan Palu (JBS, 2025). Bisa disapa melalui Instagram @kim_al_ghozali




