Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 1)

Ketika Kitab Tubuh Dibuka

Tubuhku kini adalah kitab
yang perlahan kubuka dalam senyap:
halaman-halaman bertulis darah dan doa,
puisi yang belum selesai
di antara nafas yang tersengal.

Di dalamnya tumbuh pohon-pohon sunyi
dari kata-kata yang pernah kusembunyikan.
Akar-akarnya menyusup ke daging,
mencari makna yang tak sempat kutanyakan.
Apakah ini derita atau rahmat?
Mungkin keduanya, seperti hujan
yang tak henti membasuh tanah yang retak.

Rindu di tubuh ini bukan sekadar rasa,
ia adalah api lembut yang tak bisa padam,
mengalir dalam urat
seperti cahaya sunyi
di celah malam yang tak bersuara.

Tak semua halaman kehidupan harus dibaca terbuka.
Sebagian harus ditutup,
seperti rindu yang tak lagi dipanggil.
Namun aku masih menunggu,
jawaban yang tersembunyi di balik luka
dan harapan yang lirih di dalam darah.

Wahai waktu,
izinkan aku menulis kesakitan ini
sebagai lembaran yang tak sia-sia,
karena setiap perih adalah jalan pulang
menuju cahaya yang tak kasatmata.
Di sinilah aku belajar merangkul rasa
sebagai bagian dari kehendak-Nya.

2025

***

Detak yang Tersesat

Detak itu hilang,
Seperti cinta yang terlepas dari tangan,
Aku mengejarnya,
Namun ia terus lari,
Meninggalkan aku dengan jejak waktu
Yang tak bisa kubaca.

Jantungku berdetak seperti rindu,
Namun tak ada suara yang keluar,
Hanya hampa,
Seperti mulut yang kering
Setelah bertahun tak bersuara.

Ke mana perginya detak itu,
Ke mana perginya hati yang terbuang,
Aku bertanya pada langit yang bisu,
Pada angin yang berlalu,
Pada bulan yang setia
Namun tak pernah menjawab.

Aku ingin menjerit,
Namun mulutku terkunci,
Seperti cinta yang tenggelam dalam diam,
Seperti sepi yang membunuh hasratku.

Dan dalam diam ini,
Aku menemukan diriku terjerat,
Di antara nafas yang tersesat,
Di antara harapan yang pupus.
Aku bertanya,
Apakah ini akhir dari semuanya,
Ataukah hanya permulaan dari sebuah kisah?

Detak yang hilang itu adalah aku,
Aku yang mencari,
Aku yang jatuh dalam rindu,
Aku yang terkurung dalam
dinding-dinding tubuh ini.
Namun dalam pencarian yang tak henti,
Aku tahu,
Aku akan menemukanmu. Seperti
menemukan cinta yang telah lama hilang.

2025

***

Ketika Tubuh Menolak Bicara

Tubuh ini seperti ruang yang tiba-tiba bisu,
tak menjawab panggilan,
tak memberi isyarat.
Kumasuki ia dengan sejuta tanya,
namun ia hanya mengerang
di sudut-sudut yang tak kutahu letaknya.

Pernah kupikir tubuh adalah sahabat,
yang akan mengadu bila lelah,
tertawa bila bahagia.
Ternyata ia bisa bersekongkol
dengan sepi yang paling pekat,
mengunci lidahnya
ketika aku paling butuh jawaban.

Kupeluk ia dalam zikir,
kusentuh dengan doa,
namun ia hanya menggigil
seperti anak kecil kehilangan ibunya.

Mungkin tubuh ini sedang belajar diam,
agar aku lebih tekun mendengar
suara dari dalam yang lama kulupakan:
suara jiwa,
suara Tuhan
yang dulu terlalu lirih
di tengah riuh rencana-rencana dunia.

2025

***

Cermin di Ujung Dini Hari

Di ujung dini hari,
cermin itu menantangku dalam sunyi,
seperti senyap yang menunggu jawaban
dari tanya yang tak pernah selesai.

Aku menatapnya,
namun tak kutemui diriku
hanya bayang-bayang
yang ragu akan bentuknya sendiri.
Apakah ini aku yang tercermin,
atau hanya serpihan wajah
yang terhapus oleh malam?

Cermin itu bukan hanya kaca,
ia adalah ruang di mana aku bertemu
dengan ruang-ruang sunyi dalam diriku.
Di sana ada pertanyaan tentang makna,
ada kerinduan yang tak terucap,
ada air mata yang tak mampu jatuh.

Aku ingin memecah cermin ini,
agar tidak lagi tercermin
kebingunganku yang abadi.
Namun di balik pecahan kaca itu,
aku hanya akan melihat
diriku yang hilang di antara waktu.

Dan di balik bayangan itu,
ada pesan yang aku tangkap dengan getar hati:
bahwa diri yang sejati tak terkurung dalam rupa,
bahwa cermin ini hanya mengajarku
untuk melampaui bentuk,
untuk menemukan diri yang lebih dalam
dalam diam dan perenungan.

2025

***

Balada Gula dan Air Mata

Suatu pagi tubuhku berbicara:
“Gula dalam darahmu sudah tak patuh,”
dan aku hanya tersenyum kecut,
di hadapan sisa kue semalam,
yang masih menggoda dengan manisnya.

Istriku menatap sambil menggenggam
hasil lab yang tak bersahabat.
“Sudah saatnya kau belajar menakar rindu
dengan sendok yang lebih bijak,” katanya.
Aku terdiam,
seperti nasi yang tak lagi pulen
di ujung meja pengampunan.

Air mata tak tumpah,
namun hatiku kuyup oleh sesal
yang perlahan menguap bersama teh pahit,
tanpa gula,
tanpa alasan,
selain ingin hidup lebih lama
untuk mencintainya dalam detak yang tenang.

“Tubuhmu bukan mesin,”
bisik malam saat aku terjaga,
“ia mencatat setiap abai,
menyimpan dendam dalam sel-selnya,
hingga akhirnya menuntutmu dengan sunyi.”

Dan aku pun menulis,
dengan tinta yang berasal dari insulin,
tentang hari-hari yang lebih hening,
tentang peluh yang lebih sabar,
tentang cinta yang belajar ikhlas,
melepas rasa, demi tetap bersama.

Jika kelak aku lupa rasa manis,
biarlah ingatanku tentangnya menjadi doa:
bahwa hidup adalah jejak yang tak terhapus,
meski hujan datang,
tentang menakar harap dalam hening,
dan memaafkan diri,
yang kadang tak cukup kuat menjaga.

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top