
Mayoran, istilah yang dikenal oleh masyarakat Jawa khususnya di dunia pesantren. Istilah ini sering dipakai untuk memberikan sinyal bagi santri bahwa waktu makan telah tiba. Mayoran sering dijumpai pada acara-acara besar pesantren seperti pengajian, selapanan, maulidan dan berbagai kegiatan pesantren lainnya.
Secara sederhana mayoran merupakan kegiatan makan bersama dengan menjadikan daun pisang atau nampan sebagai wadahnya. Para santri duduk melingkar atau duduk memanjang mengelilingi makanan. Tak sedikit pula para santri khususnya laki-laki yang sembari mengangkat kaki kanannya, atau dalam istilah Jawa sering disebut jegang. Mayoritas pesantren masih menggunakan mayoran sebagai tradisi turun temurun, sebagai cara sederhana menikmati makanan dan membangun kebersamaan. Tradisi ini juga turut mewarnai para santri di pesantren yang penuh dengan kisah kasih kehidupan.
Cerita ini ditulis untuk mengenang bagaimana seorang santri hidup dalam kesederhanaan. Bahkan dari makanan, santri belajar bersyukur dan mengamalkan sunnah nabi yang masyhur. Sejenak mengingat perjalanan kami bertahan di pesantren. Memilih kehidupan sepi, jauh dari hiruk pikuk duniawi namun dekat dengan Ilahi. Kadangkala sependapat, kadangkala berbeda dan dipaksa sepakat, namun kalau urusan makan kami selalu berdampingan dan merapat.
Sebagai seorang santri kami diajarkan untuk menjadi pribadi yang mampu menerima. Menerima makanan, menerima ilmu, menerima perintah dan apapun yang dimandatkan sang kyai. Dengan prinsip sami`na wa atho`na, kami hidup. Artinya kami mendengar, dan kami taat. Termasuk dalam ajaran menghabiskan makan tanpa sisa, menggunakan nampan dan alas makan seadanya yang kami sebut dengan mayoran ini. Meskipun hanya tentang makan, berbagai kisah baru tumbuh. Menguatkan hati yang jauh dari pelukan ibu, merasakan ketenangan dekat dengan guru.
Duduk melingkar, mengelilingi nampan berwarna yang siap mengisi perut kami yang lapar. Tak banyak basa basi, merapatkan barisan seraya berdoa dan menyantap sesuap nasi kebuli. Pada beberapa kali kesempatan, mayoran yang kami lakukan berpencar dengan siapapun yang hadir di acara pesantren. Tanpa mengenal nama dan alamat, kami bersatu untuk mayoran yang mana menjadi acara inti dari setiap acara-acara yang lain. Dari sinilah, mayoran mampu menyatukan, menguatkan serta menjadi sarana perkenalan. Siapapun dan dari komplek manapun, duduk bersama menikmati makanan adalah sesuatu yang berharga. Masih diberi kesempatan untuk makan saja sudah Alhamdulillah, apalagi bertemu dengan teman-teman yang mampu mengantarkan kami kepada kebaikan untuk mengucap Alhamdulillah.
Meskipun tak semua dari kami menyukai menu-menu mayoran pesantren, tak menjadi penghalang bagi kami untuk seraya menorehkan senyum. Memberikan sinyal syukur, serta menghormati mbak-mbak dapur yang berjibaku menyiapkan segala masakannya. Ada yang suka nasi tak suka lauk, suka ayam tak suka sayur, suka mengingat kenangan masa lalu tapi sudah punya yang baru pun, juga ada. Bukan hanya rasa enak dari makanan yang kami santap, tetapi juga rasa nyaman berada dalam lingkaran kebaikan.
Mayoran mampu menjadi sebuah sarana bagi seorang santri di kalangan pesantren untuk belajar berbagi, menghargai sesama dan mensyukuri nikmat Sang Maha Pemberi. Tak hanya itu, mayoran juga menjadi momen yang ditunggu oleh santri karena kenikmatannya, kebersamaannya dan cerita serta canda tawanya. Tak heran santri-santri lebih betah apabila mayoran ini dilakukan, dibanding dengan makan sendiri di kamar, mengurung diri dan tiba-tiba, mengingat mantan. Mayoran ini tradisi sederhana. Dapat dilakukan di manapun, oleh siapapun yang ingin menyantapnya. Mereka menyadari bahwa persatuan dan kerukunan umat dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang selalu dilestarikan. Hanya dengan perihal makan, keimanan tumbuh melalui syukur kebersamaan tercipta menorehkan senyum dan perut kami seraya makmur.
Di dunia pesantren kehidupan kami tidak hanya disuguhi oleh aktivitas ukhrowi. Pesantren juga banyak mengajarkan santrinya bagaimana memaknai kehidupan, menemukan solusi di masyarakat, menemukan cinta dalam kebersamaan dan yang paling sederhana menikmati syukur dengan mayoran. Tak hanya itu pesantren juga mampu menumbuhkan rasa mahabbah atau kecintaan terhadap sosok guru, dengan mengikuti ajarannya, santri mampu terdidik menjadi orang yang bermanfaat untuk mewujudkan islam yang rahmatal lil `alamin.
Tradisi mayoran ini tetap berkembang meskipun arus modernisasi menggerus zaman. Bahkan mayoran juga dapat menjadi identitas bagi seseorang untuk menyebutnya seorang santri. Tradisi ini menciptakan suasana harmonis yang dinikmati oleh seluruh santri. Mayoran tidak hanya menjadi ajang penguat kebersamaan, namun juga bentuk ke-tawadhu-an santri meniru laku gurunya. Dari tangan ke tangan makanan disajikan, melalui mayoran keberkahan tersampaikan.

Isna Akhirotun Nisa, nama lengkap yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Hobinya nyeni melalui diksi dan mencari info ngopi untuk membangunkan imajinasi serta memberikan amunisi kepada jiwa yang ditinggal pergi. Berdomisili di Purwokerto Timur, Banyumas. Bisa dihubungi melalui Ig @isnaakhirotun.




