Manusia dan Sebuah Perjalanan Menuju Tuhan

Indonesia merupakan negara yang berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, meski tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakatnya sebagian tidak mengindahkan aturan Tuhan, bahkan bagi mereka telah mendapat amanah dari Tuhan untuk menduduki singgasana kekuasaan. Mereka tidak salah, hanya saja mereka belum mengerti makna manusia dan Tuhan dalam Perjalanannya sehingga banyak ketidakadilan yang terjadi di dalam negeri ini sebab ulah mereka.

Dalam ajaran islam, Manusia yang terbaik ialah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya seperti yang diucapkan oleh Muhammad ”Khoirunnas Anfa’uhum linnas”. Hal tersebut selaras dengan ajaran hindu yang   mengajarkan keselarasan kehidupan spiritual, berpegang kepada dharma (kebenaran), serta memiliki  karakter sapurta (berbudi Luhur). Dalam keyakinan Kristen juga menyatakan bahwa manusia yang baik ialah mereka yang memiliki kehidupan selaras dengan kehendak Allah, mencerminkan karakter Kristus, dan memiliki integritas moral.

Dalam bernegara, konsep ketuhanan memiliki peran penting,  sebab nilai ketuhanan mampu menuntun manusia menuju pada kebajikan dan keadilan. Dengan seorang yang memiliki nilai ketuhanan dalam amaliah-nya, maka Ia akan menjadi tangan Tuhan dalam mengelola negara  yang tengah dipimpin olehnya sehingga negara yang dipimpinnya sejahtera, rakyatnya tak sengsara, dan keadilan ditegakkan (tidak tumpul kebawah).

Dalam era modernitas ini, di mana setiap  ilmu dapat kita akses dengan  mudah melalui berbagai platform media seharusnya mampu mendukung kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan berusaha untuk menjadi tangan-Nya di muka bumi. Namun, fenomena yang terjadi justru sebaliknya, dengan adanya arus informasi yang berlimpah, manusia justru memanfaatkan untuk melakukan sesuatu yang menjadikan dirinya semakin jauh dari Tuhan dan berorientasi pada nilai materialistik, tanpa mempertimbangankan nilai moralitas serta meniadakan amalan leluhur yang telah diwariskan.

Di masa kini, agama menjadi barang dagangan empuk bagi sebagian manusia yang hanya berorientasi pada nilai materialistik. Dengan menjual agama dan mengandalkan kepercayaan manusia, mereka dengan mudah untuk meraup keuntungan dengan berbagai cara tertentu dan berkedok menjadi sesuatu. Maka, di era  sekarang Agama menjadi sesuatu yang dibutuhkan. Bukan sekadar pengetahuannnya, tetapi juga amaliyah-nya. Dalam hal ini Guru memiliki peran penting bagi manusia untuk menuntun pada kehadirat Tuhan. 

Dalam perjalanan penulis, ia memiliki pandangan bahwa Tuhan ialah ”apa yang paling manusia cintai”. Ketika manusia begitu mencintai harta, maka ia menuhankan harta. Ketika seorang ibu begitu mencintai putranya, berarti Ia telah menuhankan anaknya sendiri. Begitu pula ketika seorang pria yang begitu mencintai kekasihnya, berarti  ia menuhankan kekasihnya.  Namun, setiap manusia memiliki perjalanannya masing – masing untuk dapat sampai pada Tuhan Yang Maha Esa.

Lantas, bagaimana kita tahu tentang Tuhan? Kita dapat menemukan tuhan dalam keadaan hening, renungan mendalam, atau bahkan ketika kita berada di persimpangan jalan dan kemudian berbagi makanan dengannya. Sementara untuk mencapai kebenaran sejati Tuhan, setiap kita mesti mencari dengan caranya sendiri. Ada banyak cara untuk menuju kepada Tuhan, dapat melalui ajaran Agama atau bahkan budaya yang tumbuh dalam masyarakat.

Dalam islam  bisa melalui ilmu tasawuf atau ilmu yang digunakan untuk menyucikan jiwa, membersihkan akhlak serta mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebagai Tuhan yang dipercayainya. Dalam ilmu tasawuf juga memiliki empat tahapan (Maqam) untuk dapat sampai kepada Allah Swt. Maqam itu meliputi Syari’at, Tarekat, Ma’rifat, dan Hakikat. Ketika seseorang telah sampai pada maqam Hakikat maka ia akan memiliki budi yang baik dan mampu menjadi seorang yang pemimpin yang arif dan bijaksana. Namun, jarang sekali manusia yang mencapai pada maqam hakikat, bahkan seseorang yang telah mencapai maqam ini lebih memilih untuk memperhatikan bagaimana dunia bekerja dan memerankan perannya di balik layar sebaik mungkin untuk bermanfaat bagi orang di sekelilingnya.

Dalam agama hindu manusia akan dinyatakan berhasil manakala ia telah mampu melepaskan ego yang ada dalam dirinya serta mampu untuk moksa dan mencapai pada realitas sejati. Dalam agama hindu juga diajarkan mengenai tahapan spiritualitas agar mampu mencapai tujuan tersebut melalui catur yoga (empat jalan). Jalan tersebut meliputi Jnana Yoga (Pengetahuan), Karma Yoga (tindakan tanpa pamrih), Bhakti Yoga (Pengabdian), Raja Yoga (meditasi). Dengan melalui jalan tersebut maka manusia akan menyadari mengenai hakikat keberadaan dirinya, terutama pada tahapan Raja yoga dimana manusia melakukan Samadhi, suatu aktivitas mengosongkan diri dan berusaha untuk berdialog dengan Tuhan dalam keadaan hening.

Dalam masyarakat Jawa, terdapat suatu kepercayaan yang telah berkembang sebelum adanya agama hindu—budha. Dimana mereka meyakini bahwa alam semesta ini telah ada yang menciptakan, dan mereka menyebutnya dengan Sang Hyang Toyo. Dan masyarakat jawa mampu menemukan Tuhan dalam keadaan hening, dan mendefinisikan tuhan sebagai tan keno kinaya ngapa (tidak dapat dilihat, dipikirkan, dan diapa-apakan). Masyarakat jawa tidak hanya memiliki pengetahuan mengenai konsep ketuhanan, melainkan juga dengan kesadaran penuh sehingga orang jawa memiliki sifat yang berhati hati dalam melakukan setiap lelaku (Perbuatan). Dengan adanya bekal kepercayaan tersebut, agama Hindu, Budha, dan Islam dengan mudah diterima oleh masyarakat jawa. Namun, meskipun masyarakat jawa memeluk agama tersebut, mereka tetap menerapkan prinsipnya sebagai orang jawa sehingga pada mereka melekat identitas yang kerap disebut Kejawen. Dalam praktiknya, Kejawen tidak melalui tahapan khusus seperti kepercayaan lainnya, yang dilakukan masyarakat kejawen ialah mengenali dirinya sendiri dengan olah batin untuk mencapai penyatuan dengan Tuhan (manunggaling kawula gusti). 

Penulis merupakan seorang yang mencari makna Tuhan, dan dalam perjalannya tersebut Ia ditemani  rembulan untuk dapat sampai kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan adanya Tuhan dalam hati manusia, maka  setiap tindakannya akan memunculkan sikap welas asih  dan mengayomi bagi  sesamanya sehingga Ia mampu  menjadi seorang yang bermanfaat dengan jalan yang telah Tuhan takdirkan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top