Narapati Basukarna: Sebuah Kehormatan, Kesetiaan dan Pengorbanan

Yogya malih kinarya palupi
Suryatmaja Narpati Ngawonggo
Lan Pandawa tur kadange
Liyan yayah tunggil ibu
Suwito mring Sri Kurupati
Aning negeri Ngastina
Kinarya gul-agul
Manggolong golonganing prang Bratayudha
Ing adegan senopati
Ngalaga ing Kurawa


(Dhandhanggula Tlutur)

Banjaran Karna

Kisah sebuah epos yang menarik diteliti untuk menjadi pelajaran hidup, sebagai sarana untuk melakukan refleksi langkah dan perjalanan hidup sebagai manusia. Seorang anak laki-laki yang lahir karena sebuah kecelakaan, dibuang oleh ibunya sendiri Dewi Kunti, yang merupakan seorang putri kerajaan Mandura Kunti Boja (versi wayang), yang memiliki saudara laki-laki yakni Basudewa, yang menurunkan Baladewa, Krisna dan Sembadra. Kunti yang berguru kepada resi Durwasa dan dianugerahi sebuah ilmu Aditya Werdaya (kunta wakasing rasa sabda Tunggal tanpa lawan) yang dapat memanggil Dewa Surya. Oleh sang resi, Kunti diwanti-wanti agar tidak melafalkan mantra tersebut sembarangan, karena akan berakibat fatal jika digunakan dengan tidak hati-hati. 

Waktu malam hari Kunti penasaran dengan ilmu yang diajarkan gurunya, dia merapalkan mantra- Aditya Werdaya, kekuatan ilmu tersebut sebagai undangan untuk Dewa Surya turun ke bumi menemui Kunti dan terjalin hubungan hingga Kunti mengandung jabang bayi. Mengetahui dirinya hamil, Kunti tidak pernah keluar dari kamarnya, hingga menimbulkan kekhawatiran Prabu Kunti Boja terhadap putrinya dan mengutus Basudewa untuk memastikan ada apa sebenarnya dengan Kunti selama ini, singkat cerita Kunti ketahuan sedang hamil dan betapa kagetnya Basudewa mengetahui kasus ini, mengingat ia belum menikah tetapi sudah hamil entah siapa yang melakukannya.

Kemudian Basudewa memanggil Resi Durwasa atas kasus yang sedang terjadi, Resi Durwasa yang mengetahui sebab kejadian ini, kemudian dengan mantra-mantra membantu proses melahirkan cabang bayi dari Kunti memalui lubang telinga. Tidak ingin terjadi muncul kekisruhan di negara Mandura, Basudewa merekondasikan untuk menyingkirkan bayi yang baru lahir untuk tidak berada didalam keraton Mandura, sebelum dibuang bayi tersebut diberi nama Basukarna. Dengan pertimbangan Resi Durwasa bayi tersebut dilarung di Sungai Gangga

Karnaparwa

Karna muda menjalani hidup yang penuh ujian, diasuh oleh seorang sais kereta kencana milik Adipati Destarata (ayah Kurawa), ia memiliki semangat dan tekad yang kuat untuk menggali ilmu-ilmu untuk dipelajari sebagai pegangan hidup. Secara sembunyi-sembunyi ia mengikuti pelajaran dari Resi Kumbayana (Durna) yang telah dibaiat untuk menjadi guru perang khusus keluarga keturunan Abiyasa yakni para Pandawa dan Kurawa. Durna tidak diperkenankan untuk mengajarkan ilmu perang kepada selain trah Sapta Arga (Abiyasa). 

Aktivitas Karna diketahui oleh orang tuanya, dia dihardik untuk bisa tau diri, derajatnya bukan dari keturunan ningrat Astina. Karna tetap kukuh menyatakan bahwa ilmu tidak bisa dibendung untuk dicari dan dipelajari oleh siapapun, kemudian ia menemui Durna untuk ikut belajar. Namun dengan tidak hormat, ia dihardik dan direndahkan, bahwa dia tidak pantas untuk mendapatkan ilmu dari Durna, karena Karna hanya sebagai anak kusir kereta dan tidak pantas mengikuti pelajaran kelas satria darah biru. 

Dengan kekecewaan, Karna menerima penolakan tersebut dan menelusuri siapa sebenarnya gurunya Durna. Dia menemukan jawabannya, ia adalah Ramabargawa (Parasurama/Ramaparasu dalam mitologi Hindu) dipertapaan Daksinapatra dan mendapat ajian Kalakupa dan Naracabala.

Keteguhan Yang Nyata

Jalan hidupnya yang kompleks akan ketertindasan, namun seorang Basukarna tidak lantas menjadi seorang penindas, versi Jawa ketika dia menaklukkan Kerajaan Angga (Ngawonggo). Dia tidak lupa diri dengan kekuasaan yang diraihnya. Ia tahu diri, posisinya sebagai tangan kanan Kurupati tetap ia pegang teguh. Ia tidak membasmi membalas orang yang dia tidak memiliki kepentingan atas laku hidupnya. Bahkan Ketika saat dirinya dicaci Drupadi yang menganggap rendahkan derajat Karna saat ujian para murid guru Durna, ia dipojokkan Bhisma dengan meremehkan kemampuan dan kedudukannya sebagai golongan sudra. Ia menyadari tidak perlu membalas perbuatan mereka dengan mengotori tangannya dengan cara kekerasan. Sebuah sikap elegan, ia diam tapi mengamati setelahnya atas orang-orang yang selalu merendahkannya, sikap bukan tidak peduli, namun ia tahu bahwa hidup adalah sebuah roda berputar.

Saat Drupadi diperdaya oleh Dursasana, Karna diam, sebab ia tahu jika seseorang yang dulu meremehkannya ditolong, akan dianggap sebagai seorang penjilat. Saat Bhisma tersungkur di Kurusetra dan hampir menemui ajal, Karna mendatangi Bhisma bukan untuk berbelas kasih, kepada Karna, Bhisma membuka siapa sebenarnya Karna, bahwa dia Adalah anak dari Kunti dengan Dewa Surya.

Jalan Sunyi Dan Kedermawanan

Penolakan yang dia terima saat akan mencari ilmu, kutukan yang ia terima dari gurunya karena telah berbohong sejatinya siapa dirinya agar bisa diterima sebagai murid Ramaparasu, nanti semua ilmu yang diajarkan kepada Karna akan menghilang jika sewaktu ia terdesak akan menggunakan ilmu tersebut. Kekuatan olah batin Karna dengan bentuk darma yang dia emban sebagai wujud ekspresi diri ketika penolakan, ejekan, dan dipandang rendah oleh sekelompok orang yang sedang memiliki kedudukan, yang tidak lain adalah saudara sendiri.

Karna tidak menjadi seorang pendendam. Ia berhasil mengeksplorasi kekuatan dan kemampuan diri untuk menjadi seorang yang tampil dengan kecakapan dan keterampilan, seperti mengatur sebuah negara kecil (Ngawonggo/Angga) dan kecakapan ilmu perang. Kedermawanan Karna diuji salah satunya saat seorang pendeta meminta kayu bakar kering saat hujan deras, ia dengan penuh kesadaran mengambil kayu pintu di kerajaan untuk diberikan kepada sang pendeta untuk digunakan sebagai kayu bakar. Ia menganggap kebaikan bukan sebagai darma, namun sebuah kewajiban diri agar orang yang meminta pertolongan tidak kecewa.

Kemudian kedermawanan kedua saat menjelang perang Baratayudha, Dewa Indra menyamar sebagai seorang brahmana, ia meminta cincin Socamaningrat dan baju perisai (Kawacayuda/krei kasuwargan) Karna. Tanpa ragu dua barang tersebut diberikan dengan sukarela. Meski ia sadar bahwa dua barang tersebut adalah pusaka penyelamatnya ketika perang tanding terjadi.

Tripama Sebagai Sudut Pandang 

Cerita tiga tokoh, yang ditulis oleh Mangkunegara IV, salah satunya Adalah Adipati Karna. Kesetiaan dan tidak pernah ingkar janji meski dia berada di posisi yang menyulitkan. Seorang perwira yang menjadi andalan Duryudana dalam mengatasi berbagai urusan-urusan militer dan diplomasi negara Astina. Hingga menjelang akhir hidupnya, dia bertemu dengan Kunti, yang memintanya untuk berbalik arah mendukung Pandawa, namun dengan tegas dan rendah hati ia menyatakan penolakan dan tetap setia terhadap orang yang telah menyelamatkan hidunya ketika dulu semua orang mencibir dan merendahkannya.

Cinta kesetiaan dan takdir akan saling berhadapan, mengingat siapa orang yang telah menolong kita di saat kita sedang di posisi terpojok, Adalah sebuah kemuliaan, jangan menjadi kacang lali lanjaran, Adipati Karna adalah contoh nyata bahwa latar belakang seseorang tidak menentukan nilai dan kemampuannya. Ia mengajarkan bahwa martabat dan kehormatan diperoleh melalui tindakan dan pilihan hidup, bukan dari asal usul kelahiran. Sifat percaya diri tegas berpendirian, balas budi, tidak berkhianat dan pembela wong cilik, yang menjadi contoh dari kisah hidup Karna.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top