
Seorang sahabatku adalah penggemar berat Mas Bayu Skak. Sejak 2013 lalu temanku selalu menunggu konten Mas Bayu. Jadi ketika “Yowis Ben” rilis pertama kali semasa kami SMA, bukan hal sulit menikmati film drama komedi tersebut, bahkan sampai seri terakhirnya yang hadir di saat kami kuliah. Bagiku film ini cukup seru karena dari semua sekuelnya hampir full berbahasa Jawa Timuran (ada juga yang berbahasa Indonesia dengan dialek Jawa Timuran), entah kenapa komedi dari film ini lebih menyenangkan dengan penyampaian bahasa dan dialek Jawa Timuran, rasanya akrab meskipun aku bukan orang yang lahir atau berdomisili di Jawa Timur. Seperti turut merasa memiliki.
Lalu ketika “Lara Ati” rilis, aku bisa memaklumi kehebohan temanku yang sampai hadir di meet and greet dengan para cast film tersebut, kehebohan yang biasanya aku lihat pada teman-temanku yang lainnya ketika melihat idol K-Pop. Saking berarti dan berkesannya momen yang terjadi di 2022 lalu, aku masih bisa melihat highlight momen tersebut di akun instagram temanku itu. Menariknya lagi, sebagai penggemar berat Mas Bayu Skak, temanku dengan percaya diri menyebut dirinya adalah penggemar karya ‘J-Pop’ atau yang berarti ‘Jawa Populer’ untuk melabeli tingkat ke-fangirl-an temanku itu yang setara dengan para fangirl K-Pop.
Meskipun aku juga penikmat dari film-film Bayu Skak, namun aku tetap penasaran dengan alasan temanku sebegitu mencintai karya-karya Bayu Skak, mengingat temanku ini sudah lebih dulu menjadi penggemar Bayu Skak sebelum lahirnya “Yowis Ben”. Setelah aku tanyakan alasannya, sama sekali tidak ada yang aku sanggah, karena alasan tersebut juga yang ada padaku meskipun satu dua hanya selintas pernah ada di pikiranku. Obrolan dengan temanku tersebut mulai terpantik setelah kurang lebih dua hari lalu muncul video yang diunggah Bayu Skak di akun instagramnya tentang niatannya membuat projek berikutnya adalah film Jawa Ngapak. Tulisan ini, mungkin adalah bentuk mengkonkretkan ‘satu dua yang hanya selintas pernah ada di pikiranku’, juga hasil bengongku setiap olahraga pagi (salah satunya, belum bengong di kesempatan lainnya), termasuk hasil kesana kemari seorang diri di Purwokerto ini, tentunya obrolanku dengan temanku yang J-Pop itu.
Pelopor Youtuber Jawa
Kalau aku biasa melabeli diri sebagai ‘kaum Raditya Dika’ selain ‘kaum Pandji’ atau ‘kaum Dzawin’ juga ‘kaum Om Ded’ dalam konteks YouTube, mungkin label ‘kaum Raditya Dika’ adalah benang merah dari ‘J-Pop’ versi temanku. Seperti Raditya Dika, Bayu Skak mungkin adalah pendahulu YouTube sebelum maraknya muncul youtuber lainnya, beliau berdua seangkatan. Sewaktu ditanya alasan menjadi penggemar Bayu Skak, jawaban pertama temanku adalah: karena Bayu Skak adalah pelopor youtuber Jawa.
Label tersebut menarik bagiku karena menurutku label tersebut menunjukkan adanya sosok yang menjadikan daerah sebagai branding, bahkan mungkin lebih jauh adalah visi. Unik saja kalau dengar ‘pelopor youtuber Jawa’, singkatnya mungkin adalah anak daerah yang ingin memperkenalkan nilai atau karakteristik kedaerahan, dan itu cukup membedakan dengan youtuber lainnya (apalagi jika itu adalah pelopor).
Aku sebagai pemirsa YouTube di era ramainya konten vlog memahami ketika temanku itu menyebutkan bahwa ‘pelopor youtuber Jawa’ idolanya itu memikat karena kontennya yang bukan sekadar nge-vlog lalu edit tipis dan upload, melainkan proses editing yang totalitas sebelum upload. Sebab di era itu (kalau tidak salah aku baru lulus SMP) aku sempat berpikir: konten yang bagus itu yang bagaimana? Apa indikatornya? Apakah ‘ide’ atau ‘gagasan’ yang disampaikan dalam konten? Apakah visualnya yang berarti editing-nya? Atau kontroversinya? Pikiran ini muncul karena terlalu banyak vlog yang muncul dan ramainya konten yang menurutku hanya ingin mengundang kontroversi atau viewers, yang banyak tanpa gagasan, apalagi dengan visual yang menakjubkan. Pemaknaan visual dalam hal ini lebih mempertontonkan kemewahan materi atau singkatnya adalah konten ajang pamer materi, bukan kemampuan editing. Sehingga aku sempat bingung: apa itu karya dalam YouTube?
Pertanyaan itu terjawab bertahun-tahun kemudian, tepatnya baru saat ini, bertepatan saat temanku menyebutkan bahwa konten Bayu Skak yang membuatnya jatuh cinta dulu adalah konten-konten yang dikemas dengan rapi, penyajiannya yang bisa dilihat bahwa konten tersebut memang niat, dengan storyline yang bagus. Iya, jawabannya itu, indikator konten yang bisa disebut ‘karya’ dalam YouTube adalah karya yang mencakup tiga hal: kemasannya rapi, penyajiannya niat, dan memiliki storyline yang bagus (aku belum sampai ke tahap membahas storyline yang harus ‘baik’ atau ‘menarik’).
Aku harus mengucapkan terima kasih kepada temanku yang secara tidak langsung sudah memberikan jawaban dari pertanyaanku semasa lulus SMP dulu. Terima kasih, Eca!
(Masih) Tentang Konten yang Pantas Disebut ‘Konten’
Sahabatku itu menyebutkan alasan selanjutnya menjadi fans garis keras Bayu Skak adalah karya-karya yang mengangkat isu sosial. Ketika temanku menyebut hal ini aku sempat bengong di dalam masjid selepas Zuhur: aku baru sadar kalau karya Bayu Skak ini mudah dinikmati, ringan untuk dipahami, tapi ada isu sosial yang tidak seringan atau semudah itu dihadapi. Dengan begitu, aku menyebut karyanya adalah karya dengan storyline yang baik, sebab storyline yang baik dan rapi tidak akan menyulitkan penontonnya untuk memahami ceritanya dan tidak memaksa penonton berpikir keras untuk menemukan pesan moral dari yang sudah ditontonnya.
Salah satu contohnya saat aku menonton “Sekawan Limo”, film horor komedi yang menceritakan lima orang yang mendaki gunung bersama, yang ternyata salah satunya adalah hantu yang merupakan pendaki yang sudah meninggal sebelumnya. Para pendaki tersebut bertemu hantu-hantu yang sebetulnya adalah masalah atau luka di masa lalu yang belum mereka terima atau maafkan. Ketika hantu-hantu ini akhirnya menghilang setelah masing-masing pendaki berbicara dengan para hantu tersebut, aku memahami bahwa pesan moral utama yang ingin disampaikan dari film ini adalah pelajaran untuk berdamai dengan masa lalu. Mungkin pesan moral sedalam ini tidak akan terbayangkan jika hanya melihat posternya saja, pun saat menonton film ini rasanya sudah larut dalam cerita petualangan yang berkali-kali diselingi komedi dan beberapa bagian horor sehingga cukup mengejutkan dengan akhir cerita dan pesan moralnya.
Jika dipikir lebih jauh, berdamai dengan masa lalu adalah PR kebanyakan orang hari ini. Hal ini rasanya bisa disebut isu sosial jika aku membayangkan contohnya adalah perpecahan dalam keluarga dikarenakan perbedaan pilihan saat Pemilu. Mungkin terlalu jauh atau besar contoh isu yang aku berikan, namun jika dipikir secara ‘gampangnya aja’: ada berapa banyak pertengkaran internal keluarga bahkan pasangan kekasih yang kandas karena kurang bijaksana menyikapi maksud ‘perbedaan’ pilihan dalam konteks Pemilu? Setelah Pemilu berakhir apakah tidak mungkin di antara mereka tidak ada penyesalan? Apakah setelah itu akan tetap bertahan pada gengsi masing-masing karena sudah terlanjur kesal dan malu jika harus bermaafan dan kembali bersama?
Tanpa menjadi isu sosial pun, berdamai dengan masa lalu adalah masalah yang dialami oleh banyak pribadi.
Tentunya karya demikian (untuk bisa sampai ke tahap bahan renungan penontonnya) bukan karya yang digarap ala kadarnya. Sebagai orang yang sering bengong setelah menonton film, aku rasa yang dikatakan temanku soal storyline yang bagus memang ada pada karya-karya Bayu Skak, film dengan storyline serapi ini pantas jika lahir dari youtuber sepuh dengan konten ber-storyline yang bagus. Aku juga setuju dengan temanku itu yang menyebut Bayu Skak sudah modern (atau pro) di zamannya (awal-awal YouTube dengan beberapa youtuber Indonesia).
Tentang Menonton “Sekawan Limo”, Angan-angan, dan Bioskop Rajawali
Aku menonton “Sekawan Limo” bersama seorang teman yang saat itu baru lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, lewat jalur non-skripsi, atau spesifiknya lulus lewat tugas akhir berupa naskah film. Setiap tahunnya dia ke Purwokerto, dan di 2024 lalu kami ke Rajawali, bioskop legendaris yang ada di Purwokerto, bertepatan dengan sedang tayangnya “Sekawan Limo”.
Pengalaman menonton film waktu itu membuatku penasaran dengan alur berpikir kreatif maupun proses kreatif dari film ini, yang kemudian lewat podcast Bayu Skak bersama Raditya Dika aku mengetahui bahwa ide awal cerita film horor komedi yang tokohnya naik gunung ini muncul semasa Covid-19, saat Bayu Skak bolak-balik Jakarta-Malang dengan mobil. Di perjalanan itulah Bayu Skak mendengarkan podcast dan menyadari bahwa kebanyakan podcast horor membahas mengenai pendakian yang selanjutnya dikembangkan menjadi sinopsis.
Namun bukan hanya itu saja yang terlintas di pikiranku saat menonton film tersebut. Ada juga angan-anganku seandainya rilis film seperti ini dengan latar di Banyumas: film dengan produksi yang proper, masuk ke layar lebar, dan dialognya hampir full bahasa Panginyongan (atau yang sering disebut bahasa Ngapak). Rasanya film itu jika ada akan sama berwarnanya dengan film berbahasa Jawa Timuran seperti karya Bayu Skak.
Seandainya film itu ada, aku juga ingin bioskop tempatku menonton ini menjadi salah satu latar filmnya, supaya bioskop yang sempat viral karena nuansa vintage ini bisa tervalidasi lewat cara yang elegan nan kreatif. Karena temanku yang dari Bandung pun ingin berkunjung ke bioskop ini, menginginkan pengalaman menonton film di bioskop yang berhasil bertahan melewati krisis moneter dan tetap ada sampai hari ini.
Grand Design Skak Studios dan Film Jawa Ngapak
Sepertinya memang benar kalau setiap angan dan doa akan dikabulkan di waktu yang tepat. Aku tidak bisa memastikan apakah anganku tentang film berlatar Banyumas itu sudah dikabulkan di waktu yang tepat, namun video yang diunggah Bayu Skak di instagramnya yang dikolaborasikan dengan akun Skak Studios tersebut sepertinya adalah hilal terkabulnya doa. Di video tersebut Bayu Skak selain mengumumkan soal niatan projek film ini juga meminta informasi lebih rinci atau spesifik tentang tempat-tempat yang bisa dijadikan lokasi shooting. Aku suka analogi yang disampaikannya tentang film adalah lokomotif yang bisa menarik gerbong-gerbong berupa potensi yang ada di suatu wilayah, mulai dari destinasi wisata, brand lokal, hingga sumber daya manusia.
Selain Bioskop Rajawali yang menjadi tempatku menonton “Sekawan Limo” waktu itu, sepertinya aku akan merekomendasikan Stasiun Purwokerto (bukan hanya karena analogi lokomotif kereta) yang khas dengan pemutaran lagu “Di Tepinya Sungai Serayu” di setiap kedatangan kereta.
Jika ditanya tempat lainnya, aku akan merekomendasikan desa yang menjadi tempatku dan teman-teman semasa kuliah dulu berkegiatan, Desa Kemutug Lor. Desa ini adalah desa wisata yang sebelumnya aku kenal karena beberapa curugnya. Namun setelah mengobrol dengan seorang kader Pokdarwis desa ini, aku mengenal desa ini lebih dekat, bukan hanya agrowisatanya yang memang menarik tetapi juga produk UMKM-nya. Pengalaman makan nasi kotak menu ayam bakar yang bagi teman-temanku terlalu murah (dengan look masakan dan packaging yang rapi) ketika berenang di Curug Kembar adalah salah satu buktinya. Tidak kalah dengan rasa masakan catering di kota.
Tentu jika harus merekomendasikan desa, aku ingin desa tempatku KKN dulu bisa dilihat lebih banyak orang. Desa wisata yang selama sebulan sukses membuatku setiap sore berjalan ke Kali Cawang, masuk ke kebun yang serupa hutan, meramaikan penutupan Masa Orientasi Siswa (MOS) salah satu SD setempat di Bukit Pengaritan, ke rumah-rumah warga yang ternyata memproduksi gula kristal, juga keberadaan Petilasan Patih Gajah Mada. Desa Banjarpanepen namanya. Menyenangkan pernah tinggal di sana, terutama saat agenda pertemuan PKK maupun Dasawisma bersama ibu-ibu setempat, kudapannya enak!
Namun akan di mana akhirnya lokasi shooting film ini, tetap akan memiliki tempat di hati penontonnya nanti. Bagiku, grand design Skak Studios yang mengedepankan national pride atau mengekspresikan kebanggaan menjadi bangsa yang dikenalkan dengan karya ini semacam menjadi jaminan bahwa keberadaan film tersebut bukan melulu soal industri, melainkan juga pembuktian bahwa karya-karya yang mengangkat unsur-unsur kedaerahan memiliki potensi selama diberikan panggung.
Lewat tulisan ini aku berdoa dan berharap akan kelancaran proses lahirnya film tersebut sebagai karya yang erat dengan lokalitas dan dikerjakan secara totalitas. Aku harap akan ada juga lagu Ngapak yang menjadi original soundtrack film tersebut yang vibes serunya seperti mendengarkan “Gak Iso Turu”-nya Yowis Ben.
Nur Fadhilah Rizqi, warga Purwokerto Utara yang lebih sering disapa Kiki. Hobi ke Rajawali Cinema dan senang-sedang-selalu mencari kesempatan belajar karena banyak nggak tahunya. Selain warung seblak, kedai es krim, warmindo, atau coffee shop, Kiki bisa diajak ngobrol lewat akun instagram pribadinya @rzqrrr.




