
Akhir-akhir ini, narasi tentang Gen Z atau Generasi Z sering sekali terdengar dianggap manja, lemah mental, terlalu baper (sensitif), tidak tahan banting, boros, dan yang paling sering adalah tidak hormat kepada orang yang lebih tua. Di banyak ruang obrolan, baik daring maupun luring Gen Z kerap dilabeli sebagai generasi “paling durhaka” dalam sejarah. Sebuah cap yang terdengar keras, menyederhanakan, dan sering sekali terasa tidak adil. Label tersebut umumnya datang dari generasi yang lebih tua, khususnya generasi baby boomers dan sebagian Gen X, yang tumbuh dalam kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang sangatlah berbeda. Dari perbedaan inilah yang sering tak luput dibicarakan secara jujur. Sebagian mencoba memahami konteks zaman yang berubah, namun sebagian lain memilih jalan pintas: menghakimi.
Padahal, persoalan antara Gen Boomers dan Gen Z tidak seluruhnya hanya soal adab dan sopan santun. Ini adalah soal jurang pengalaman hidup seseorang, cara berpikir, dan sistem sosial yang tak lagi sama dengan zaman mereka. Generasi Baby Boomers tumbuh di era ketika stabilitas dianggap sebagai tujuan utama hidup. Bekerja lama di satu tempat, menaati hierarki, dan menekankan perasaan demi tanggung jawab adalah sebuah nilai yang dijunjung tinggi. Nah, dalam konteks itu patuh sering kali disamakan dengan hormat: bertanya tanpa berpendapat, dan bisa juga berbeda pendapat dinilai sebagai ‘orang yang tidak tahu diri.’
Sebaliknya, Gen Z tumbuh di dunia yang serba cepat: infomasi datang tanpa henti, krisis ekonomi, dan tekanan tuntutan sosial yang selalu hadir bersamaan. Dengan kondisi seperti ini, Gen Z belajar satu hal terpenting: bertahan hidup tidak cukup hanya dengan kata ‘patuh’ tetap juga harus bisa memahami diri sendiri. Perbedaan seperti inilah yang selalu disalah artikan sebagai ‘pembangkangan’.
Ketika Gen Z berani menolak budaya kerja yang tidak sehat, mereka dicap pemalas. Saat berbicara mengenai kesehatan mental, mereka disebut lebay. Ketika mereka memilih pekerjaan yang lebih fleksibel daripada “aman”, mereka dianggap tidak tahu diri dan tidak bersyukur. Padahal, semua pilihan tersebut lahir dari realitas yang berbeda.
Setiap generasi punya luka dan ketakutannya sendiri. Tapi anehnya, yang paling sering dituding durhaka justru generasi yang sedang berusaha paling sadar: Gen Z. Cerita ini bukan fiksi. Ini kisah nyata dari seorang perempuan—temanku—yang hidup di persimpangan tiga generasi: Baby Boomers, Generasi X, dan Gen Z. Di titik inilah benturan nilai terjadi, dan kata “durhaka” sering kali dijatuhkan tanpa mau memahami konteks.
Aku adalah anak tunggal, perempuan, lahir tahun 2001. Tahun ini usiaku menjelang 25. Di fase ini, pembahasan soal menikah bukan lagi wacana iseng—tapi realitas yang datang hampir setiap hari. Dari pertanyaan keluarga, obrolan tetangga, sampai sindiran halus yang dibungkus doa. Aku memiliki calon pasangan. Kami saling mengenal selama kurang lebih tiga tahun. Bukan hubungan main-main, bukan pula relasi serba instan ala stereotip Gen Z. Lebaran tahun lalu, keluarganya datang secara resmi ke rumah untuk membicarakan status kami. Rencananya jelas: menikah di tahun 2026.
Semua terlihat baik-baik saja. Sampai pelan-pelan, badai itu datang. Menjelang pembahasan yang lebih serius, sikap orang tuaku—terutama ibuku—mulai berubah. Penolakan muncul. Bukan dengan amarah meledak-ledak, tapi dengan kekhawatiran yang berlapis-lapis. Yang membuatku heran, ibuku tak pernah sekeras ini sebelumnya. Nada bicaranya berbeda. Cara pandangnya berubah. Seolah ada ketakutan besar yang tiba-tiba tumbuh.
Belakangan aku menyadari, perubahan itu tak lahir dari ruang kosong. Ada percakapan-percakapan lain yang ikut bermain. Obrolan dengan nenekku—seorang perempuan dari generasi Baby Boomers—yang membawa cerita masa lalu, pengalaman pahit, dan pandangan tentang pernikahan yang dibentuk oleh zamannya. Cerita tentang perempuan yang bertahan meski tersakiti. Tentang pernikahan yang harus dijalani walau penuh luka. Tentang hidup yang katanya “memang seharusnya begitu”.
Tanpa sadar, cerita itu menular menjadi ketakutan baru di kepala ibuku—seorang perempuan single parents Generasi X yang tumbuh di antara tuntutan tradisi dan beban menjadi ibu yang “harus benar”. Lalu aku—Gen Z—berdiri di tengahnya.
Saat aku mencoba berdialog, menjelaskan, dan meminta kepercayaan, respons yang datang bukan diskusi, tapi label. Aku dianggap melawan. Dibilang keras kepala. Bahkan, secara implisit, dicurigai sebagai anak yang tidak patuh. Di titik ini aku ingin bertanya: “Apakah mempertanyakan kekhawatiran yang tidak berdasar itu durhaka? Apakah berusaha membangun masa depan dengan kesadaran justru dianggap pembangkangan?”
Gen Z tidak alergi pada nasihat. Kami hanya lelah pada ketakutan yang diwariskan tanpa disaring. Kami tidak menolak tradisi—kami hanya ingin tradisi yang masih relevan dengan realitas hari ini. Ironisnya, generasi yang paling sering dituduh “kurang ajar” justru generasi yang berani berpikir, berani merasa, dan berani bertanggung jawab atas pilihannya. Stop menilai Gen Z sebagai makhluk paling durhaka. Yang kami lawan bukan orang tua. Tapi ketakutan lama yang terus dipaksakan hidup di zaman baru. Dan jika itu disebut durhaka, mungkin definisinya yang perlu dikaji ulang.
Data menunjukkan bahwa Gen Z menghadapi tantangan ekonomi yang tidak mudah: biaya pendidikan yang semakin meningkat, harga bahan pokok yang melambung, dan persaingan kerja yang makin ketat. Jaminan hidup stabil yang dulu relatif mudah digapai kini menjadi sebuah kemewahan. Dalam situasi ini, wajar saja jika Gen Z lebih kritis dan selektif terhadap sistem yang ada. Namun sayang sekali, kritik sering kali disalah pahami sebagai sikap ‘melawan’. Salah satu tuduhan yang paling menyakitkan yang kerap dilontarkan adalah bahwa Gen Z tidak menghormati orang yang lebih tua. Tuduhan ini biasanya muncul ketika Gen Z berani menyampaikan pendapatnya yang berbeda atau ketika mereka menolak keputusan yang dianggap merugikan mereka. Padahal, menghormati tidak selalu diam dan mengiyakan. Dalam banyak kasus, Gen Z justru ingin berdialog–tentang sesuatu yang tidak selalu tersedia di pola komunikasi generasi sebelumnya. Mereka ingin didengar, bukan hanya diperintah. Ingin dijelaskan, bukan sekedar disuruh patuh.
Sayangnya, ruang dialog ini sering ditutup oleh relasi kuasa yang menganggap bahwa umur yang lebih tua dianggap paling benar, dan pengalaman dianggap tidak bisa digugat. Akibatnya, setiap upaya Gen Z untuk berbicara dianggap sebagai bentuk dari ‘durhaka’. Di sisi lain, penting juga untuk mengakui tidak semua kriktik terhadap Gen Z sepenuhnya adalah keliru. Ada bagian dari generasi ini yang masih belajar untuk mengelola emosi, konsistensi, dan tanggung jawab mereka. Akses informasi yang luas tidak selalu dibarengi dengan kedewasaan dalam menyikapinya. Namun, menggeneralisasi seluruh generasi berdasarkan perilaku adalah kekeliruan logis. Sama seperti perilaku tidak adil menilai bahwa semua boomers sebagai generasi yang kaku, dan tidak juga menyebut semua Gen Z adalah durhaka.
Permasalahan utamanya adalah bukan siapa yang paling benar ucapannya, namun siapa yang bersedia mendengarkan perbedaan. Generasi boomers memiliki pengalaman hidup yang berharga–tentang ketekunan, kesabaran, dan daya juang mereka. Semua nilai itu masih tetap relevan. Tetapi, nilai itu tidak bisa dipaksakan tanpa mempertimbangkan konteks perkembangan zaman. Sementara itu, Gen Z membawa cara pandang baru tentang keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan keadilan terhadap lingkungan sosial. Pandangan ini bukanlah sebuah ancaman, melainkan peluang untuk berkembang bersama.
Ada sesuatu yang jarang dibicarakan antara kedua gen ini, yaitu tentang cara mencintai dan hadir di kehidupan seseorang. Pada umumnya, Gen Boomers lebih menunjukkan rasa kasih sayang mereka melalui tanggung jawab, seperti bekerja, menafkahi, dan memastikan semua keluarga dalam keadaan yang ‘baik-baik saja’ dalam segi materi. Sedangkan Gen Z belajar memahami cara mencintai lewat emosional, seperti bertanya, menemani, dan mengakui perasaan emosional. Tanpa disadari, boomers merasa sudah cukup hadir meski jarang berbicara. Di sisi lain, Gen Z merasa diabaikan meski tidak pernah kekurangan apa pun. Keduanya pun sma-sama memberi, tapi dengan bahasa cinta yang berbeda sehingga yang satu merasa tidak dihargai, dan yang lain merasa tidak pernah dianggap cukup.
Dan ada satu hal lagi yang jarang disadari, yaitu perang soal validasi. Gen boomers sering sekali merasa dihargai saat pengorbanannya diakui, meski hanya lewat diam dan kepatuhan. Berbeda dengan Gen Z yang tumbuh dengan kebutuhan untuk diakui lewat ekspresi, respons, dan ruang bicara. Tanpa sadar, para orang tua selalu menuntut ingin dimengerti tanpa pernah belajar bagaimana cara menjelaskan perasaannya. Dan Gen Z sering menuntut didengar tanpa selalu tahu cara mendengarkan. Keduanya sama-sama ingin diakui sebagai “cukup”, tetapi saling melukai karena berharap lawan bicara membaca luka yang tak pernah diucapkan.
Daripada terus mempertahankan argumen tentang “kami yang benar” dan “kalianlah yang salah”, kedua generasi tersebut perlu bertemu di titik tengah: empati. Gen Z tidak sedang minta dimanja, mereka hanya minta dimengerti. Mereka ingin diakui sebagai individu yang hidup di zaman yang berbeda, dengan tantangan yang berbeda, dan cara bertahan yang beda juga. Begitu juga dengan generasi yang sudah tua, mereka layak dihargai atas penghargaan pengalaman yang panjang yang telah mereka lalui.
Jika ada satu hal yang perlu dihentikan, adalah kebiasaan untuk melabeli. Sebab label hanya akan mempersempit ruang dialog di antara keduanya. Selama Gen Z terus disebut durhaka, selama itu pula percakapan mereka yang seharusnya sehat malah tidak akan terjadi. Mungkin, sudah waktunya kita berhenti saling menghakimi dan mulai saling mendengarkan. Karena pada akhirnya, perbedaan generasi bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana kita saling memahami di dunia yang terus berubah.
Hallo, aku Nayla Fauziah Anwar. Aku adalah salah satu mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin. Aku tinggal di Tangerang Selatan dan besar di sana selama 18 tahun–sampai saat ini–anak kedua dari empat bersaudari perempuan. Suka menulis, membaca, dan mendengarkan musik. Kalau mau mengobrol bisa hubungi aku ya lewat Instagram @nylafazh.




