
Paragraf pertama tulisan ini ditulis beberapa menit setelah aku selesai menonton “Keadilan (The Verdict)”. Film yang sejak berpekan-pekan lalu aku lihat balihonya di depan Bioskop Rajawali ini aku putuskan untuk menontonnya hari ini karena secara sadar aku dihadapkan pada kejenuhan yang mungkin butuh me time, cukup tiba-tiba dan lebih cepat beberapa hari dari jadwal menontonku bersama temanku yang seharusnya di akhir pekan nanti. Namun setelah menontonnya agaknya aku akan sangat semangat untuk kembali menonton film ini di agenda menonton bersama temanku lagi.
Niatnya film ini adalah pelepas penat yang hanya akan aku nikmati tanpa menulis semacam resensi, yang setelah keluar dari studio sehabis film selesai akan dilanjut ke parkiran motor tempatku memarkir motorku dan menuju warung soto untuk agenda me time kedua di hari ini. Realitanya aku kembali duduk di kursi tunggu di depan loket pembelian tiket film untuk menulis beberapa kesan dan pengalamanku menonton dengan harapan ini menjadi caraku mengapresiasi “Keadilan (The Verdict)”.
Tanpa Riset Namun Menduga
Seperti menonton “Pangku“, saat menonton “Keadilan (The Verdict)” ini aku tidak terlebih dahulu melakukan ‘riset’ versiku. Aku tidak menonton trailernya bahkan tidak mencari tahu soal film ini. Tapi aku punya ekspektasi kalau film ini akan seatmosfer dengan “13 Bom di Jakarta” yang rilis 2023 lalu: film yang menceritakan ‘tragedi’ di suatu ‘sistem’.
Tragedi yang diceritakan dalam film ini dialami oleh Raka, seorang satpam di suatu pengadilan negeri yang sekaligus merupakan anggota Badan Intelijen Negara, yang memperjuangkan keadilan atas kematian istrinya yang bernama Nina. Nina dibunuh oleh seorang pemuda bernama Dika, anak seorang konglomerat ternama yang membunuh Nina di pertemuan pertama mereka.
Sampai film ini sudah selesai sekalipun, aku masih tidak habis pikir dengan motivasi Dika membunuh Nina, keheranan yang sepertinya juga dialami Timo (pengacara licik yang dalam film ini diperankan oleh Reza Rahadian) saat pertama kali bertemu Dika untuk mendiskusikan strategi di persidangan. Bagiku alasan terjadinya pembunuhan bukanlah topik utama yang ingin disorot dari film ini, melainkan praktik kecurangan yang terjadi di suatu proses ‘mencari keadilan’ itu sendiri.
Pengadilan Sebagai Latar Utama
Sebagai orang yang awam dalam hal dan pengetahuan mengenai sistem hukum maupun perangkat hukum, menilai film ini dengan sudut pandang ilmu hukum jelas bukan kapasitasku, sehingga aku menempatkan sudut pandangku sebagai manusia yang sedang belajar memanusiakan manusia. Film ini secara gamblang menjadikan Pengadilan sebagai latar utama, pilihan yang tepat dan perlu diapresiasi mengingat tempat ini mungkin bisa disebut sebagai jantung realisasi segala konsep keadilan yang justru sering diwartakan sebaliknya: keadilan yang dipertanyakan.
Lagi, sebagai orang awam, aku yakin kebanyakan orang awam akan memikirkan beberapa ‘ungkapan’ atau ‘peribahasa’ yang sering berseliweran saat menonton film ini. Seperti: hukum tumpul ke atas tajam ke bawah, keadilan adalah barang yang hanya dapat dimiliki penguasa, atau keadilan adalah alat transaksional. Kurang lebih begitu, dan masih banyak yang lainnya.
Namun film ini memberikan ‘ungkapan’ yang baru pertama kali aku dengar dan sukses membuatku mencoba memahami di beberapa waktu selanjutnya, yang diungkapkan oleh Rio Dewanto sebagai Raka di film ini. Di salah satu adegannya Raka sedang bersama rekan sesama satpamnya, rekannya tersebut mengeluhkan keputusan hakim yang membebaskan anak seorang konglomerat atas tindakan membakar wajah seseorang, sedangkan pada kasus seorang miskin lainnya yang dinyatakan bersalah karena terpaksa mengambil sesuatu dikarenakan tuntutan hidup dan situasi terhimpit tetap diberlakukan hukuman. Saat itu Raka merespon keluhan temannya tersebut dengan kalimat yang buru-buru aku catat setelah mendengarnya, yaitu: terkadang tempat ini (Pengadilan) tidak ada hubungannya dengan keadilan.
Kalimat Raka itu bisa menjadi kritik pada berbagai konteks. Intinya adalah teguran untuk setiap yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya atau tidak menjadikan yang seharusnya secara semestinya.
Seperti Judulnya, Film Ini ‘Adil’
Pada satu sisi film ini mengkritik atau menyorot kebobrokan hukum yang hanya dijadikan alat transaksional dan menguntungkan orang-orang dengan kepemilikan kuasa (atau harta). Namun film ini juga secara bijaksana menunjukkan pentingnya keberadaan hukum lewat tokoh Nina. Nina yang dibunuh di hari kelulusan ujiannya menjadi advokat memiliki kepercayaan bahwa masih ada hukum yang baik di tengah maraknya pemberitaan hukum yang merugikan. Seperti yang disampaikan Nina ke suaminya: banyak orang di luar sana yang hidupnya terselamatkan karena hukum.
Hukum yang hari ini aku dan kebanyakan orang dengar sering dinarasikan sebagai hal yang merugikan bisa jadi dikenal merugikan karena hanya berita-berita yang merugikan saja yang tersebar. Tokoh Nina meyakinkan masih ada kebaikan dari hukum yang ada di dunia ini. Mungkin selamat yang dimaksud Nina bukan selamat atau terbebas dari hukuman, melainkan orang-orang yang menjalani hukuman hidupnya diselamatkan dari kelalaian yang selanjutnya. Aku yakin masih ada ‘mungkin’ yang lain yang dimaksud Nina tentang hukum yang menyelamatkan hidup orang di luar sana. Salah satunya bagiku, hukum menyelamatkanku dari kehidupan yang amburadul dengan adanya konsep norma.
Nina juga menyebut ayat Al-Qur’an tentang perintah menegakkan keadilan dalam surah An-Nisa ayat 135. Terlepas dari konteks religiusitas maupun ketaatan, sekilas mungkin Nina terkesan terlalu naif dan polos meyakinkan suaminya tentang hukum yang adil di masa ini termasuk cita-citanya menjadi advokat yang memperjuangkan keadilan. Keadilan dalam hal ini rasanya semu. Namun keberadaan orang seperti Nina di dunia ini sebetulnya adalah hal yang perlu disyukuri, setidaknya masih ada kemuliaan meskipun masih sebatas bentuk cita-cita, toh dengan cita-cita juga hal besar di waktu mendatang bisa terjadi.
99% Bukti, 1% Keajaiban
Salah satu bagian dari cerita film ini yang berkesan untukku adalah usaha Raka yang meskipun selalu mendapatkan ketidakadilan juga tuduhan di persidangan-persidangan kasus pembunuhan terhadap istrinya tetapi masih berusaha mengumpulkan bukti kebenaran. Di situasi yang tidak mudah tersebut Raja menemukan catatan di suatu stickynote yang aku duga adalah tulisan Nina. Tulisan tangan tersebut berbunyi: dalam kasus pidana, 99% bukti tidak cukup.
Aku sempat memikirkan tentang 99% ini. Sebegitu mahalnya, ya, yang disebut sebagai ‘keadilan’? Memangnya apa yang dimaksud ‘keadilan’? Apakah itu usaha untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah? Atau itu upaya untuk mendapatkan ‘keselamatan’?
Lalu aku membuat kesimpulan sementara bahwa 1% tersebut adalah keajaiban. Jika 99% bukti adalah hal yang dapat dilihat, didengar, maupun dipahami oleh banyak mata, telinga, dan logika manusia, berarti 1% itu bisa jadi adalah keajaiban yang bentuknya adalah kejujuran dan hati nurani manusia.
Bahan Renungan: Sebagai Diri, Sudahkah Aku Adil?
Kalimat Raka tentang ‘Pengadilan yang justru tidak memberikan keadilan’ itu membuatku bengong sore ini. Aku membayangkan jungkat-jungkit di TK yang katanya bisa dimainkan jika aku dan temanku memiliki berat badan yang sama. Mungkin seperti itu keadilan dalam analogiku.
Lalu jika seandainya di satu sisi jungkat-jungkit itu adalah ‘hak’ dan di sisi lainnya adalah ‘kewajiban’, apakah aku sebagai seorang manusia sudah berlaku adil seminimalnya untuk diriku sendiri? Sudahkah aku seimbang antara ‘memberi’ dan ‘menerima’? Apa aku sudah bijaksana menyikapi porsi yang sesuai untuk ‘mudah’ dan ‘susah’? Jika ‘pengadilan tidak memberikan keadilan’ apakah berlaku juga ‘aku tidak memberikan keadilan’?
Mengagumi Akhir Cerita Film
Aku menikmati film yang berujung ke cerita panjang penyanderaan yang dilakukan Raka di hari dilaksanakannya sidang putusan. Kolaborasi pelaku industri perfilman Indonesia dan Korea Selatan ini berhasil menyajikan film yang menurutku dibutuhkan di kehidupan era ini, film yang mengingatkan akan pentingnya moralitas namun disampaikan dengan cara yang tidak menggurui. Keseriusan merealisasikan naskahnya bisa dilihat salah satunya dari keberadaan aktor ternama di dua peran krusial dalam film, yaitu Rio Dewanto dan Reza Rahadian.
Film ini cukup ‘berani’ tampil di tengah minat pasar perfilman Indonesia yang sedang ramai dengan genre horor. Meskipun tidak menampilkan banyak sisi romantis atau percintaan, film ini ditutup sangat manis dengan adegan dijatuhkannya vonis hukuman terhadap Raka atas perbuatan nekatnya menyandera ruang sidang putusan kasus pembunuhan istrinya. Walaupun dibuat mix feeling karena ‘demi sebuah keadilan harus sampai senekat itu’, namun aku bisa menerima jika akhirnya Raka ditahan, justru aku mengagumi keberanian dan kesadaran Raka yang sudah siap dengan akibat dari keputusannya. Padahal dia mencari keadilan, tapi mahal betul harga yang harus dia bayar, yaitu kebebasannya sendiri.
Sisi paling romantis dalam film ini adalah keyakinan Raka saat memutuskan akan melakukan penyanderaan demi mencari keadilan. Raka memilih mencari keadilan lewat meja hukum dibanding membunuh pelaku, karena Raka yakin istrinya yang begitu menjunjung tinggi keadilan akan setuju dengan tujuan yang ingin Raka capai, meskipun keadaan memaksa Raka untuk melakukan penyanderaan. Namun yang perlu digarisbawahi adalah: Raka melakukannya agar yang bersalah mendapatkan hukumannya seperti hukum yang berlaku, supaya tidak ada lagi orang lain yang dirugikan jika di waktu mendatang akan ada kasus serupa, bahwa bukan hukum (atau peraturan) yang salah melainkan manusianya.
Keromantisan dari film ini diakhiri dengan Raka yang menengok ke meja pengacara di ruang sidang dan menemukan bayangan Nina yang tersenyum bangga mengatakan bahwa mereka menang (menegakkan keadilan) saat Raka berjalan keluar ruang sidang. Seperti simbol keberhasilan Raka mewujudkan cita-cita Nina ingin menegakkan keadilan yang belum terwujud karena hari kelulusan ujian advokat Nina bertepatan dengan hari kematiannya. Adegan penutup ini semakin manis dengan iringan “I’d Like to Watch You Sleeping” yang dinyanyikan oleh Sal Priadi, menutup ketegangan selama menonton film ini dengan senyum haru sendiri.
Nur Fadhilah Rizqi, warga Purwokerto Utara yang lebih sering disapa Kiki. Hobi ke Rajawali Cinema dan senang-sedang-selalu mencari kesempatan belajar karena banyak nggak tahunya. Selain warung seblak, kedai es krim, warmindo, atau coffee shop, Kiki bisa diajak ngobrol lewat akun instagram pribadinya @rzqrrr.




