
Aku dan Bayang-Bayangku
Dua burung dalam satu sarang
Bertengger apik di kepala
Kepala manusia berbayang dua
Kadang mematuk dengan paruhnya
Menelan titik-titik keburukan
Memakan koma-koma kebaikan
Meninggalkan jejak kemerahan
Menciptakan perih kesakitan
Burung gemuk, badannya pun kurus
Burung berkicau riang, suaranya pun lemas
Bayang tubuhnya menyapa tersenyum miris
Pada netra manusia yang bercermin manis
Tawanya bukan miliknya
Dirinya bukan bayangannya
Tangisnya adalah bahagianya
Bicara haram baginya
Mendekap suara-suara dalam benaknya
Membuang berani yang sudah ada
Mematuhi kicau burung dalam akalnya
Menepis harapan yang datang padanya
***
Aroma Padi
Ia ditanam dengan sepenuh hati
Oleh petani yang tak dihargai di negeri ini
Ia tumbuh oleh tangan-tangan renta
Terabaiakan oleh generasi muda
Bilangnya, kemandirian pangan
Tapi beras masih kekurangan
Tapi petani tak diperhatikan
Kesejahteraaan pun jadi korban
Ia merunduk membawa kebahagiaan
Menyebarkan aroma padi yang tak terperikan
Memanggil petani untuk segera memanenkan
Sebab ia sudah siap mengatasi kelaparan
Panas matahari yang mencumbu padi
Mengantarkan aroma khas abadi
Menguar bila kau panen nanti
Karena ia senang bisa menjadi rezeki
Meskipun beras masih dari luar negeri
Padi masih tetap tumbuh berdiri
Sebab ia lahir di tanah negeri ini
Yang sedang lupa budi
Dan sedang tak manusiawi
Purwokerto, 5 Oktober 2025
***
Kepada Bumi
Kutitipkan ia di pelukanmu
Eratlah lembut sentuhanmu
Pada raga yang membatu
Agar ia tak usah meragu
Dalam ruang gelap mengabu
Agar kami bisa bertemu
Bersama lagi tanpa batas waktu
Untuk bahagia yang dulunya semu
Menguntai benang-benang rindu
Ingin segera kutemuimu
Purwokerto, 21 November 2025
***
Hujan di Halte Sekolah
Hari itu rintik hujan menjadi saksi
Untuk pertemuan yang tak bisa kudapati lagi
Jam terus berdetik, dan hati tetap berdetak
Awal yang sederhana, tak kusangka sulit melupakannya
Nantikanmu di halte selanjutnya
Dalam jauh kubertanya
Indahkah di sana ?
Hariku setelah hari itu
Asam rasanya, karena manis tercipta dari senyumnya
Lagi-lagi kutinggal pada kenangannya
Tanpa mau beranjak dan bergerak
Entah cara apa lagi tuk lupakannya
Semasa putih abu, bicara dengannya selalu kutunggu
Elok suaranya ingin kudengar selalu
Kala hujan mengantarku pada aksaranya
Oleh rintik yang melingkupi suasana
Lalu bertanya “masih menunggu?”
Aku jawab “masih menunggu”
Harapanku padanya, mari bertemu
Purwareja Klampok, 1 Oktober 2025
***
Maula Rizki Aprilia biasa disapa Maul. Ia lahir di Banjarnegara tahun 2005. Saat ini, menempuh Program Studi Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Jika berkenan, bisa menyapanya di akun Instagram @maulatanpana.





Pingback: Aston Villa Siap Hadapi MU di Villa Park - nribun.com
Pingback: Kopi Pahit, Badan Lebih Tahan - nribun.com