Kabar Musim Hujan

Hari ini terasa sama seperti lima tahun yang lalu, malam begitu gelap dengan ketidaksudian bulan dan bintang-bintang menemani kita—ah, hanya aku kali ini. Kau akan mendengar suara seng yang terkena air serupa terkena lemparan kerikil-kerikil anak kecil yang jahil, Sayangku. Kala itu di kontrakan dengan ukuran tiga kali tiga yang penuh dengan tisu, cermin besar yang kefeminiman, aroma rokok yang menempel di semua bagianmu, dan kau sengaja mengganti lampu neon-mu menjadi lampu-lampu kecil warna warni, aku kau setubuhi. Sialan.

Tapi, aku masih kangen dirimu, Cep. Kau terlalu jauh dariku sekarang, andai dulu aku jujur kepadamu bahwa aku seorang anak menteri di metropolitan sana, apa kau tetap sudi menyetubuhiku?—maksudnya mencintaiku. Aku kesepian dan apa kau masih ingat? Di suatu malam yang dingin pula, kaumemeluk seluruh bagianku dan menenangkan hatiku yang riuh dengan ucapan-ucapanmu.

“Rinai, percayalah, aku akan pergi juga ke metropolitan untuk menemui keluargamu dan ‘kan kubuatkan mereka semua kopi. Kopiku selalu hangat dan enak. Rasanya sungguh istimewa dan aku akan menjadi bos tukang kopi keliling.”

“Aku harus pulang besok, Cep, dan aku tidak mau meninggalkanmu. Keluargaku di Jakarta tidak seasik dirimu. Mereka hanya memikirkan soal uang, uang, dan uang. Meskipun aku tahu, uang memang penting dan aku bukan anak dari seorang tuan kaya yang bisa membeli apa-apa.”

“Kau tak perlu seperti itu, keluarga tetaplah rumah bagimu. Tunggulah aku di Jakarta sana, aku akan pergi mengadu nasib dan mematok rejeki di kota bergedung-gedung megah yang agaknya mungkin gemerlap seperti lampu kamarku.”

Tak sempat aku ucapkan selamat tinggal padamu, Cep. Bahkan aku lupa memberimu ciuman panas terakhir di musim hujan itu. Aku masihlah bertanya-tanya, memang kau akan tetap menemuiku di Jakarta? Sudah lima tahun aku menunggumu, Cep. Kau yang memintaku untuk hanya memberikan sebuah petunjuk alamat karena kau selalu senang dengan teka-teki dan kau sebetulnya ingin menjadi detektif bukan seorang tukang kopi keliling.

Kau juga suka menganalisis catatan-catatan, walau suaramu terbata-bata sewaktu mengeja bahasa di dalam koran, surat harian, dan surat kabar entah milik siapa pun. Kau fasih dan hafal dengan segala macam surat hingga sering kali kukatai kau sebagai seorang tukang pos yang lancang membuka semua surat milik orang lain. 

Tapi, Kau seorang pembohong, Cep. Sebelum aku pulang dari Jogja, aku susuri setiap jalan dengan harapan bertemu kau yang sedang berjualan dengan sepeda onthel yang diboncengnya bukan aku, melainkan kapal api, kopi liong bulan, dan kopi-kopi aneh yang tak aku temui di Jakarta. Biasanya di sore hari, kau selalu mangkal dengan celana jeans denim yang tak pernah kau cuci selama dua tahun, menggunakan jaket berwarna merah dengan gambar setan dan trisula, aku pikir itu sebuah klub bola yang terkenal. Oh iya, kau juga selalu menggunakan sandal jepit swallow berwarna biru dengan topi loreng. 

Aku masih ingat betul ketika pertama kali kita bertemu, di alun-alun Jogja bagian selatan, kau menawari semua orang dengan candaanmu. Lucunya tidak ada yang membeli kopimu selain aku dan seorang mahasiswa yang keliatan iba karena melihatmu mondar-mandir tiga kali. Kau tersenyum dengan lesung pipi dan gigi ginsulmu yang putih dan bau rokok itu, tapi kupikir, lelaki dengan lesung pipi dan gigi ginsul cakep juga.

Entah apa di pikiranmu, kau malah duduk di sebelahku dan mengenalkan dirimu tanpa malu-malu dan malah mengajakku ke sudut Jogja paling ramai dan damai dengan sepeda onthel-mu. Sebetulnya aku tak mau duduk di boncengan besi itu, keras pastinya, dan bagaimana nasib pantatku nanti? Tapi, kupikir seru juga. 

“Kopimu bagaimana?” tanyaku.
“Biar kutitip saja, hari ini sudah laku dua. Pertama oleh mahasiswa baik hati dan kedua oleh seorang bidadari.”

Sialnya, aku tertawa mendengar itu. Ah, aku kangen padamu tetapi kau seorang pembohong, Cep. Tak ada satu pun surat yang aku terima dari Jogja dan atas namamu. Ucapanmu hanya sebatas penenang hari itu, iya kan? Kau dengan lantangnya berteriak sembari mengayuh sepedamu ke arah berlainan denganku selepas hujan telah mereda. 

“Aku akan mengirimkan surat padamu hingga kau tak sanggup membacanya.”
Ya, aku tahu memang tulisanmu jelek, tapi bukan itu maksudnya kan?
“Iya, aku selalu menunggu suratmu.”

Karena kau seorang pembohong, maka akulah yang akan mengirimkan surat kepadamu, setiap minggu. Sengaja tak kukirim setiap hari, karena aku takut kau menganalisis tulisanku dan kau tertawa karena aku kangen padamu. Walaupun memang aku kangen padamu, aku tak akan mengakui itu di suratku tiap minggu.

***

Aku tak pernah menitip surat-surat yang kutulis seorang diri ke kantor pos. Selalu aku meminta tolong Kang Bahar, sopir pribadi ayahku untuk memasukan surat ini dalam antrean pengiriman. Dua bulan rutin setelah aku menulis delapan surat buatmu, akhirnya kau tidak berbohong kepadaku. Suratmu satu balasan panjang seperti naskah pidato seorang presiden.

Benar saja, kau tertawa karena isi delapan suratku yang mengataimu pembohong dan lagi-lagi dengan kalimatmu itu, aku tidak bisa lagi marah padamu. Aku senang kau baik-baik saja dan aku bertanya-tanya kembali, apakah kau memang akan ke Jakarta? Aku masih meragukan itu dan seperti yang kauminta, aku akan mengirimkan teka-teki tentang alamatku. Lalu, kutuliskan seperti ini agar kaupaham betul lewat surat ke sembilan.

Aku tak mau berbohong lagi kepadamu. Datanglah saja langsung ke rumah. Kau tidak perlu membawa apa-apa, selain beban di hatimu karena berbohong padaku. Setelah surat ini, balaslah lagi dengan naskah pidato seorang presiden milikmu yang teramat panjang itu. Tapi, apa benar kau ingin ke rumah? Aku masih tak percaya denganmu. Kalau kau memang bersikeras, maka, kutinggalkan petunjuk ini agar kau benar-benar sampai ke rumahku. Dari Stasiun Pasar Senen, berjalanlah ke arah selatan hingga kau temui simpangan pertama. Kau boleh ambil kanan atau kirimu, asal kau bisa temui dua tiang sejajar dengan sorot lampu remang-remang. Tak jauh dari sana, kau akan temui gapura kecil yang tak lagi sempurna. Apabila matahari jatuh pada sisi sudutnya, bayangan semar tercipta. Hanya perlu tiga helaan napas, tiga puluh langkah kaki orang dewasa, dan satu usapan keringat sebelum kau temui rumah dengan pagar besi kecoklatan yang dari luar bisa kau lihat pucuk pohon rambutan dan mangga. Ada satu kotak di sebelah kanan dinding pagar dan kau bisa meninggalkan sebuah pesan, “aku ingin memesan kopi dengan aroma melati”. Setelah kau tinggalkan pesan seperti yang aku minta, aku akan turun menemuimu dengan baju yang paling kau suka dan kau hanya perlu menunggu. 
Salam, Rinai.

Surat kesembilan tak pernah kau jawab, begitu pun surat kesepuluh, kesebelas, kedua belas, dan belas-belas lainnya. Dasar pembohong, sampah masyarakat. Hatiku terlalu lapuk untuk menunggu kekosongan segera terisi dan berharap itu olehmu. Hanya olehmu, Cecep, tukang kopi keliling, Sayangku.

Aku terlalu bodoh karena selalu menunggu seorang pembohong yang sudah menyetubuhiku pertama kali. Dasar bodoh. Bukan semua salahmu, pikirku. Tapi, aku ini bodoh, aku mencintaimu. Dan aku menunggumu. Sampai saat ini, sampai kembali hujan menjadi musim di tahun kelima aku menunggu balasanmu. Tidak ada tukang pos yang mampir untuk memberiku sebuah surat lain daripada balasanmu lima tahun lalu untuk surat ke delapanku. 

Ah, hujan benar-benar tak bisa berhenti membawaku kepadamu, Cep. Pagi ini benar-benar mendung dan sama seperti suasana hujan di Jogja waktu itu. Aku tak pernah menyangka, lima tahun untuk balasanmu, dua ratus tiga puluh dua surat yang mangkrak tak dibalas, kini mendapati balasan teks pidato presiden milikmu.

Asu, bajingan! Pembohong sialan! Ini balasanmu atas penantianku selama ini? Lima tahun aku menunggu balasan. Lima tahun aku menunggu batang hidungmu. Lima tahun aku menanggung kesepian, kangen yang memuncak, dan birahi yang tak tertahankan, dan ini balasanmu? Bajingan tengik! Tak punya belas kasih dan kau meminta maaf lewat surat ini dan kau masih memanggilku cinta? Konyol sekali.

Rinai, Cintaku
Maaf, aku baru bisa membalas suratmu. Kau tahu, semua suratmu selalu dibakar oleh istriku. Hanya bisa aku selamatkan surat ke delapan dan surat terakhirmu. Aku memang seorang pembohong dan aku tak pernah jujur kepadamu. Aku sudah beristri dan waktu kau ke sini, istriku sedang pulang ke Jawa Timur. Dan aku memang mencintaimu. Aku ingin menemuimu dan aku juga selalu teringat padamu. Boleh aku ke Jakarta? Aku akan ceraikan isrtiku untukmu. Tunggulah.

Sungguhlah tertawa aku melihat suratmu di musim yang hujan ini. Sudah lima tahun dan kabarmu memang baik-baik saja, tetapi tidak dengan diriku. Demi Tuhan, kusumpahi kau akan mati sebelum ke Jakarta dan kukirimkan surat terakhir yang harus kau terima. Satu pesan singkat, hanya satu pesan.

ASU!

Jogjakarta, 30 November 2024

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top