Saat Begalan Bicara Kehidupan: Tradisi Banyumasan dalam Pernikahan

Pernikahan tidak hanya sebuah ritual yang menyatukan dua insan saja, tetapi menjadi momen sakral yang sarat akan nilai dan makna budaya. Setiap daerah tentu memiliki adat atau tradisi pernikahan yang berbeda-beda. Dalam pernikahan adat Jawa di wilayah Banyumas dan sekitarnya, terdapat tradisi yang unik, yaitu Begalan. Begalan menjadi salah satu rangkaian yang penting dalam pernikahan di wilayah Banyumas. Begalan tidak hanya bagian dari prosesi adat saja, tetapi mengandung makna filosofi yang dalam mengenai kehidupan dalam berumah tangga.

Apa itu Begalan?

Begalan atau besan, gawan, lan lantaran. Tradisi ini dilakukan ketika pengantin pria memasuki pelataran kediaman pengantin wanita. Tradisi ini dilakukan sebelum kedua pengantin melangsungkan prosesi adat lainnya. Begalan terdiri dari berbagai macam perabot rumah tangga berupa alat-alat dapur yang terbuat dari bambu. Peralatan yang dibawa dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya Setiap alatnya memiliki makna filosofi yang mendalam sebagai wejangan bagi sepasang pengantin yang akan memulai hidup baru. Selain untuk menyampaikan nasehat untuk kedua pengantin, begalan juga sebagai sarana hiburan. Secara umum makna filosofis yang terdapat pada suatu begalan menggambarkan perjalanan kehidupan rumah tangga yang membutuhkan kesabaran, keteguhan hati, kerukunan, dan kebersamaan dalam menghadapi  berbagai tantangan.

Makna Filososfi dalam Begalan

Pikulan
Pikulan merupakan bambu yang disusun melintang dan digunakan sebagai penopang alat-alat lainnya. Pikulan dibawa dengan cara dipikul pada bahu. Pikulan digunakan  sebagai alat untuk memudahkan membawa barang-barang berupa perabotan rumah tangga yang terbuat dari bambu. Pikulan melambangkan bahwa suatu pernikahan membutuhkan keseimbangan antara suami dan istri dalam berumah tangga. Keduanya harus bisa saling menopang segala kebutuhan dalam kehidupan rumah tangga dengan ikhlas dan tulus.

Ilir atau kipas
Ilir atau kipas yang terbuat dari anyaman bambu. Ini biasanya digunakan untuk mendinginkan sesuatu yang panas. Ilir memiliki makna bahwa sepasang suami istri harus bisa berpikir dengan kepala dingin. Dalam hal ini, sepasang suami istri diharapkan mampu menciptakan rumah tangga yang damai, harmonis, tentram, dan dapat mengambil keputusan dengan baik.

Irus 
Irus merupakan alat yang terbuat dari tempurung kelapa yang digunakan untuk mengaduk masakan agar rasanya menyatu dan tercampur rata. Irus melambangkan bahwa dalam kehidupan rumah tangga harus bisa saling menjaga rasa atau perasaan satu sama lain sebagai bentuk kedewasaan.

Kukusan
Kukusan merupakan anyaman bambu yang dibentuk kerucut dan digunakan untuk menanak nasi secara tradisional. Kukusan memiliki lima titik sudut. Hal ini melambangkan sisi spiritual, bahwa dalam kehidupan berumah tangga tidak boleh melupakan kewajibannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Centong 
Centong merupakan alat yang terbuat dari kayu yang digunakan untuk mengambil nasi. Centong melambangkan kewajiban untuk mencari rejeki agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Siwur
Siwur merupakan alat yang terbuat dari tempurung kelapa dan digunakan untuk megambil air. Siwur melambangkan bahwa dalam berumah tangga harus sungguh-sungguh, tidak boleh main-main atau ngawur. Semua harus saling menghargai agar dapat hidup berdampingan.

Iyan
Iyan merupakan alat yang berbuat dari anyaman bambu dan berbentuk segiempat. Iyan digunakan untuk tempat nasi agar cepat dingin. Iyan bermakna dalam kehidupan rumah tangga yang tenang dan dingin sehingga perlu adanya sikap saling menghargai dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Mutu
Mutu dan cobek merupakan satu kesatuan yang saling membutuhkan. Mutu digunakan untuuk mengulek atau menghancurkan berbagai macam bumbu agar rasanya menyatu dan rata. Cobek digunakan sebagai tempat atau alasnya. Dalam hal ini bermakna bahwa suami dan istri harus bisa saling melengkapi, dapat bekerjasama, menjadi bermutu atau bermanfaat, dan hidup yang berkualitas.

Ciri atau cobek 
Ciri atau cobek adalah alas atau tempat untuk menyatukan berbagai rasa. Melambangkan bahwa pasangan sebagai tempat untuk berbagi rasa. Ini juga melambangkan bahwa dalam kehidupan dapat saling memecahkan masalah bersama-sama.

Padi 
Padi merupakan bahan pokok sehar-hari di kehidupan manusia. Padi diolah menjadi beras dan kemudian menjadi nasi. Padi melambangkan kemakmuran. Diharapkan pengantin memiliki hidup yang makmur dan sejahtera. Selain itu, diharapkan juga memiliki sifat seperti padi yang semakin lama semakin merunduk yang artinya tetap rendah hati.

Pedaringan 
Pedaringan digunakan sebagai tempat menyimpan beras. Pedaringan memiliki makna atau pesan bagi seorang pria memiliki kewajiban mencari nafkah dan seorang wanita agar dapat menyimpan serta memanfaatkan dengan sebaik-baiknya rezeki atau nafkah yang telah diberikan oleh suami.

Kekeb
Kekeb merupakan tutup yang melambangkan bahwa kehidupan berumah tangga harus bisa saling menutupi aib atau kekurangan pasangannya dan bisa saling melengkapi.

Perabotan yang terbuat dari bahan alami

Bahan-bahan yang digunakan sebagai ubarampe pada begalan terbuat dari bahan-bahan alami, seperti bambu, kayu, dan tanah liat. Bahan tersebut mudah didapatkan dan ramah lingkungan. Bambu banyak dijumpai di wilayah Banyumas, khususnya pedesaan. Bambu memiliki karakteristik mudah dibelah, mudah dibentuk atau dianyam, dan ringan. Kayu juga bahan alam yang ramah lingkungan, keras, dan dapat dibentuk. Begitu juga dengan tanah liat yang memiliki tekstur lembut, dapat dibentuk, dan dapat menjadi keras ketika sudah mengalami proses pengeringan. Penggunaan bahan alami sebagai simbol kesederhanaan, kearifan lokal, dan hubungan antara manusia dengan alam. Selain itu, masyarakat terdahulu menggunakan sesuatu yang ada disekitarnya untuk menyampaikan nilai-nilai simbolik dalam kehidupan.

Bahasa Banyumasan sebagai Alat Komunikasi pada Tradisi Begalan

Pada saat tradisi begalan berlangsung, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Banyumasan. Fungsi utama bahasa Jawa Banyumasan pada tradisi begalan adalah sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan mencerminkan identitas masyarakat Banyumas. Selain itu,  Bahasa Jawa Banyumasan dapat digunakan untuk berinteraksi antara pelaku begalan dengan penonton. Biasanya menggunakan dialog yang mengandung humor untuk menunjukkan keakraban. Penggunaan bahasa Jawa Banyumasan juga menjadi salah satu upaya mempertahankan eksistensi bahasa daerah di era modern.

Begalan sebagai Representasi Literasi Budaya

Begalan menjadi salah satu bentuk literasi budaya yang dapat ditunjukkan melalui pemahaman simbol dan nilai-nilai budaya yang terkandung pada tradisi begalan. Dialog yang terdapat pada tradisi begalan menjadi bagian dari literasi bentuk lisan sebagai media edukasi bagi masyarakat. Di era modern seperti sekarang, tradisi begalan dapat dikemas dapat bentuk digital yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran dan penguatan literasi budaya lokal.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top