
Akhir pekan lalu aku tutup dengan agenda bulanan menonton film di bioskop bersama dua orang teman kuliah. Bulan ini “Pangku” menjadi film yang mengisi agenda quality time kami. Salah satu alasan kuatnya adalah rasa penasaran untuk melihat hasil debut Reza Rahadian sebagai sutradara. Aktor yang membintangi berbagai judul film berbagai genre di Indonesia, yang saking banyaknya film tersebut sampai dibuatkan sebuah iklan oleh Netflix dengan judul “Reza Lagi, Reza Lagi???”
Setidaknya bagiku film ini sudah memiliki satu daya tarik: debut sutradara yang merupakan aktor kawakan, bagaimana ketika aktor yang notabene memainkan peran berganti peran menjadi yang memimpin proses ‘main peran’?
Satu alasan itu sampai membuatku memilih tidak menonton podcast atau konten promosi film ini di YouTube, padahal biasanya aku rutin menonton konten promo film di berbagai channel, sependek atau sepanjang apapun durasinya aku mengusahakan menonton. Aku juga tidak menonton konten atau postingan apapun di sosial media tentang film ini. Aku rawat dan biarkan rasa penasaranku ini supaya diberi ‘hadiah’ saat menontonnya nanti. Bisa dikatakan, ini film pertama yang aku tonton tanpa ‘riset pribadi’ terlebih dulu.
Tulisan ini aku tulis untuk merekam perasaanku, pikiranku, dan pengalamanku menontonnya. Jauh dari kepakaran mengenai perfilman sehingga bisa dikatakan ini sudut pandang orang awam yang menonton film tersebut. Seandainya menonton filmnya adalah bentuk apresiasi, semoga demikian juga dengan aku mengabadikannya dalam tulisan.
Memahami yang Tak Banyak Berdialog
Aku membaca review temanku yang berkuliah di Bandung ketika menonton film ini, dan aku setuju dengan pendapatnya tentang film ini yang mampu memberikan penjelasan bahkan ketika tak banyak dialog antar tokohnya. Film ini tak sulit untuk dipahami setiap babaknya, namun bukan karena scene atau adegannya yang ‘pasaran’ di film atau sinetron lainnya. Terutama di bagian awal film, proses memperkenalkan tokoh dan situasinya bukan didominasi oleh dialog para tokohnya, namun latar tempat dan suasananya.
Tak banyak dialog tentu membuatku sebagai penontonnya tak luput dari menduga-duga. Walaupun begitu tak sampai berasumsi terlalu jauh karena terkonfirmasi dengan scene maupun adegan setelahnya. Dialog yang tak begitu banyak itu bagiku merupakan daya tarik tersendiri dari film ini, karena dengan begitu harus menampilkan visualisasi adegan yang cukup dan mampu ‘bercerita’, dan sependek subjektivitasku film ini berhasil untuk itu.
Terlalu Realis, Hampir Tidak Meromantisasi
Menurutku film ini adalah film realis yang cukup utuh menampilkan potret kehidupan masyarakat ekonomi kelas bawah dengan berbagai masalahnya. Pemahamanku yang awam soal perfilman melihat genre ‘drama’ pada film ini cukup berbeda dengan beberapa film bergenre serupa belakangan ini. Biasanya di genre drama pun akan ada sisi meromantisasi suatu keadaan yang mungkin dimunculkan untuk kepentingan industri (karena penonton menyukai hal tersebut). Namun di film ini hampir tak ada sisi meromantisasi tersebut, termasuk meromantisasi kemiskinan sebagai ‘daya tarik’ dari film.
Aku belum mengetahui penjelasan teoritisnya. Namun jika aku bisa berteori tak ilmiah untuk membuktikannya, mungkin aku akan menyampaikan karena di film ini aku sebagai penontonnya tidak merasa diajak (atau mungkin dipaksa?) untuk memahami keadaan atau perasaan si tokoh dan masalahnya. Aku memang belum menjadi ibu, namun di beberapa film yang menceritakan soal ibu aku kadang dibuat tersentuh karena diajak memahami posisi si ibu, bagaimana jika aku di posisi tersebut. Sedangkan di film ini aku (yang mudah tersentuh pun) tidak sampai membayangkan seandainya menjadi Sartika yang sampai bekerja sebagai pelayan ‘kopi pangku’ demi menghidupi anaknya. Sebagai penonton aku semacam disuapi ‘paham’ bukan diajak ‘mengaduk perasaan’ selama menonton film ini.
Bahkan di satu-satunya scene berlatar ‘estetik’, yang cerah, dan tidak menunjukkan potret kekumuhan, adegan yang meromantisasi itu hanya sedikit porsinya. Atau lebih tepatnya sesuai porsinya; romantis, bukan meromantisasi. Adegan yang berlatar di pantai ketika Sartika dan Bayu (anaknya) diajak oleh Hadi (sopir truk pengangkut ikan) berlibur adalah adegan romantis dengan porsi cukup. Hanya menampilkan selayaknya suatu keluarga sedang berakhir pekan.
Satu scene lagi yang seingatku romantis, yaitu scene ketika Hadi dan Sartika memutuskan untuk berumahtangga. Selayaknya sepasang kekasih yang jatuh cinta.
Pesan Tersirat yang Disampaikan “Pangku”: Orang Miskin Mudah Bahagia
Keseluruhan film ini menceritakan kehidupan masyarakat yang bisa disebut miskin secara perekonomian atau mungkin bisa dikategorikan di bawah garis kemiskinan. Ditambah latar waktu awal cerita dalam film adalah krisis moneter yang pernah terjadi di Indonesia memperkuat hal kemiskinan yang dialami para tokohnya. Namun melanjutkan pembahasan sub bab sebelumnya bahwa film ini jauh dari dramatisasi atau hal-hal yang meromantisasi, sehingga kemiskinan yang ditampilkan tidak berlebihan hingga mendramatisir, walaupun tetap membuat penontonnya menyadari bahwa kemiskinan adalah situasi yang tidak diinginkan oleh siapapun.
Adegan Sartika diminta Bu Maya menyuapi air tajin untuk Bayu yang masih bayi adalah salah satu bagian yang menyedihkan namun ditampilkan sekilas saja. Respon Bu Maya dan Sartika yang tersenyum saat Bayu bisa menerima (menelan) air tajin seolah Bayu baru menelan air susu membuatku menyadari bahwa film ini menunjukkan satire yaitu orang miskin yang mudah bahagia. Hidup mereka yang terlalu susah sampai-sampai ‘kesusahan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan’ membuat mereka mudah sekali bahagia setiap ada sedikit atau sedetik hal yang membuat mereka bernafas lega.
Perasaan itu juga yang aku rasakan saat melihat scene makan mie ayam gerobak yang menjadi makanan paling mewah di film ini. Mie ayam yang bagi teman-teman dan orang-orang di sekitarku adalah menu makan siang atau mungkin menu jajan justru menceritakan sesuatu yang lebih bernilai dalam film: yang saking bernilainya menjadi ‘cara’ Hadi melamar Sartika. Bukan hanya scene mie ayam, namun juga scene makan ikan, yang menurutku adalah satire yang kalau aku ingat sampai membuatku meringis: latar film ini menceritakan masyarakat di jalur Pantura, yang hidup di pesisir, namun jarang makan ikan.
Masih ada beberapa adegan dalam film yang membuatku berkali-kali mengiyakan pikiranku sendiri tentang orang miskin yang mudah bahagia. Jika aku anak sekolahan yang ditanya amanat dari film ini mungkin aku akan menjawab bahwa film ini mengajarkan untuk bersyukur. Namun jika aku sebagai warga negara berusia 20-an yang sering disebut sebagai generasi emas dari bonus demografi justru dibuat nge-freeze dulu: ini yang ada di buku paket mata pelajaran sejarah betulan ada, ya? sebelum aku lahir begini, ya? realitanya sampai memasuki usia dewasa justru diharapkan ‘bisa menyelesaikan’ masalah ini, ya? kenapa warisannya ini, deh? ah, kamu yang terlalu overthinking ini, sih.
Sartika: Perempuan yang Bertahan Meski Tahu Selalu Kalah
Jika tadi sebagai anak sekolah, lalu sebagai warga negara berusia 20-an, sekarang sebagai perempuan. Sebagai perempuan aku terkesan dengan sosok Sartika yang rela melakukan apa saja demi anaknya. Naluriku memang belum sampai ke naluri seorang ibu karena aku belum menjadi ibu, namun sebagai perempuan aku mengagumi keteguhannya yang ingin seutuhnya menjalankan peran sebagai ibu (bahkan ayah sekaligus) meskipun harus melakukan hal yang tak mengenakkan sekalipun, Sartika melakukan apa pun terlepas dari siap tidaknya ia menjadi seorang ibu.
Bagiku Sartika mengagumkan (terlepas dari segala keluguannya yang membuatnya hanya mengikuti alur kehidupan). Hidup yang tidak mengizinkannya memiliki pilihan tetap dijalaninya tanpa ada keluhan, sepanjang film ini ditayangkan aku tidak melihat Sartika mengeluh, yang aku lihat Sartika hanya lelah atau sedih. Sartika bertahan di kehidupan yang terus memberinya kekalahan tanpa ada keluhan. Setiap datang satu kekalahan ia bersedih selayaknya manusia lalu melanjutkan hidup lagi meskipun kemudian dipertemukan dengan kekalahan kembali.
Pandangan awamku melihat film ini tidak mengeksploitasi Sartika sebagai ‘komoditas’ yang ‘menjual kesedihan’. Meskipun Sartika diceritakan selalu kalah, bahkan di scene Sartika harus menjadi pelayan ‘kopi pangku’ tidak memaksakan Sartika menjadi menyedihkan dengan hal erotis berlebih yang mengundang respon berlebihan dari penontonnya. Sebagai penonton aku tetap bisa berempati bahkan tidak jijik dengan Sartika, melainkan justru mengagumi kemampuannya bertahan. Film ini pun manis sekali memberikan Sartika kebahagiaan, secara sederhana lewat scene Sartika yang mendapat surat dari Bayu (yang sudah dewasa) di hari ulang tahunnya yang berisi ungkapan kebanggaan seorang anak memiliki ibu yang mampu bertahan ketika kekalahan selalu berulang hadir di kehidupannya, yang semakin manis dengan iringan lagu “Ibu” yang dinyanyikan Iwan Fals.
Persona Poligami Fedi Nuril
Keberadaan Fedi Nuril sebagai Hadi awalnya membuatku berpikir akan ada persona lama yang sudah melekat dari Fedi Nuril sekaligus persona baru. Persona lama Fedi Nuril yang sering digambarkan sebagai lelaki baik dan idaman wanita di berbagai film sempat juga membuatku berekspektasi demikian saat menampilkan adegan pertemuan Sartika dengan Hadi yang tidak seperti kebanyakan laki-laki pelanggan ‘kopi pangku’. Bahkan persona baru yang diperkirakan sebelumnya hanya Fedi Nuril sebagai laki-laki miskin karena di kebanyakan filmnya diceritakan sebagai laki-laki berkecukupan atau intelektual. Namun ternyata film ini juga menampilkan persona Fedi Nuril sebagai laki-laki yang berpoligami seperti film-film Fedi Nuril yang lainnya. Seketika hal ini justru menjadi bahan jokes tersendiri karena persona poligami pada Fedi Nuril tersebut sampai memunculkan meme di sosial media tentang ‘jumlah istri’ Fedi Nuril yang sempat ramai beberapa waktu lalu.
Reza Lagi, Reza Lagi???
Jika kemarin “Reza Lagi, Reza Lagi???” adalah merespon Reza yang sering muncul di berbagai film sebagai aktor, aku harap setelah ini dalam konteks sebagai sutradara. Sulit dipercaya jika “Pangku” adalah hasil karya debutan seorang sutradara jika melihat keseluruhan dari film ini. Reza bagiku pembelajar yang baik, yang belajar dari perjalanan keaktorannya sehingga debut kesutradaraannya semengagumkan ini. Film ini cukup ‘cerdas’ untuk menyampaikan potret kehidupan masyarakat di bawah garis kemiskinan beserta masalah sosialnya (dengan sejenak jeda menampilkan ‘butterfly era’ lewat “Rayuan Perempuan Gila”-nya Nadin Amizah). Mungkin jika aku belum lulus kuliah, aku akan mempertimbangkan karya ini menjadi objek penelitian skripsiku. Aku harap setelah ini aku akan kembali ke bioskop demi menonton film dengan Sutradara Reza dalam judul yang lainnya, sampai ada masanya “Reza Lagi, Reza Lagi???” merupakan bentuk apresiasi untuk Reza sebagai sutradara, sampai terulang lagi pergi ke warung mie ayam seperti kemarin aku bersama dua temanku yang ingin makan mie ayam setelah dibuat terpaku menonton “Pangku”.
Nur Fadhilah Rizqi, warga Purwokerto Utara yang lebih sering disapa Kiki. Hobi ke Rajawali Cinema dan senang-sedang-selalu mencari kesempatan belajar karena banyak nggak tahunya. Selain warung seblak, kedai es krim, warmindo, atau coffee shop, Kiki bisa diajak ngobrol lewat akun instagram pribadinya @rzqrrr.




