Kiprah Dakwah Ning Khilma Anis Wahida: Dari Jember ke Jagat Sastra

Siapa yang tak kenal dengan film bioskop berlatar pesantren Hati Suhita? Film adaptasi dari sebuah novel best seller karya ulama perempuan Indonesia, Ning Khilma Anis, berhasil meraih hampir setengah juta penonton di tahun 2023. Keberhasilannya dalam menulis sebuah karya tentu tidak datang begitu saja. Ada berbagai hal yang melatarbelakangi penulisan novel Hati Suhita yang kemudian dilirik oleh para produser film untuk dijadikan tayangan layar lebar sekaligus dijadikan bahan kajian ilmiah oleh para pegiat sastra dan akademisi.

Dalam pidato kebudayaan yang berjudul Sastra Pesantren, Semua Berharga, Raedhu Basa mengatakan bahwa semua suara dari pesantren sangat bermakna. Seluruh karya yang dihasilkan melalui pesantren, dengan intensi sastra yang baik, tetaplah akan menjadi karya sastra Indonesia yang indah. Hati Suhita, novel karya Ning Khilma disebut sebagai sebuah karya sastra pesantren yang dapat dijadikan contoh.

Siapakah Ning Khilma dan mengapa karyanya mendapat apresiasi luar biasa dari berbagai kalangan? Mari kita ulas kisah hidup ulama perempuan yang berdakwah melalui karya sastra ini.

Latar Belakang Keluarga, Lingkungan, dan Pendidikan Ning Khilma Anis

Ning Khilma Anis Wahida atau yang lebih akrab disapa Ning Khilma adalah seorang ulama perempuan Indonesia asal Jember dan pengasuh Pondok Pesantren Annur, Jember. Ning Khilma lahir di Jember, Jawa Timur pada tanggal 4 Oktober 1986.

Ning Khilma tumbuh besar di lingkungan pesantren. Ayahnya adalah KH. Lukman Yasir, seorang kiai sekaligus pemilik Pondok Pesantren Annur, Jember. Sejak kecil Ning Khilma hidup di lingkungan yang akrab dengan wayang, yang kemudian menumbuhkan kecintaannya pada budaya Jawa hingga dewasa. Bukan hanya wayang saja, Ning Khilma bahkan memiliki usaha yang memproduksi bros wayang, jilbab, tas, dan gamis yang bermotifkan wayang dan candi. Sampai-sampai desain interior rumah Ning Khilma juga sangat kental dengan nuansa Jawa, mulai dari pintu rumah yang menggunakan gebyok, kaca yang bergambar para Pandawa, dan pelataran belakang rumah yang ditumbuhi berbagai tanaman obat-obatan juga sirih.

Ning Khilma menempuh pendidikan menengah pertamanya di MTs Al Amin Jember, kemudian melanjutkan ke sekolah menengah atas di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang. Setelah itu, Ning Khilma melanjutkan pendidikan tingginya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengambil jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam pada Fakultas Dakwah. Beliau juga mondok di Pesantren Ali Maksum, Gedung Putih Krapyak, Yogyakarta.

Awal Mula Ning Khilma Mencintai Sastra dan Berhasil Menciptakan Karya yang Luar Biasa

Kecintaan Ning Khilma pada sastra dimulai saat beliau duduk di bangku sekolah menengah atas, yang dibuktikan dengan terbitnya tulisan pertamanya di majalah SUSANA (Suara Santri Assaidiyah) Tambakberas, Jombang. Kemudian Ning Khilma juga menjadi redaktur di Majalah ELITE (majalah siswa siswi MAN Tambakberas, Jombang). Selain itu, Ning Khilma juga memimpin redaksi majalah KRESIBA (Kreativitas Siswa-siswi Jurusan Bahasa) di sekolah dan Pesantren Assaidiyah, Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

Saat menjadi mahasiswa, Ning Khilma mengikuti organisasi pers mahasiswa bernama ARENA di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ning Khilma juga menulis sebuah cerpen yang diterbitkan di Buletin ARENA, di antaranya dengan judul Bukan Putri Pembayun, Lembayung Senja, Karena Rindu Tak Pandai Bercerita, Bukan Gendari, Lelaki Ilalang, dan Luka Perempuan Lajang. Selain cerpen Ning Khilma terbit di Buletin ARENA, cerpen Ning Khilma juga menghiasi banyak media massa, di antaranya Kado untuk Dawai di Majalah Sekar, Delima di Majalah Sekar, Dua Mutiara di Majalah Madina, dan Wening  di NU Online.

Pada tahun 2008 Ning Khilma menulis novel perdananya berjudul Jadilah Purnamaku. Novelnya menyoroti tentang feminisme, unsur budaya Jawa, dan budaya pesantren. Dilanjutkan pada 2018, Ning Khilma kembali menulis novel dengan judul Wigati: Lintang Manik Woro, menyoroti tentang keris, pesantren, dan dunia batin perempuan Jawa.

Tahun 2019 menjadi tahun fenomenal bagi perjalanan karya sastra Ning Khilma. Novel yang ditulis dengan judul Hati Suhita best seller dan diadaptasi menjadi sebuah film yang ditonton hampir setengah juta, juga banyak para akademisi dan pegiat literasi menulis jurnal tentangnya.Hati Suhita menyoroti fenomena tentang filosofi perempuan Jawa, tradisi pesantren, dan feminisme.

Sumbangsih Karya Sastra Ning Khilma dalam Perkembangan Sastra di Pesantren dan Indonesia

Karya sastra Ning Khilma banyak memberikan sumbangsih terhadap perkembangan sastra di pesantren. Gus Dur mengungkapkan dua definisi dari sastra pesantren, adalah sebuah karya yang menuliskan kegiatan atau kebiasaan-kebiasaan di pesantren dan pandangan mengenai psikologi pesantren dengan pondasi yang kokoh. M. Fauzi juga menjelaskan definisi tentang sastra pesantren, adalah karya sastra yang ditulis kiai, santri, atau seorang yang memiliki silsilah sosial atau intelektual dengan pesantren, bertema kesantrian dan membawa semangat religius.

Dalam novel Hati Suhita ditemukan sebelas identitas sastra pesantren: kiai, bu nyai, pondok pesantren, santri, kitab kuning, karomah, ziarah kubur, mutholaah, simaan, tabarrukan, sowan, dan matang puluhan. Tak kalah unik dan menggugah dunia kesusastraan, novel Ning Khilma berjudul Wigati membawa cerita romantis yang membuat para pembaca akan tertantang membaca sampai habis, juga bertutur tentang pesantren dan feminisme dengan memadukan kebudayaan Jawa dan kebudayaan pesantren.

Novel-novel karya Ning Khilma dilatarbelakangi dengan pesantren dan kebudayaan Jawa sebab Ning Khilma sedari kecil hingga tumbuh dewasa hidup di pesantren dan hidup akrab dengan kebudayaan Jawa. Novel-novel karya Ning Khilma diharapkan dapat memperluas berbagai kalangan untuk memperoleh wawasan tentang karya sastra Indonesia yang berlatar belakang pesantren serta dapat menjadi acuan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Ning Khilma membuktikan kepada publik bahwa dakwah tak harus dilakukan melalui mimbar, bahwa seorang ulama perempuan mampu menyumbangkan sebuah karya untuk kemajuan sastra Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top