
Kamis 23 Oktober 2025, saya dianugerahi kesempatan untuk mengikuti sebuah event peluncuran buku yang berjudul “Hidup Sebagai Orang-orang Biasa” yang digelar di gedung DPRD Banyumas. Dari informasi yang tersebar di media online, event ini diselenggarakan oleh BIL Fest yang berkolaborasi dengan DPRD Banyumas. Sebagai penyelenggara BIL Fest mengajak siapapun untuk berkolaborasi dalam acara atau event yang bernapaskan literasi.
“Kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk siapa saja, baik pribadi, komunitas, instansi, dan organisasi untuk kolaborasi dalam memperpanjang napas literasi di Banyumas.” Kurang lebih seperti itu yang saya tangkap dari ungkapan Rahmi Wijaya selaku Founder dari BIL Fest sewaktu sambutan di acara launching buku “Hidup sebagai Orang-orang Biasa”.
Selepas lagu Indonesia Raya 3 Stanza dikumandangkan dan sambutan dari Founder BIL Fest berakhir, dilanjutkannya acaranya dengan “Pecha Kucha” yang dibawakan oleh Ilham Rabbani selaku salah satu penulis buku “Hidup sebagai Orang-orang Biasa”. Ia menerangkan bukunya dalam tempo yang kurang lebih 6 menit 40 detik. Pecha Kucha sendiri adalah format presentasi kilat dari Jepang yang terdiri dari 20 slide yang masing-masing ditampilkan selama 20 detik. Istilah “Pecha Kucha” sendiri berasal dari bahasa Jepang yang berarti “obrolan ringan”. Format ini dirancang untuk mendorong pembicara menyampaikan ide secara ringkas, kreatif, dan dinamis dengan dukungan visual yang kuat.
Dalam Pecha Kucha-nya, Ilham Rabbani menyampaikan, “Buku ini adalah kajian kritis. Kami menempatkan sastra sebagai medium reflektif untuk menyuarakan zaman dan menarasikan perlawanan rakyat kecil.” Ilham dalam bukunya, mengupas karya beragam sastrawan yang menggunakan sastra sebagai medium untuk melakukan protes atau perlawanan terhadap realitas sosial mengenai penderitaan, politik, ekonomi, masyarakat, dan kebudayaan.
Setelah Pecha Kucha selesai, kemudian dilanjutkannya acara tersebut dengan pembacaan puisi. Lantas sebuah orasi yang dibawakan oleh Deka Aepama selaku Founder Aswaja (Asal Waras Jalan). Dalam orasinya, Deka menyuarakan banyak hal yang acap timbul dan bermunculan di arus bawah: rakyat, masyarakat, dan orang-orang biasa. Dengan ikat kepala berwarna putih yang bertuliskan, “Ini kepala pak, bukan untuk dilindas”, Deka menggebu-gebu menyuarakan isi hatinya sebagai orang-orang biasa. Boleh dibilang apa yang mencuat dalam orasinya adalah apa yang terpahat di benak sebagian rakyat atau bahkan kebanyakan masyarakat yang tak lain adalah orang-orang biasa.
Selepas orasi sudah mencapai titik didih dan lagi-lagi suara orang-orang biasa sudah menggema di ruangan, dilanjut dengan acara talkshow mengenai buku “Hidup sebagai Orang-orang Biasa” yang dimoderatori oleh Kifayatul Akhyar (Pimred nubanyumas.com) dengan dua narasumber: Ilham Rabbani (salah satu penulis buku “Hidup sebagai Orang-orang Biasa”) dan Fikri Kuncen (Editor in Chief bilfest.id). Pada talkshow ini, Fikri Kuncen menjelaskan skema peluncuran buku kali ini yang digelar di Gedung DPRD Banyumas. Baginya fenomena ini seumpama unjuk rasa atau demo kepada wakil rakyat dengan wajah yang lebih santun dan jauh dari kata rusuh. Pada dasarnya para peserta acara launching buku sedang diajak untuk menyalurkan aspirasi atau suaranya – dengan cara yang tidak arogan – langsung ke gedung wakil rakyat, yakni gedung DPRD Banyumas.
Agak Lain dan Anti Mainstream
Mungkin bagi saya pribadi yang notabenenya baru beberapa kali mengikuti acara-acara peluncuran buku, event kali ini sangatlah lain dari yang lain. Beberapa kali nyemplung di acara peluncuran buku, biasanya berlangsung di ruang-ruang seumpama tempat ngopi, kampus, perpustakaan, toko buku, dan rumah makan dll. Tapi launching buku “Hidup sebagai Orang-orang Biasa” karya Ilham Rabbani & Selvi Triana Lestari ini tergolong agak lain dan anti mainstream. Mengapa demikian? Mungkin hal-hal berikut sekurang-kurangnya mampu menjawab pertanyaan tersebut.
Panitia, dalam hal ini BIL Fest, menggelar “Pekan Literasi Masyarakat Banyumas” yang dalam rangkaiannya adalah launching buku “Hidup sebagai Orang-orang Biasa” mengemasnya dengan unik, agak lain, dan anti mainstream. Di antara keunikannya, yaitu:
Pertama, Ikat Kepala Orang-orang Biasa
Para peserta yang hadir dalam acara ini sewaktu registrasi diberi seutas kain untuk dituliskan tentang kegelisahan dan suara dari orang-orang biasa yang terpendam dalam palung terdalam. Setelah kain tersebut sudah diwarnai dengan tulisan orang-orang biasa, diikatkannya kain tersebut di tubuh para peserta. Ada yang menaruhnya di pergelangan tangan, ada yang mengikatnya di kepala, dan ada juga yang mengaitkannya di lengan bagian atas. Namun kebanyakan dari peserta, diikatkannya seutas kain tersebut di kepala, sehingga menjadi semacam ikat kepala yang biasa dijadikan properti atau atribut dalam melakukan demonstrasi di jalan-jalan.
Kedua, Kotak Suara Orang-orang Biasa
Dengan layout peserta yang berbentuk huruf “U” (meski tidak teramat presisi) dan di tengahnya ditaruh sebuah kotak suara untuk menampung pesan-pesan yang tak lain adalah suara dari orang-orang biasa yang terpendam dalam palung terdalam, membuat acara ini semakin unik, agak lain, dan anti mainstream. Kotak suara ini kemudian dibuka dan dibacakan pesan yang ada dalam selembar surat. Kebanyakan pesan yang ditulis dan dibacakan adalah seputar suara orang-orang biasa yang ditujukkan untuk para anggota dewan. Surat-surat ini dibacakan sewaktu di sela-sela acara talkshow berlangsung.
Barangkali dua hal ini yang unik – bagi saya pribadi – selain dari pemilihan lokasinya. Belum pernah saya membayangkan ada peluncuran buku di gedung orang-orang luar biasa. Luar biasa attitude-nya, luar biasa gagasannya, luar biasa bacaannya, dan luar biasa tunjangannya. Berkat menghadiri acara ini, saya sebagai orang biasa merasa cukup senang, jadi bisa merasakan nikmatnya tempat duduk orang-orang luar biasa dan fasilitas di gedung orang-orang luar biasa.
Rachmat Sumpeno. Setelah lulus kuliah tahun 2024 dan pernah menjadi guru madrasah, kini Ia bekerja apa saja. Sambil bersih-bersih mushola.




