
Karya Ahmad Tohari, penulis ternama dari Banyumas berada di tengah arus modernisasi yang mengikis identitas daerah serta terhalang oleh krisis iklim, terutama cuaca panas ekstrem yang saat ini dirasakan di Purwokerto. Novel-novel beliau tidak sekedar mendokumentasikan dinamika sosial dan budaya di pedesaan jawa yang mendalam, tetapi juga berperan sebagai literasi ekologi yang mendalam. Tohari, melalui narasi yang jujur dan otentik, telah lama mengangkat topik ketahanan lingkungan sebuah isu yang kini menjadi perhatian penting di Purwokerto dan sekitarnya.
Esai ini mengemukakan bahwa karya Ahmad Tohari merupakan “teks yang abadi” bagi Banyumas, yang dapat mendidik masyarakat mengenai hubungan etis antara manusia dan lingkungan. Dengan menganalisis penggambaran alam, krisis lingkungan dan kearifan lokal dalam novel-novelnya (misalnya Ronggeng Dukuh Paruk dan Di Mata Seorang Santri), kita dapat menemukan basis bagi penguatan literasi ekologi kritis di tengah modernisasi Purwokerto dan sebagai persiapan menghadapi dampak pemanasan global lokal. Kita akan mengamati bagaimana kesengsaraan tanah dalam karya diksi Ahmad Tohari muncul kembali sebagai penderitaan kota melalui peningkatan suhu harian.
Alam Sebagai Karakter Utama (Literasi Ekologi)
Dalam karya-karya Ahmad Tohari, alam sekitar (seperti sawah, sungai, dan pemukiman) bukan hanya sebagai tempat terjadi cerita, tetapi juga sebagai sosok yang berperan dan berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Alam merupakan suatu entitas yang hidup, memberikan berkah sekaligus hukuman.
Pertama, teks penderitaan tanah.
Ahmad Tohari sering kali menggambarkan kesengsaraan lingkungan dan sumber daya air karena eksploitasi dan kemiskinan. Di dalam Ronggeng Dukuh Paruk, kelaparan yang melanda masyarakat desa adalah konsekuensi langsung dari kegagalan panen dan kerusakan lingkungan, yang menjadi simbol akan lemahnya ketahanan ekologi komunitas pedesaan. Karakter-karakter dalam karya Ahmad Tohari sepenuhnya bergantung pada alam, sehingga kerusakan lingkungan dianggap sebagai kematian sosial. Narasi ini mengajarkan literasi ekologis kritis, yaitu kemampuan untuk memahami tanda-tanda kerusakan alam (seperti kekeringan, kelaparan, atau suhu yang sangat tinggi) sebagai teks yang perlu dipahami dan direspons.
Penderitaan yang dialami oleh tanah, yang sebelumnya disebabkan oleh kemiskinan dan ketidakadilan dalam penguasaan tanah, kini semakin buruk akibat kebijakan Pembangunan. Purwokerto, yang berkembang menjadi kota yang dipenuhi beton, telah mengakibatkan perubahan fungsi lahan resapan air dan ruang terbuka hijau diabaikan, fenomena panas berlebih dan kekeringan (yang diakui oleh BPBD Banyumas terjadi berulang setiap tahun) menjadi balasan dari lingkungan. Kenaikan suhu di kota saat ini menunjukkan kegagalan kita dalam memahami “teks penderitaan tanah” yang telah dituliskan Tohari puluhan tahun yang lalu.
Kedua, sungai Serayu dan identitas budaya.
Sungai Serayu kerap kali berperan sebagai urat nadi kehidupan, sumber air, dan ikon budaya. Sungai ini melambangkan kesejahteraan sekaligus risiko banjir. Representasi hubungan dekat antara karakter dan sungai ini mencerminkan literasi kultural yang menunjukkan bahwa masyarakat Jawa merupakan komponen penting dari lingkungannya. Dalam hal ini, resiliensi mengacu pada kemampuan komunitas untuk menyesuaikan diri, bukan untuk menguasai alam.
Resiliensi Budaya dan Etika Lokal
Tohari tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga memberikan jalan keluar yang berdasarkan pada tradisi setempat.
Pertama, kearifan lokal dalam pertanian.
Novel-novelnya dipenuhi dengan kearifan dalam pertanian tradisional, pengetahuan yang membantu para petani beradaptasi dengan musim dan lahan tanpa merusaknya. Kearifan ini ditunjukkan melalui upacara sebelum menanam, sistem distribusi air yang merata, dan pemilihan bibit.
Kedua, kritik terhadap modernisasi yang membunuh.
Di sisi lain, Ahmad Tohari sering mengingatkan tentang dampak negatif dari campur tangan luar yang merusak sistem lokal. Dalam tulisannya, modernisasi sering kali digambarkan sebagai birokrasi yang asing, politik yang kejam, atau teknologi baru yang mengesampingkan pengetahuan tradisional. Hal ini menciptakan ketegangan dalam keadilan, Ketika lingkungan desa yang dijaga secara bersama tiba-tiba terjebak dalam sistem ekonomi atau politik yang mengeksploitasi.
Dalam beberapa karyanya, seperti Lingkar Tanah Merah, Ahmad Tohari secara tidak langsung menunjukkan bagaimana konflik lahan muncul saat kekuasaan (diwakili oleh pemerintah atau pengusaha) berusaha merebut tanah subur milik masyarakat. Proses modernisasi yang merusak ini tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik pada lingkungan, tetapi juga menghancurkan jaringan sosial dan struktur adat yang telah lama mendukung ketahanan masyarakat. Kekuatan pembangunan yang tidak etis sering digambarkan sebagai “raksasa” yang bisu, di mana masyarakat kecil tidak memiliki akses untuk membaca atau memahami “teks” kebijakan yang merugikan mereka. Cerita ini menegaskan bahwa keadilan dalam lingkungan selalu berkaitan erat dengan keadilan sosial.
Teks yang Hilang dan Literasi Kritis
Saat ini, di pusat kota Purwokerto yang kian padat dengan bangunan dan perubahan penggunaan lahan (yang ironisnya memicu krisis air di desa-desa sekitarnya, sebagaimana seiring diinformasikan oleh BPDB), “teks” Ahmad Tohari berpotensi menjadi hilang. Generasi muda mungkin hanya melihat Ahmad Tohari sebagai sejarah, bukan sebagai inspirasi hidup.
Oleh karena itu, perlu dilakukan pembaruan pada literasi kritis terhadap karya-karya beliau:
Pertama, Bahasa Ngapak (Banyumasan) yang lugas dan jujur dalam novel Ahmad Tohari harus dibaca sebagai simbol identitas yang anti kebohongan dan memiliki ikatan yang kuat dengan alam.
Kedua, program literasi perlu mengaitkan cerita fiktif tentang kelaparan akibat kekeringan dalam novel dengan kenyataan di lapangan tentang krisis air yang terjadi setiap tahun di desa-desa Banyumas serta kenaikan suhu harian. Hal ini menjadikan teks tersebut bukan hanya sebuah narasi tetapi juga peta untuk Tindakan ekologis.
Karya Ahmad Tohari merupakan aset yang sangat berharga dalam membangun ketahanan di Banyumas. Karya-karyanya menyediakan landasan filosofis yang menyatukan ekologi, budaya, dan literasi serta keadilan sosial. Dengan memasukkan cerita-cerita Ahmad Tohari dalam pendidikan masyarakat, kita dapat mendorong warga Purwokerto untuk tidak hanya menghargai penulis mereka, tetapi juga menggunakan novel-novel tersebut sebagai pedoman praktis untuk melindungi warisan budaya dan lingkungan yang semakin terancam. di Tengah cuaca panas yang akhir-akhir ini kita rasakan, ketahanan sejati terlihat dari kemampuan kita untuk terus membaca dan menghidupkan kembali “teks yang lestari” yang diwariskan oleh Ahmad Tohari, sebuah seruan untuk kembali merawat bumi Banyumas sebelum terlambat.
Tiara Zona Selvina adalah penulis perempuan berasal dari Purwokerto. Perempuan yang lahir bulan Agustus tahun 2003 ini merupakan mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, Selain menerbitkan karya cerpen antologi, ia juga memiliki passion dalam dunia seni tari. Bisa di hallo melalui Instagram: @zstiara_.




