Kutukan Rara Anteng 

Sebuah rumah kayu dari pohon pinus dengan dua jendela pada sisi kanan dan kiri terlihat temaram. Cahayanya berasal dari lampu jenis semprongan. Sementara bangunan sejenis yang mengapit rumah tersebut sudah gelap gulita sejak pukul sembilan malam tadi.  Pukul dua lebih sepuluh menit, menunjukkan bahwa waktu makin mendekati dini hari. Sebuah jendela di rumah itu masih terbuka, mengirim rasa dingin yang mampu mengiris kulit. 

Ngatemen merekatkan kembali sarung yang menutupi dadanya untuk mengusir hawa dingin. Lalu, ia meraih gelas di meja dan menandaskan kopi yang telah menemaninya dua jam lalu. Jelas sudah, ia memang tak berniat tidur sedikit pun. Jika bukan karena masalah terkutuk itu, tentu ia sudah terlelap tidur dengan sarung yang menutupi sekujur tubuhnya.

Tujuh tahun berlalu sejak Ngatemen diangkat menjadi kepala desa. Tidak ada persoalan pelik yang mampu membuatnya terjaga seperti ini. Semua masih bisa diselesaikan dengan baik. Hingga, tiga hari lalu bencana itu datang. Ya, Ngatemen menyebutnya sebagai bencana karena kesucian desa ini ternoda setelah sekian lama.

“Ki. . .nan ha. . .mil”, ucapan dukun bayi yang terbata-bata saat itu. Seketika membuat sekujur tubuh Ngatemen makin menggigil seiring petang yang memasuki desa. Sejenak, Ngatemen tersirap darahnya mendengar berita tentang Kinan, salah seorang warga desa ini.

Ngatemen mengayunkan langkah ke arah jendela lalu menutupnya. Tak berselang lama, asap putih meliuk-liuk di udara serupa naga sesudah Ngatemen mendekatkan ujung batang rokok pada korek api.  Ia mendaratkan tubuh kerempengnya di kursi kemudian membuang napas secara kasar. Merutuki kehamilan Kinan tanpa suami. Dalam hati, Ngatemen memang sudah curiga ketika Kinan menolak perintahnya selaku dukun adat di desa ini. Sudah menjadi peraturan jika setiap tiga bulan sekali diadakan petekan. Awalnya, Kinan bergeming sehingga mau tak mau bersama Dewati, ibu Kinan, ia terpaksa menyusul gadis itu ke kota. 

Sepanjang perjalanan, Ngatemen lebih banyak melirik Kinan yang sesekali kepalanya disandarkan ke pundak sang ibu. Gadis itu terus menunduk dan terdiam. Pun kala ia berusaha mengajak Kinan berbicara hanya kebisuan yang menyelimuti.

“Apa anakmu mendadak bisu hingga bibirnya terasa berat untuk mengucap, Dewati?” sindir Ngatemen yang hanya bisa dibalas dengan wajah memelas dari kedua perempuan itu. “Seharusnya kau paham, tanpa kami berdua harus menjemput, sudah menjadi kewajibanmu untuk menjalani tradisi ini. Kau perawan, Kinan. Perawan dan janda harus menjalani petekan. “Atau memang kehidupan kota sudah mengubahmu?”, sambungnya dengan wajah mengeras.

Keesokan hari di tempat Ngatemen berada saat ini, para perawan maupun janda dikumpulkan. Bersiap menjalani petekan. Satu per satu diperiksa hingga tiba giliran Kinan. Sang dukun bayi keluar dari bilik dengan detak jantung berirama cepat. Napasnya terasa sesak. 

Berita kehamilan Kinan pun menyebar laksana dengungan kodok dan gosip lirih serangga pada malam hari. Tak satu pun dari mereka yang tidak berbisik-bisik menyebut nama Kinan. Tak sedikit dari mereka menyebut kehamilan Kinan sebuah aib yang kelak akan mendatangkan malapetaka bagi desa ini. 

“Apa yang akan kita lakukan setelah ini?”, Yanto, seorang legen, bertanya kepada Ngatemen dengan nada penuh kehati-hatian. “Kinan sama sekali tidak mau berbicara. Tentu ini akan menyulitkan kita untuk mencari tahu siapa yang bakal bertanggung jawab terhadap janin di perutnya”, sambungnya dengan tatapan tegas meski tubuh Ngatemen membelakanginya.

“Nanti malam kita ke rumah Dewati. Kita bicarakan ini secara baik-baik. Kinan harus bicara  karena ini menyangkut desa kita. Jangan sampai kejadian beberapa tahun silam terulang lagi!” Ngatemen memutar badannya lalu menitahkan sang legen untuk berlalu.

Di depan sebuah tungku, tangan Yanto sibuk memasukkan ranting-ranting kayu untuk menjaga nyala api. Waktu hampir memasuki tengah malam ketika Ngetemen, Dewati, dan Kinan meriung di depan tungku. Udara dingin yang senantiasa menjadi sahabat warga desa ini tak cukup dihalau dengan selempar sarung ataupun sewek yang menempel di pundak. Mereka butuh api untuk menghangatkan badan.

Bukan hal mudah untuk membuat Kinan bersuara. Satu jam lebih, Ngatemen dibantu Yanto mencecar perempuan itu untuk mengatakan sebenarnya. Namun, Kinan malah mengunci rapat bibir merah delimanya dan tak lama mulai terdengar tangis yang menyayat hati hingga membuat kesabaran Ngatemen habis. Ia berdiri. Hampir saja ia melecutkan tangan kanan ke pipi Kinan yang berada di hadapannya jika saja Dewati tidak cepat bersimpuh memohon ampunan.

“Sekali lagi, katakan Kinan, siapa yang menghamilimu? Kau tahu bukan, apa yang akan menimpa  desa ini akibat perbuatanmu? Belum satu hari sejak kehamilanmu terungkap, seorang warga melapor bahwa ia melihat harimau tak jauh dari rumahnya. Ini pertanda dari Yang Maha Kuasa, Kinan! Belum lagi yang lainnya!”.

Suara Ngatemen meninggi seiring batas kesabaran yang ia miliki makin menipis. Sepasang matanya yang renta menatap tajam ke arah Kinan. Ia berusaha menahan marah yang membakar tubuhnya yang mulai ringkih tetapi masih menyisakan ketegasan seorang dukun adat pada wajahnya.

Kinan dan Ngatemen bersitatap. Sesaat, hening menyelimuti ruangan hingga terdengar suara Kinan memecah kesunyian. Dengan masih berderai, perempuan itu bercerita tentang peristiwa memilukan yang menimpanya. Semua berawal dari penangkapan besar-besaran oleh para tentara terhadap orang-orang yang disinyalir terlibat dengan gerakan komunis. Tak luput dari peristiwa itu adalah majikan Kinan.

“Saya di bawa ke suatu tempat dan di sanalah mereka bergiliran merenggut kehormatan saya,” ucap Kinan dengan nada getir sembari meremas kedua tangannya.

“Tidak saya sangka jika dampak kejadian 30 September lalu juga menimpamu, Kinan. Beberapa minggu lalu, tentara juga mendatangi desa ini. Mereka mendata setiap lelaki yang ada dan membawa mereka. Sebagian dari mereka tak kembali. Bahan saat kami bertanya, mereka hanya menggeleng.” Yanto melepas udeng yang bertengger di kepalanya. Raut muka lelaki itu muram.

Sementara Ngatemen mengangguk-angguk sambil mengelus rerimbun jenggotnya. Cukup lama ia terdiam meski sepasang mata milik Yanto, Dewanti, dan Kinan mengarah kepada lelaki itu.  Ngatemen berdiri kemudian menjauhi mereka. Satu per satu ia pandangi hingga berakhir kepada Dewati yang tergeragap. 

“Yanto, kamu pulanglah terlebih dahulu dan kau, Kinan, kembalilah ke kamar. Saya masih ingin membicarakan sesuatu dengan ibumu.” 

Pukul tiga pagi. Suara tokek yang bertengger di balik lemari kayu membuat Ngatemen terbangun setelah mengingat peristiwa yang berebutan memenuhi benaknya. Kali ini sebuah senyum terkembang muncul dari bibir Ngatemen. Kini, ia tahu harus ke mana untuk mencari petunjuk menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi. Bagaimanapun, reputasi yang ia miliki sebagai dukun adat menjadi taruhannya. Ngatemen tak ingin mencoreng nama baik keluarga besarnya yang telah dipercaya memangku jabatan ini secara turun temurun. 

Cermin setengah badan yang terpasang di dinding kayu rumah menampakkan Ngatemen sedang bersenandung lirih  sambil memasang udeng di kepala. Begitu pun dengan pakaian hitam yang menutupi tubuhnya. Hari ini hari istimewa. Warga desa hendak merayakan rangkaian upacara tradisional yang menjadi tradisi warganya.  

Sudah menjadi ritual tahunan, orang-orang merayakannya. Sebuah peringatan untuk memanjatkan syukur atas berkah yang diberikan Yang Maha Kuasa. Saat perayaan, orang-orang akan mengenakan pakaian baru mirip dengan perayaan lebaran oleh orang-orang Islam yang pernah Ngatemen temui ketika bertandang ke kota. Suasana desa pun menjadi ramai.

Sebagai dukun adat, Ngatemen akan memimpin upacara ini. Akan ada banyak hiburan untuk warga desa. Setidaknya, Ngatemen berharap orang-orang itu bisa melupakan sejenak masalah yang sedang mereka hadapi akibat kehamilan Kinan. Ngatemen pun tak menampik jika suasana perayaan tahun ini kurang meriah dibandingkan tahun lalu. 

“Mereka was-was dengan hukuman dari Yang Maha Kuasa”, Ngatemen berucap dalam hati. Apalagi beberapa hari kemudian, sejumlah orang mulai melapor kepadanya, anak-anak mereka tiba-tiba sakit serta sejumlah warga yang merasakan ngidam tanpa alasan jelas.

Ngatemen mengambil napas panjang. Teringat ia akan perdebatan dengan Dewati malam itu. Dewati tak terima saat ia melancarkan tuduhan jika keluarganya telah dikutuk. Namun, Ngatemen tetap bersikukuh dengan mengingatkannya akan kejadian yang menimpa mbah buyutnya. Sebuah kisah tentang Nyai Saina, perempuan desa ini yang menjadi gundik meneer landha. Nyai Saina kembali ke desa dalam kondisi berbadan dua setelah sang meneer meninggal karena kecelakaan.

“Mbah buyutmu telah melanggar tradisi petekan dan kini, keturunannya pun mengulangi hal yang sama. Yang Maha Kuasa telah mengutuk keluargamu!”. 

“Apa yang dialami Kinan adalah kecelakaan begitu juga mbah buyutku”, Dewati berusaha meredakan gemuruh di dadanya.

Malam itu, tak ada jalan keluar yang mampu ditawarkan Ngatemen kepada Dewati. Hanya sebuah penegasan yang ia ulangi sesaat sebelum mengayunkan langkah keluar dari rumah Dewati. Nyai Saina beserta keturunannya memang telah dikutuk. Ngatemen menutup telinganya rapat-rapat meski air mata Dewati terus bergulir.

Hampir saja Ngatemen terus larut dalam lamunannya jika saja tidak terdengar gedoran pintu dari luar. Ia lalu beranjak menuju pintu dan mendapati tubuh Yanto yang gemetaran. 

“Ki. . . nan. . . Ki. . . nan. . . Sa. . .ya melihat Kinan berdiri di tepi jurang”, napas Yanto terengah-terengah dengan butir-butir peluh dingin yang bersembulan di dahi. Telunjuknya terarah ke belakang.

Tanpa membuang waktu, Yanto dan Ngatemen bersigegas menuju tempat yang dimaksud Yanto diikuti beberapa orang termasuk Dewati. 

Ngatemen tak pernah menghitung berapa kali ia bersyukur atas segala pemberian Yang Maha Kuasa terhadap desa ini. Ladang-ladang hijau dengan latar Gunung Bromo serta rerimbunan pohon yang terhampar membuat Ngatemen merasa inilah surga dunia sesungguhnya. Namun, pagi ini di antara rerimbunan pohon yang menjulang tinggi itu, seorang perempuan bersewek dengan simpul ke belakang berdiri tepat di tepi jurang.

Melihat pemandangan di hadapannya, Dewati langsung histeris. Yanto bersama orang-orang berusaha membujuk Kinan supaya menjauh dari tepi jurang. Sementara Kinan menatap lurus mata Ngatemen. Pandangannya kosong.

Jantung Ngatemen berdetak berlipat kali lebih cepat. Teringat ia akan perkataannya kepada Kinan sehari sebelumnya. Seusai meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa, keesokan hari, Ngatemen mendatangi rumah Dewati bermaksud menawarkan sebuah jalan keluar. Namun, Dewati tak ada di rumah dan hanya ada Kinan seorang. Sesaat setelah memasuki rumah, kedua bola matanya menangkap edelweis di sudut ruangan.

Tak berselang lama, terdengar pekik Dewati yang terus menerus memanggil nama Kinan. Disusul jeritan para perempuan lain. Ngatemen hanya tertegun kala derap langkah orang-orang melewatinya. Mereka terus-menerus memanggil Kinan sembari mendekati tepi jurang seusai tubuh perempuan itu menggelinding ke bawah.

Ngatemen berangsur melangkah menjauhi kerumunan. Berpikir jika ia harus menyiapkan diri untuk merapal mantra pada makanan-makanan yang akan dibagikan kepada warga.

“Apakah kau masih ingat bagaimana pengorbanan Jaya Kusuma untuk Jaka Seger, Rara Anteng, dan saudara-saudaranya, Kinan? Jaya Kusuma mengorbankan dirinya untuk menghindarkan keluarganya dari angkara murka Yang Maha Kuasa. Ia menceburkan dirinya ke kawah gunung untuk menuntaskan janji ayahnya. Sejak itu mereka semua bisa hidup tenang tanpa rasa was-was lagi. Tentu kau bisa merasakan bagaimana Rara Anteng sangat kehilangan anak bungsu sekaligus anak kesayangannya. 

Lalu, apakah kau ingin kehidupan  kami  senantiasa diselimuti ketakutan? Rara Anteng tentu akan marah melihat anak keturunannya hidup  dalam suasana mencekam satiap saat. Bisa jadi, ia akan berpikir jika pengorbanan Jaya Kusuma akan sia-sia dan akan mengutuk setiap orang yang membuat kehidupan anak keturunan menjadi tidak tentram.”

Perkataan Ngatemen kepada Kinan kala itu terus tergiang dalam benaknya. Ia merasa sudah menjalankan kewajiban selaku dukun adat untuk membawa ketentraman pada desa ini. “Pengorbanan Kinan tak akan sia-sia”, Ngatemen membatin. Ia terus melangkah menuju padepokan meski sekarang ia merasa ada sayatan tipis yang menggores relung hatinya.

Glosarium
Legen : pembantu dukun adat
Udeng : penutup kepala khas Tengger
Sewek : Sebutan kain jarik untuk daerah Malang

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top