
17 Agustus 2025 lalu, aku menjadi salah satu yang ikut merayakannya dengan menikmati promo menonton film dengan tarif 17 ribu di Bioskop Rajawali. Aku tidak mau tertinggal menonton “Tinggal Meninggal” yang kebetulan menjadi salah satu film dengan promo 17 ribu tersebut. Demi promo ini pun aku rela berbeda baris kursi dengan temanku, kami duduk depan-belakang, judulnya tetap ‘nonton bersama (nobar)’, kan?
Sebelum Menonton
Beberapa bulan sebelumnya aku melihat postingan Ernest Prakasa, produser Imajinari, yang mengunggah foto cover skrip naskah film ini. Aku langsung memasukkan film ini ke daftar wishlist film yang akan aku tonton, penasaran dengan hasil karya debut Kristo Immanuel sebagai sutradara.
Postingan tersebut dan trailer filmnya mengingatkan aku ke tulisan atau buku yang dulu pernah aku baca, yang menceritakan harga sebuah pertemuan. Bahwa untuk suatu pertemuan dengan orang yang disayang atau penting dalam hidup ini, harga yang harus dibayar adalah nyawa, agak ngeri juga kalau harga satu pertemuan adalah menunggu adanya nyawa yang melayang. Alasannya karena setiap ada nyawa yang melayang, atau adanya kematian seseorang, maka akan ada orang-orang yang datang, yang sebagian atau salah satu di antaranya adalah orang yang dianggap berarti dalam hidup. Di kematian seseorang, juga sering mendatangkan orang-orang jauh yang lama tidak bertemu, seolah-olah memang harus ada kematian dulu jika menginginkan adanya pertemuan. Maka sempat aku berpikir kalau film ini akan bergenre thriller atau drama, tapi kalau ingat branding-an Kristo yang cenderung kocak rasanya agak tidak mungkin jika film ini akan thriller.
Ditambah keberadaan konten promosi filmnya yang unik. Cukup keren ide konten video promosinya yang menampilkan para cast film tersebut (yang diceritakan merupakan satu tim kerja kantor) sedang roleplay kegiatan meeting membahas strategi marketing film “Tinggal Meninggal” (yang notabene adalah film yang menceritakan mereka sebagai pemerannya). Seperti ada drama di dalam drama.
Lalu ada juga konten video yang belakangan sering ditemui di shorts YouTube, yaitu clipper dengan pengisi suara dari Google atau AI. Mereka juga membuat video seperti ini, menampilkan trailer yang diiringi suara Google persis seperti kebanyakan konten clipper dengan narasi yang seringkali kelewat kreatif (bahkan ngaco). Sampai ditemukan pula konten video promosi film “Tinggal Meninggal” dengan format drama China yang sedang ramai muncul di YouTube. Konten-konten ini sekilas seperti slengean, namun harus diakui konten-konten tersebut menunjukkan kreativitas pekerja kreatif di baliknya, mereka mampu ‘membaca tren’ yang dijadikan ide konten promosi sehingga terasa dekat dengan calon penontonnya.
Segenap konten promosi film ini terlalu kreatif menurutku. Ya, akhirnya semakin dibuat penasaran dengan hasil karya yang disutradarai oleh sutradara debut ini, yang sering dikenal karena bakatnya menirukan suara orang (impersonate).
Setelah Menonton
Rasa penasaran yang aku bawa ke dalam studio bioskop dibayar tunai dengan pemutaran film yang luar biasa plot twist. Film ini mengandung plot twist yang tidak tertebak jika hanya menonton trailernya saja. Bahkan setelah selesai film ini ditayangkan, aku bersama penonton lainnya di studio bertepuk tangan karena dibuat kagum dengan pengalaman menonton yang berkesan.
Menurutku cerita di film ini sebetulnya menyedihkan, yaitu potret seseorang bernama Gema yang masa kanak-kanaknya kurang perhatian dari keluarganya dan menjadi korban perundungan di sekolahnya. Dua lingkungan yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk tumbuh dan belajar itu justru membuatnya menjadi pribadi yang kesepian dan cenderung gagap bersosialisasi. Dampaknya terlihat saat Gema dewasa, mulai dari tidak bisa berbaur dengan teman sekantornya sampai Gema yang kebingungan harus menunjukkan pose atau ekspresi foto seperti apa saat berfoto di dekat peti mati ayahnya. Rasanya semakin miris ketika Gema baru merasakan perhatian teman-teman sekantornya justru sejak kematian ayahnya, yang membuatnya kemudian sering berbohong soal kematian kucing hingga keluarganya agar mendapatkan perhatian kembali dari teman-teman kantornya, sampai puncaknya ketika Gema membuat sandiwara kematiannya hanya demi melihat rasa sayang dan kehilangan yang dirasakan teman-temannya.
Ajaibnya cerita yang menurutku menyedihkan dan sarat akan kritik ini tidak disajikan secara terang-terangan bagian sedih dan kritiknya. Bagiku penulisan dan penyajian film ini sangat rapi sehingga penontonnya seperti hanya menonton cerita humor saja. Padahal premis sesarkas ini, penyajian se-plot twist ini, jelas tidak mudah secara teknis dan prosesnya untuk bisa tersampaikan ke penontonnya seringan ini.
Film ini cukup sukses menunjukkan kritik terhadap manusia dewasa ini yang sering menormalisasi hal-hal yang (sepertinya) tidak normal, dan mengesampingkan hal-hal yang seharusnya normal. Untuk hal-hal tidak normal yang dinormalisasi (dalam film ini) adalah rasa kesepian Gema yang terlampau berlebihan sampai hanya mengobrol dengan kucing, berdialog dengan foto masa kecilnya, atau kebiasaan Gema yang sering komat-kamit sendiri. Untuk hal-hal normal yang dikesampingkan (dalam film ini) adalah mengacuhkan manusia yang ingin berkumpul, juga Gema yang sampai membuat wishlist berisi kegiatan sepele bersama orang tuanya (seperti ingin makan ayam bersama orang tua, main bersama orang tua, atau dipeluk oleh orang tua) yang seharusnya bisa didapatkannya tanpa harus dijadikan wishlist.
Apresiasi
Kalau harus menyebutkan satu kata yang merangkum keseluruhan tentang film ini maka aku akan menyebutkan kata “keren”. Iya, film ini keren!
Aku memang belum banyak menonton berbagai film atau yang paham banyak tentang film. Namun sebagai penonton aku bahagia karena bagiku film ini turut menyumbangkan pembuktian bahwa perfilman Indonesia sudah seberwarna ini. Aku harap film ini juga terus hidup dengan munculnya hasil penelitian akademis, adanya forum diskusi film, atau keberadaan ulasan maupun kritik terhadap film sebagai bagian dari bentuk apresiasi.
Mungkin ini adalah caraku mengapresiasi film yang sering disebut “Ting Ning” ini. Sewaktu aku keluar dari studio bioskop setelah selesai menonton, aku buru-buru menulis perasaanku dan pengalamanku selama menonton, sebab aku tidak rela kalau terburu lupa. Aku ingin tidak hanya aku yang merasakan pengalaman mengesankan menonton Tinggal Meninggal, atau setidaknya lewat tulisan ini aku mengabadikan dan merekam perasaanku saat menontonnya.
Aku turut bahagia menjadi bagian dari 184.960 penonton film ini di bioskop. Apresiasi sebesar-besarnya untuk seluruh kru, pemain, dan semua pihak yang terlibat di balik penggarapan Tinggal Meninggal. Terima kasih atas karyanya!
Nur Fadhilah Rizqi, warga Purwokerto Utara yang lebih sering disapa Kiki. Hobi ke Rajawali Cinema dan senang-sedang-selalu mencari kesempatan belajar karena banyak nggak tahunya. Selain warung seblak, kedai es krim, warmindo, atau coffee shop, Kiki bisa diajak ngobrol lewat akun instagram pribadinya @rzqrrr.




