
Jarum jam baru menunjukkan pukul setengah sepuluh. Tapi rasa gugupku sudah mendidih. Aku sedang dalam perjalanan menuju Banyumas Kota Lama. Bukan untuk acara biasa, melainkan untuk pengalaman yang istimewa yaitu acara Human Library di Pekan Literasi Masyarakat Banyumas. Saat tiba di lokasi, setelah menyapa teman-teman dan peserta yang lain, dadaku sesak saat menebak mantan narapidana seperti apa yang akan aku ajak bicara? Aku mengamati deretan mantan narapidana yang hadir. Beberapa di antaranya memiliki tubuh yang tegap, dan tatapan mereka terlihat fokus, sebuah tanda keseriusan yang membuatku berpikir dua kali sebelum memilih siapa yang akan kuajak bicara?
Dengan perasaan gugup, aku menghadiri Human Library yang diadakan oleh BIL Fest di Pekan Literasi Masyarakat Banyumas bersama Bapas Kelas II Purwokerto. Sebuah acara yang belum pernah kujumpai. Sangat senang saat aku duduk bersama teman-teman penulis dan pembaca. Suasana acara sangat santai meskipun gugupku tidak segera hilang.
Tiba acara dimulai. Aku mulai mengamati setiap sudut ruangan. Fokusku pada gerak-gerik dan wawasan para pembicara di panggung. Rasa penasaranku saat itu benar-benar memuncak. Ternyata, mendengarkan cerita seorang mantan narapidana dan berdialog dengannya terasa sangat menyenangkan.
Dalam sesi selanjutnya cukup unik. Panitia mengatur kami menjadi regu kecil, yang terdiri dari fasilitator, peserta seperti aku dan satu mantan narapidana. Kami dipersilakan untuk mengobrol. Pilihan tempatnya pun bebas di area Griya Abhipraya, tempat Human Library dan Pekan Literasi diadakan. Ada yang memilih di ruang tamu, aula, sampai kebun belakang.
Kami diberi topik-topik ringan untuk bahan obrolan, seperti teman, uang, dan cinta. Topik itu tertulis di potongan-potongan kertas kecil. Dan setelah berkomunikasi lama, kutipan dari beliau (mantan narapidana dalam regu kami) tentang keluarga itu sederhana, namun mengguncang hatiku. Dia menuturkan jangan pernah kecewakan orang tua. Aku sendiri telah merasakan betapa berharganya mereka dalam hidup ini. Tidak ada teman, tidak ada orang lain yang akan benar-benar peduli dan mengurus kita seperti halnya orang tua.
Mereka satu-satunya yang tulus mencintai tanpa pamrih, yang selalu ada bahkan ketika dunia menjauh. Selagi mereka masih ada, bahagiakanlah mereka sekuat yang kita bisa. Jangan tunggu nanti, karena waktu tidak pernah menunggu. Gunakan setiap detik dengan hal-hal yang positif, bermanfaat, dan bermakna. Hargai waktu yang kita punya, hargai kehadiran mereka—sebab ketika waktu sudah berlalu, penyesalan tak akan bisa mengembalikan apa pun. Selagi masih ada kesempatan, buatlah orang tua tersenyum karena kita.
Di tengah keramaian Pekan Literasi, di hadapan seorang asing yang baru kutemui, aku tersadar bahwa pengetahuan terbesar bukanlah yang kudapat dari buku, melainkan dari hati yang terbuka, dan bahwa “rumah sejati” adalah tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri, seperti yang dikatakan oleh orang yang kini telah kembali ke keluarganya (mantan narapidana).
Kesimpulan pembelajaran dari kegiatan saat jadi volunteer di BIL Fest dan saat Human Library di Pekan Literasi ini telah menjadi titik balik yang signifikan dalam perjalanan belajarku. Secara jujur, aku memulai dengan merasa sebagai seseorang yang memiliki minim pengalaman belajar dan mungkin kurang antusias terhadap dunia literasi. Namun, melalui partisipasi aktif dan interaksi di kegiatan ini, pandangan tersebut sudah berubah drastis. Kegiatan ini bukan hanya sekadar formalitas, melainkan sebuah laboratorium pembelajaran nyata. Setiap tantangan yang muncul mulai dari koordinasi acara, berinteraksi dengan berbagai pihak, hingga mempromosikan literasi “memaksa” aku untuk terus belajar dan mencari solusi.
Proses inilah yang menumbuhkan semangat belajar yang sebelumnya terasa hilang. Yang paling penting, pengalaman ini telah mengajarkan bahwa belajar adalah proses yang tak terpisahkan dari tindakan nyata. Setelah bertemu dengan teman-teman pegiat literasi mengajarkan untukku tidak boleh gampang menyerah. Melihat dampak nyata dari upaya kolektif dalam meningkatkan minat baca dan literasi telah memberiku motivasi kuat. Dari individu yang merasa minim ilmu, kini aku bertransformasi menjadi seseorang yang suka belajar dan siap menghadapi kesulitan dengan ketekunan yang baru.
Viska Madina Auralia, lahir di Wonosobo tahun 2001, saat ini berdomisili di Pabuaran, Purwokerto Utara. Ia aktif membagikan aktivitas serta inspirasinya melalui media sosial Instagram @vskamdn.




