
Menjernihkan Langit
Mari menjernihkan langit yang keruh oleh ingatan hitam mendung peradaban
Jangan merasa suci sendiri
sesungguhnya hati dan jiwa pernah tergoda
untuk saling membenci
ternyata saling melukai sejarah bersama.
Mari menjernihkan langit dengan rindu
dan bisikan kata
cinta saja tidak cukup
diperlukan kasih sayang yang menyembuhkan
Jadikan kesedihan embun bagi bunga
yang menginginkan rasa damai
di segala hari, bulan dan tahun
berjalan mendekati cakrawala kemanusiaan kita.
Nyanyikan lagu-lagu lembut
agar langit membersihkan dirinya sendiri
dari segala
kotoran zaman.
2025
***
Anak-anak Menari
Anak-anak TK diajak menjelajah lorong kampung
mengenali rumah tetangga
berhenti di lapangan badminton
ketika mereka mulai berdoa
gerimis turun dari langit membawa kesejukan
ketika mereka bertepuk tangan
aku melihat dunia yang tak bisa dikalahkan oleh perang
ketika mereka menyanyi
aku menyaksikan kebun-kebun anggur yang disiram para nabi
ketika mereka menari
burung-burung, capung, dan kupu kupu ikut menari
ketika mereka tertawa
aku melihat pesta dengan hidangan lezat yang dimasak bidadari
ketika mereka berbaris
aku menyaksikan masa depan yang bercahaya
Anak-anak TK mengelilingi kampung
terasa aura perlindungan demikian kuat
aku bertanya siapakah anak-anak ajaib ini?
“Mereka anak kandung cinta dan keikhlasan orang tuanya.”
Terdengar bisikan
tak kutahu dari mana asalnya.
2025
***
Persimpangan Jalan
Di persimpangan jalan
sunyi
bangsa
banyak penjaja bendera
menunjuk ke masa silam yang gelap
Ke masa kini yang remang remang
atau masa depan sesuai pilihan
Ingin bersama bendera musim yang menyimpan badai?
Bersama bendera cuaca yang sering berubah arah?
Bersama bendera sungai yang menuju muara
bisa hanyut di tengah samudra?
Atau bersama bendera pohon yang bisa berbuah asal menang terhadap benalu dan hama?
Atau bersama bendera mesin yang memenjarakan waktu dalam gerak sama?
Atau bersama bendera hewan yang mengandalkan naluri?
Sayang bendera manusia nyaris tidak ada
kalau ada.
benderanya kecil
tulisannya kabur
Di persimpangan jalan.
bangsa
bendera bendera itu terus ditawarkan
karena bingung memilih
bangsa bisa tersesat di persimpangah
kakinya macet
berhenti disitu
mrnunggu sang penolong
semoga sudi mampir disitu.
Aamin
2025
***
Warung Kecil di Jalur Wisata
Bis-bis besar hanya mementingkan tujuan
bukan menkikmati proses
wisata kota menuju wisata pantai
warung-warung kecil
di jalur wisata dianggap tidak ada
Hanya bising dan desing mesin
mereka terima
setiap minggu
kelebat-kelebat manusia bingung
hilir mudik
warung pun menganggap bis itu
tidak ada
Hanya retangga desa
yang membuka percakapan akrab
tentang hari sulit
atau beruntung
karena hasil sawah
terbeli dengan harga wajar
di pasar desa
Para pensiunan kurang kerjaan
sesekali mampir
memesan nasi goreng magelangan
mie instan rebus pakai telur
wedang jahe membuat mereka bersemangat
betbincang tentang negara
pergantian menteri
korupsi yang terus dimaki.
Saat akan pergi dihitung biaya mampir di warung itu
habis enam puluh ribu
dibayar kontan
Pemilik warung hampir menangis
karena bahagia.
Bis-bis wisata menyambar angin
para pensiunan kurang kerjaan
mendapat hiburan murah
bekal bermimpi bersama isteri
di pembaringan tua
tapi tetap hangat.
2025
***
Mustofa W Hasyim adalah sastrawan dari Yogyakarta kelahiran tahun 1954. Ia belajar menulis sejak di komunitas sastra dan teater Persada Studi Klub (PSK). Selain aktif di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), dan Dewan Kebudayaan Kota (DKK) Yogyakarta Ia juga redaktur di Majalah Suara Muhammadiyah. Novelnya berjudul Rumah Cinta, Ia menerima penghargaan terbaik dari Balai Bahasa Yogyakarta dan IKAPI Yogyakarta tahun 2009.




