
Sebelum ngobrolin lebih jauh, ada adagium legendaris yang berbunyi “Tak kenal, maka tak sayang.” Oleh karenanya marilah kita saling berkenalan dan sayang-sayangan kemudian. Eaks… Oke, bro. Komunitas Waktu Kita Membaca (WKM) -untuk selanjutnya kita sebut WKM- merupakan kerja kolektif yang bernapaskan literasi. Komunitas ini tak lain adalah manifestasi dari ide-ide kreatif santri-santri PP. Darul Abror Purwokerto. Pada bio Instagram-nya tertuliskan, “Demi masa. Sungguh manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang membaca.” Meski merupakan pembelokan dari redaksi sebenarnya: “Demi masa. Sungguh manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal kebaikan.”, tapi cukup makjleb tenan sih. Wkwkwk (setidaknya bagi saya pribadi).
Ada sebutir pertanyaan yang barangkali “b aja” terlontar dari palung yang paling dalam. Hatiku. Pertanyaannya kurang lebih seperti ini, “Lantas sebenarnya misi misterius apa yang dibawa oleh WKM ini dan akan ke mana arah laju kapalnya?” Mendengar pertanyaan ini, untuk menjawabnya dengan memuaskan serta tidak menimbulkan kata-kata, “ah cuma gitu-gitu aja” mungkin akan mengernyitkan dahi. Mengingat ini merupakan pertanyaan fundamental yang ingin mengulik dan menelisik arah laju dan manuver-manuver dari komunitas WKM, yang mana notabenenya baru-baru saja bisa berjalan. Boleh dibilang saat ini masih dalam fase jalan merangkak.
Sekalipun terdengar sukar untuk menguraikan jawabannya. Setidaknya ada dua target yang baru sebagian teman-teman WKM rembug-diskusikan mengenai silang sengkarut tujuan komunitas literasi ini. Bisa jadi, dua target ini meleset. Bisa juga tepat sasaran, sesuai objek bidikan. Atau mungkin pada keberlangsungan WKM ke depan, bukan suatu hal mustahil jika akan lahir target-target lain. Target yang lebih relevan dan fungsional (dalam artian mengandung daya guna) untuk khususnya teman-teman WKM sendiri dan Abrorian (sebutan jadi-jadian untuk segenap santri PP. Darul Abror Purwokerto) dan umumnya, masyarakat luas.
Kami menyadari akan pentingnya nilai kebermanfaatan yang lebih luas. Oleh karenanya, kami tetap berjalan mengarah ke sana, kepada kebermanfaatan untuk kemaslahatan khalayak luas. Bagaimanapun nanti pengejawantahannya. Tentunya masing-masing dari kita tak ingin hanya berjalan di tempat. Pastinya ingin ngalor-ngidul, ngetan-ngulon, atau bahkan mengepakkan sayap serta melebarkan sayap sekalipun. Terbang setinggi mungkin, yang mungkin dan mengudara lepas-bebas sejauh yang bisa.
Untuk saat ini, bidikan WKM adalah upgrade skill diskusi publik dan menjembatani literasi pesantren dan kampus. Sekali lagi, bidikan ini nantinya bisa bertambah, bertumbuh, dan bahkan berubah sekalipun, sejauh geliat perkembangan zaman, situasi, dan kondisi.
Upgrade skill diskusi publik
Satu dari dua target bidikan WKM (untuk saat ini) -sebagaimana yang telah dirundingkan sebagian teman-teman WKM- adalah menumbuh-kembangkan keterampilan diskusi publik. Suatu keterampilan atau skill yang sekurang-kurangnya pasti terpakai nantinya dalam hidup bersosial dan bermasyarakat. Sebagai contoh skill diskusi publik yang diaplikasikan di masyarakat adalah di saat kumpul warga, kumpul kepanitiaan agustusan, muludan, rajaban, dan kumpul-kumpul lainnya yang melibatkan orang banyak. Tentu hal-hal demikian perlu dibekali dengan keterampilan diskusi publik yang mumpuni. Sekurang-kurangnya apa yang ada dalam kepala bisa keluar tanpa terbata-bata.
Satu hal yang saya yakini, setiap orang pasti memiliki ide dan gagasannya masing-masing tentang suatu topik tertentu sekaligus mempunyai pendapat yang seumpama pelangi, berwarna-warni. Apalagi idenya pun bagus-bagus dan baik-baik. Naluri alamiah seseorang adalah berlaku baik dan bebuat bagus. Agar sebuah ide tak sekadar berhenti dan termenung di relung pikir dan batin, maka perlu rasanya diimbangi dengan cara menyampaikannya dan menarasikannya. Sekalipun ide bagus, akan berpotensi kurang menarik atau bahkan buruk jika dalam mengkomunikasikannya terlampau bar-bar dan asal-asalan.
Sebenarnya diskusi publik tidak semata tentang menyampaikan gagasan dan menarasikannya dengan ciamik, namun ada hal lain yang juga perlu cukup diperhitungkan adalah bagaimana cara kita merespon suatu topik, menanggapi argumen orang lain, menghormati pendapat teman diskusi, dan menghargai keberagaman sudut pandang yang tak ubahnya seumpama lauk di etalase Rumah Makan Padang. Oleh sebab itu, WKM hadir untuk mengakomodir hal demikian. Melatih kita untuk mendengar, memikirkan, menanyakan, mengapresiasi, mengkritik, dan utamnya tak lain adalah menghargai keberagaman cara pandang.
“Menghargai keberagaman sudut pandang yang tak ubahnya seumpama lauk di etalase Rumah Makan Padang.”
Menjembatani literasi pesantren dan kampus
Hal lain yang menjadi bidikan WKM adalah menjembatani literasi pesantren dan kampus. Kalau istilah Soekarno adalah “penyambung lidah”, WKM dalam parktiknya berperan seumpama penyambung lidah antara pergumulan literasi pesantren dan pergulatan literasi kampus. Apa yang teman-teman dapatkan di pesantren dan di kampus, dalam WKM coba untuk saling dipertemukan. Apa yang teman-teman peroleh di pesantren (yang bahasa dan istilah-istilahnya terdengar tradisional), dalam WKM dicoba untuk dibahasakan, dinarasikan, dan disampaikan dengan dialek kampus (yang konon katanya lebih akademisi dan penuh diksi-diksi ilmiah).
Sampai saat tulisan ini dituliskan, alhamdulillah WKM sudah melangsungkan diskusi tematik sebanyak enam kali pertemuan. Temanya pun beragam, di antaranya: Perihal Ketidakpatuhan: Perspektif Psikologi & Islam, Emotional Management of The Life Complexities bi wasilati Filosofi Teras, Mewujudkan Komunitas Inklusif Melalui Pemenuhan Hierarki Kebutuhan Manusia ala Abraham Maslow, Dompet Sehat, Ati Tatag, Belajar Leadership ala Monkey D. Luffy, dan Paradoks Matematika: Ketika Matematika Gagal Memberi Kepastian.
Mungkin memang belum sepenuhnya WKM sudah benar-benar mampu menjembatani literasi pesantren dan kampus. Namun misi tersebut sudah mengada sejak kali pertama WKM dengan diskusi tematiknya terselenggara. Di sisi lain, teman-teman WKM tak terlalu harus begini dan begitu yang justru seringkali hal semacam itu membuat niat baik dan laku positif tertunda-tunda atau bahkan terbengkalai. Mereka mengupayakan apa yang WKM bisa dan membuka pintu selebar-lebarnya kepada siapapun yang berkenan untuk kolaborasi dan memanjangkan napas literasi.
Fajrul Alam. Penyair muda dan aktif di dunia literasi Purwokerto, ia juga telah menerbitkan sejumlah karya puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (JP: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_




