
Recoqnito mengadakan Webcast Series edisi petama dengan mengangkat obrolan tentang nasib jurnalisme era Artificial Intelligence (AI). Ibarat kata, tanah kubur jurnalisme cetak belum kering, sekarang kerja jurnalisme sudah dihadapkan dengan “kematian” baru. Kami secara perlahan mengajak mengurut kembali tentang “kematian” yang dimaksud.
Era media cetak seperti buku, majalah, dan koran sudah “mati” karena digitalisasi. Semua beralih berbasis digital -menjelma menjadi media interest maupun media sosial. Orang sudah tidak lagi beli buku, majalah atau koran. Sekarang tinggal buka gawai, orang akan mendapatkan informasi yang ingin didapatkan. Lebih murah, mudah dan cepat. Itulah cara orang mendapatkan informasi sekarang ini. Berbeda dengan era cetak. Era cetak lebih lama untuk sampai ke publik.
***
Kita ketahui bahwa di balik buku, majalah dan koran yang terbit ada pekerja kreatif di belakangnya. Mereka terbagi menjadi 2. Ada di tim redaksi ada yang di bagian produksi atau pengurus model bisnisnya. Begitupun yang digital. Tidak lepas peran pekerja kreatif yang menjadi produsen. Unsurnya pun tetap sama. Ada tim redaksi dan juga produksi. Dan era AI sekarang ini, masing-masing memiliki cabaran yang harus dihadapi.
Melalui Webcast Series pertama itu Recoqnito -yang berisikan para jurnalis senior seperti Rike Amru dan Ariyo Ardi- menghadirkan pakar yang tepat untuk memberikan sudut pandang lain tentang hadirnya AI, yaitu Ismail Fahmi founder Drone Emprit.
Meskipun obrolan di Webcast Series itu lebih banyak tentang nasib jurnalisme di era AI, namun bisa juga ditarik ke ruang pekerja kreatif lain. Terutama yang pekerjaannya berbasis digital atau yang terdampak di era AI.
Memasuki era AI, kita bisa memilih 3 hal untuk membuat roadmap terhadap langkah kerjakerja kreatif. Dan 3 pilihan ini tidak hanya untuk dunia jurnalisme. Tapi berbagai jenis kerja kreatif lainnya. Setidaknya 3 hal itu yang bisa kita tangkap dari Webcast Series Recoqnito yang bertajuk “Media After AI: Dunia Jurnalisme Setelah Dunia Berubah”.
Pertama, survive di era AI
Bagi pekerja kreatif, survive di era AI adalah pilihan. Namun harus kita pahami, bahwa pilihan survive adalah pilihan untuk menunda 3 hal. Pertama adalah menunggu datangnya pertolongan, survive yang akhirnya mampu menyelamatkan diri, atau kemudian mati secara perlahan.
Sialnya, kebanyakan kita saat sekolah, belajar survival jika kita tersesat di hutan. Bukan tersesat di kemajuan zaman yang bergerak begitu cepat. Dan kita hanya “melongo” melihat kemajuan dan kecepatan itu. Tidak tahu peta kedepan dan tidak mampu menganalisis bekal yang ada untuk “bagaimana bertahan hidup?”.
Para pekerja kreatif akan mampu bertahan jika mempergunakan bekal yang sudah ada sebaik-baiknya. Memaksimalkan yang ada. Yang pada akhirnya menggerutu, kemajuan teknologi mematikan “jalan panganku”.
Kedua adalah disrupt bersama AI
Tidak ada istilah “kematian” bagi pekerja kreatif di era AI yang memilih untuk hidup bersandingan dengan AI. Kerja-kerja kreatifnya tetap bisa dilakukan. Justru dengan AI, pekerjaanya akan lebih melesat.
Mempelajari AI dengan benar, akan meletakkan AI sebagai pembantu kita. Dari membantu saat kebuntuan ide, atau saat mencari informasi pembanding. Banyak sebenarnya yang bisa dilakukan bersama AI. Dengan catatan, prompt yang kita berikan harus jelas. Karena AI mampu melakukan analisis terhadap data yang ada. Baik data yang sudah ada di internet, maupun data yang kita sajikan saat memberikan prompt.
Perbedaanya adalah, AI tidak mampu melakukan penggalian data sendiri di lapangan. Kita lah yang melakukan penggalian data di lapangan. AI menganalisis apa yang sudah kita titipkan dan berikan kepada internet. Misalnya kita memberikan alamat tempat usaha di Google Maps. Itu upaya yang dilakukan para pengusaha dan UMKM untuk menunjang usaha. Di sisi lain, AI bisa memiliki data berapa banyak usaha yang ada di suatu wilayah, yang berasal dari titik maps tadi. Dengan data itu, misalnya Badan Pusat Statistik (BPS) akan melakukan sensus ekonomi. BPS bisa memberikan prompt ke AI menggunakan data Google Maps sebagai bahan untuk menyusun hipotesa awal. Namun wajib hukumnya untuk tetap ke lapangan untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.
Setelah data itu di peroleh, kita kemudian bisa melakukan analisis bersama AI. Kita bisa berdebat dengan AI, sebagai upaya dialektika keilmuan. Sehingga informasi dan kesimpulan yang kita sampaikan kepada publik, tetap kita yang menjadi kuasanya.
Terakhir adalah disapper dan memilih menjadi sejarah yang usai
Memilih untuk disapper di era AI bukanlah pilihan yang salah. Seperti diawal kita sampaikan tadi bahwa pekerja kreatif (tim redaksi dan produksi) adalah yang dibalik hasil kerja kreatif (jurnalistik, buku, majalah, koran dan lain sebagainya).
Mengapa bukan pilihan yang salah? Karena AI saat ini tidak bisa memberikan benefit secara langsung seperti kita menjual koran-buku di era cetak dan mendapatkan dollar dari google ads saat ada yang mengklik laman website kita. Tidak ada jual beli yang langsung. Karena model bisnis di era AI bagi pekerja kreatif juga harus beradaptasi.
Dan tidak salah juga memilih untuk disapper, karena dari sisi negara, kita bukanlah pembuat AI. Kita tunggu saja road map yang disiapkan oleh pemerintah dalam menghadapi era AI ini. Saat kita hanya sebagai pengguna yang “manut” terhadap hasil AI tanpa kita kritis dan mendebatnya. Akhirnya memilih untuk disapper (menghilang) tidak terelakkan.
Lalu bagaimana nasib pekerja kreatif selanjutnya?
Pekerja kreatif bisa memilih untuk bertahan sampai batas waktu tertentu, menghilang atau berdampingan dengan AI. Memilih berdampingan dengan AI adalah sebuah pilihan untuk melanjutkan hidup. Menjadikan AI sebagai pembantu dan karyawan, sehingga pekerjaan bisa lebih mudah dan hasilnya maksimal. Tapi kalau memilih untuk menggerutu dan menghilang, tidak salah juga. Toh negara kita gagap juga. Lalu, bagaimana model bisnis yang bisa dijalakan untuk mendukung kerja kreatif era AI? To be continue

dari Banyumas menyapa Indonesia




