
Dari ketidak sengajaan, tidak bisa dibilang sengaja. Kenapa? karena dalam sadar dan tidak dalam rayuan yang mengolok-olok. Iya, sudah menjadi budaya menjadi hal yang aneh jika tidak dilakukan. Ngunduh mantu menjadi tradisi masyarakat, kita sebagai orang Jawa. Kita menemui, mejumpai, bahkan menjadi sohibul hajat ngunduh mantu tersebut. Saat saudara kita, apalagi yang mempunyai sapaan pakdhe (Bapak Gedhe).
Pakdhe ini menjadi sapaan jika orang tersebut kakak dari ayah atau kakak dari ibu kita. Dalam dialek Jakarta, akrab disapa dengan sebutan “Om” tapi bukan “om-om yang itu ya.” Menjadi tuan rumah atau sohibul hajat juga kita, karena hubungan persaudaraan oleh bapak atau ibu kita. Jadi saat Pakdhe-Budhe kita sibuk menjadi sohibul hajat, sangat wajar kita ikut sibuk. Dan sepantasnya kita menyibukkan diri dalam acara hajatan tersebut.
Hari itu (Ahad, 24/8/25) yang bertepatan pula pada akhir bulan Safar menuju bulan Maulud (Rabiul Awwal) 1447 H. Selesainya sambutan-sambutan serah terima pengantin dalam acara ngunduh mantu di rumah pakdhe, sambil mencicipi hidangan yang sudah tersuguhkan, menepilah saya di sebelah barat kursi-kursi para tamu undangan yang sudah terbatas oleh tirai (biar gak malu saat tamu undangan menikmati segala prasmanan). Sapaan akrabnya Alam, “Mas Alam… Yuk, Aku mau pulang dulu. Geser ke Sumpiuh (Kecamatan di Kab. Banyumas).”
Ia merespon dengan antusias, “Gugup banget ta? Acara opo nang Sumpiuh”
“Alfan Gendut arep lamaran kie, entuk wong Sumpiuh. Yuk bareng”
“Ya ayuh, pamitan set karo ibu”
“Iya Mas Alam, soale batir batir sing biasa karo Alfan pada sibuk. Si Em Em agi dadi panitia lomba, Si Kipo agi karnaval, Si Cahya wis dadi penghulu, ora prei. Yuh Mas Alam berangkat!!!
Pamit kepada pakdhe, dan tak lupa menyampaikan ucapan selamat atas mantu yang keduanya. Kita (saya dan Alam) pulang ambil helm. Sambil menunggu saya Bersiap-siap, Alam memutar roda korek supaya percikan api mengenai tembakau sembari menyilangkan kakinya. “Ngko set tak ngentekno sak ler (satu batang rokok).” Ucapnya.
“Yuk mas, njenengan nunggu neng perempatan Muktisari ya. Aku tek ngempiri Mas Aan neng kidul RSUD Kebumen (padahal ngidule ana nematus meter kari ngetan).” Tuturku padanya. Sesampainya di rumah Mas Aan, “Adus nganti 40 menit ngapa bae.” Tembaknya kepadaku sambil keluar rumah. “Bar adus lanjut maring ndalem pakdhe.” Jawabku penuh nada memelas-minta maaf.
Saya dan Mas Aan setiap berangkat kerja memang terbiasa saya sing neng ngarep nyupiri motore. Jadi Mas Aan langsung numpak ae nang motor. Saya sing nyetangi motore. Sambil ngalor, arah ke perempatan Muktisari, saya bilang ke Mas Aan,
“Mas… Mas…krungu ora?”
“Ya krungu”
“Aku boncengan karo Mas Alam, njenengan ngarep ben tekan disit.”
“Yaaaa…kie Alfan be wis ngechat bae”
Sampai perempatan Muktisari, langsung aku calling Mas Alam, “Nengendi mas? Yuh…neng kulon lampu abang…Ayam goreng…Jembatan.” kataku. “Neng Nasi Padang, Mas.” Jawabnya dengan lugu. “Mbatinku, emang ana nasi peteng?” Wkwkwk.
Setelah Mas Alam datang, saya langsung pindah motor ke Vario-nya Mas Alam dan meninggalkan Beat-nya Mas Aan. “Njenengan ngarep Mas Aan.” Ucapku kepada Mas Aan yang bertengger di atas Beat-nya dengan gaya pembalap kelas dunia.
Langsung banter, ora keton kie Mas Aan. Tek buru, ora keton-keton. Saya kebut dan sambil debar-debar jantung ini, karena usia tak pernah bohong. Wis ora wani banter nggawa motore. Harusnya saya yang menaiki Vario 125 tekan disit. Malah kalah neng Beat-nya Mas Aan.
***
Mas Alfan datang dengan rombongan saudaranya. Lagak santai beralaskaki sandal saja, bukan sepatu. “Hahahaha ora niat banget kie Mas Alfan” Ketus saya dalam benak.
Dipastikan dari perwakilan keluarga Alfan, bahwa tujuan datang ke Ketanda ini dengan tujuan melamar Mba Nina untuk Mas Alfan. Jawaban dari keluarga Mba Nina, bahwa dia sedang tidak ada ikatan dengan siapapun dan berkenan di lamar oleh Mas Alfan, menandai diterimanya lamaran Mas Alfan oleh Mba Nina, dipasangkannya cincin permata oleh Ibu Mas Alfan kepada Mba Nina dan begitu sebaliknya. Sedang jatanya Mas Aan adalah foto-foto gaya ini-itu kesana kemari supaya menjadi pelengkap momen ikatan bahagia Mas Alfan dan Mba Nina.
***
Selesai acara, jam 4 sore, kita pulang dari Ketanda menuju ke kediaman Mas Alfan di Sumpiuh. Dua rumah sebelum sampai di lokasi, Mas Alam nyeletuk, “Tuku rokok disit, mau ana warung.” Dalam hatiku, “Aku wae sing beberapa kali tekan ngeneh ora ngeh ana warung. Kok Mas Alam langsung hafal teritori di sini”
Langit mulai redup, Mas Alfan nganter rombongan keluarganya dari rumah yang di Sumpiuh menuju rumah orang tuanya di Kec. Ayah dan katanya langsung lanjut nganter adeknya ke tempat KKN di Kec. Kesugihan Cilacap.
Azan Magrib sudah terlewati, Mas Aan di dalam rumah, di ruang tamu yang lengang, belum selesai ngecas tenaga dengan cara semedi merem, tapi pegang HP. Mas Alam di teras dengan kesibukannya nunyuk-nunyuk keyboard laptopnya. Tak terasa ternyata sudah masuk waktu Isya. Saya dengan nada datar kepada Mas Alam “Ngelih urung mas? Nek uwis ayuh tumbas maem” Eh, tetiba ada yang jawab dari ruang tamu, “Haaah? Madang?” Mas Aan sudah sadarkan diri dari pejaman matanya dan langsung menatap HP serta menyambung sikap kagetnya dengan tanya, “Ayam utuh mending jiot dewek apa anter ya?” Tidak direspon oleh kita, dia langsung bersikap sebagaimana Ultraman, “Ngeliwet mas, aku tek lunga sedela.” Tuturnya padaku. Langsung saya bergegas masak air, cuci beras, dan saya pasrahkan kepada Miyako (rice cooker).
***
Datang dua manusia, yang katanya dari Solo. Sahabat karib Mas Alam di Purwokerto. Sedangkan Mas Aan baru kembali dari perjalanannya dengan menenteng bingkisan yang isinya ingkung dikasih tepung krispi “ayam utuh Roket Chicken”
Di sinilah mulai pembagian tugas. Mas Aan memotong ayam menjadi beberapa bagian, Saya ambil nasi ditaruh nampan berbentuk persegi panjang, Mas Alam mendorong temannya supaya tidak malu-malu diajak makan bareng satu nampan. Satu nampan untuk berlima dengan tugasnya masing masing. Dan bagian terakhir adalah dua orang yang baru ketemu ini, yang bertugas membawa masuk nampan dan mencucinya. Terima kasih akhir bulan Safar dengan nampan (semacam wadah untuk menyajikan makanan) yang penuh dengan kerja sama. Terima kasih tuan rumah yang selalu membuka pintu untuk kami mengeluarkan benih sajak dalam kepala.
Anton Sugandi, memaksakan di panggil Mas Andi. Bapak muda dengan keluarga kecilnya. Setiap hari dengan aktifitas sebagai buruh harian lepas, mau disuruh ini-itu. Dan ingin menuangkan bisik kepala lewat huruf yang berjajar. Bisa disapa via Ig @andibrs_24





Tulisan pertama yang di publish buat rekam momen