
Label “malas” yang dilekatkan pada Gen Z sesungguhnya bukan cerminan realitas, melainkan cerminan kekuasaan. Ia bukan fakta, melainkan opini yang terus diulang hingga terdengar seperti kebenaran. Dalam konteks ini, yang sebenarnya “malas” bukan pada generasinya, tetapi cara berpikir kita yang enggan memahami perubahan.
Gen Z lahir dalam dunia digital dan menolak sistem kerja yang memperlakukan manusia sebagai alat produksi. Karl Marx menyebut ini sebagai bentuk alienation—keterasingan manusia dari makna pekerjaannya.
Dan inilah yang mereka lawan. Gen Z tidak malas, mereka sedang membangun makna baru. Mereka memilih kerja lepas, membangun konten, berdagang digital, bukan karena anti kerja keras, tetapi karena mereka sadar bahwa kerja tanpa arah hanyalah bentuk perbudakan yang dimodernkan.
Paradoks Generasi Terdahulu
Generasi sebelumnya memuja etos kerja: bangun pagi, absen pagi, loyal pada institusi. Tapi saat kerja keras tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan, mereka berkata: “Kerja lebih keras lagi.” Gen Z menjawab dengan satu pertanyaan kritis:
“Untuk apa?”
Dalam pandangan mereka, kerja keras yang tidak memanusiakan hanya akan melanggengkan siklus ketidakadilan. Mereka menolak hidup yang hanya mengejar target dan angka. Mereka memilih fleksibilitas, kebebasan, dan kendali atas hidupnya sendiri.
Salah Paham dan Perlawanan Kultural
Namun masyarakat konvensional menyebut mereka “Gen Lay-Z”—plesetan dari “lazy”—karena mereka tidak “terlihat” bekerja seperti generasi sebelumnya. Mereka tidak pakai seragam, tidak duduk di kantor, tidak lembur hingga larut.
Gen Z tidak sedang melawan kerja. Mereka sedang memperjuangkan kerja yang bermakna. Kerja yang tidak hanya menghasilkan uang, tetapi juga kehidupan.
Membongkar Sistem, Membangun Makna
Jadi apakah Gen Z malas? Tidak. Mereka sadar. Mereka tahu bahwa sistem kerja yang lama tidak memerdekakan. Mereka menolak dibentuk oleh sistem yang tidak berhasil membahagiakan generasi sebelumnya.
Dan mungkin, Gen Z benar-benar sedang mengubah dunia dengan diam, dengan tenang, dari kamar kos, lewat Wi-Fi, dan dengan secangkir kopi sambil memegang gadget membaca bilfest.id.
Kang A Hadi. Selain memancing dan melamun, membaca dan menulis adalah caranya mengisi hari setelah lelah bekerja.




