Saya Menyampaikan Rasa Bukan Sekedar Suara

Febrionik Rudyono adalah Voice Over Talent (VOT) dan penyiar di RRI Pro 1 Purwokerto. Dia adalah putra daerah yang suaranya sudah mengisi iklan produk lokal sampai nasional. Mengawali karir sebagai penyiar di radio Paduka FM pada tahun 2012, setelah lulus dari SMK N 2 Purwokerto di tahun 2011, lalu berkarir di RRI Pro 1 sejak Agustus tahun 2022 sampai sekarang.

Menurut Tata Maulizar yang mengutip buku berjudul “The Art of Voice Acting” karya James R. Alburger, voice over (VO) adalah teknik penyampaian pesan menggunakan suara tanpa menampilkan wajah atau tubuh pengisi suara di dalam media visual. Teknik ini banyak digunakan dalam berbagai bidang seperti film, iklan, animasi, dokumenter, serta media digital lainnya. Dalam Bahasa Indonesia voice over adalah latar suara.

Berikut ini adalah perbincangan dengan Febrionik Rudyono, yang akrab dipanggil Onik, seputar voice over dan pengalamannya dalam dunia broadcasting yang dia tekuni sampai hari ini.

Sejak kapan Anda menjadi VOT? Dan pertimbangan apa yang akhirnya Anda menekuni sebagai VOT?
Setelah saya lulus SMK, ada lowongan untuk menjadi penyiar di radio, waktu itu di Paduka FM. Saya daftar lalu diterima. Setelah menjalani sebagai penyiar, akhirnya diberikan tugas lain. Salah satu tugasnya adalah mengisi suara pada produk iklan yang di siarkan di radio. Dari situlah saya mulai belajar mengisi suara iklan. Meskipun rekaman tidak sekali jadi. Bahkan rekaman sampai beberapa kali sampai akhirnya sesuai dengan keinginan klien.

Apakah Anda dahulu kuliah Broadcaster sebagai upaya mewujudkan keinginan Anda sebagai VOT?Setelah selesai SMK, saya tidak langsung kuliah. Kalau tentang broadcasting, ya karena pengalaman kerja saja. Dan belajar secara otodidak karena menyukainya. Dan waktu itu ada program seritifikasi yang diselenggarakan oleh STMM Jogja bekerjasama dengan BNSP untuk standarisasi profesi, akhirnya saya mengambil pertama Produksi Televisi. Terus yang kedua programnya Kominfo –sekarang Komdigi—namanya Digital Talent Scholarship, saya mengambil Desain Komunikasi Visual. Kalau untuk sekarang saya mengambil jurusan komunikasi di UT.

Jenis suara apa yang paling nyaman dan menyenangkan saat Anda mengisinya?
Suara yang nyaman menurut saya adalah suara asli. Meskipun itu jarang sekali digunakan saat menjadi pengisi suara. Namun bagi saya, asalkan mau latihan dan sungguh-sungguh kita bisa belajar jenis suara, dari bass yang rendah yang kayak suaranya bapak-bapak, lalu suara bariton itu sedang atau yang nada tenor, paling tinggi. Biasanya kalau tinggi itu untuk mengisi produk yang nuansanya semangat, senang dan dengan tempo yang cepat.

Kepada siapa atau pendengar macam apa yang Anda bayangkan ketika Anda menjadi VOT?
Kalau untuk hal itu sebenarnya tergantung target pasar produk klien kita siapa. Tapi selain mengisi suara yang memang kerjasama dengan klien, juga produksi sendiri, terutama untuk konten yang saya buat. Kalau konten saya memang sasarannya anak muda. Jadi suara yang saya pakai juga yang sesuai dengan usia mereka. Karena mereka yang sekarang dominan sebagai pengguna media sosial.

Apa yang Anda harapkan jadi seorang VOT selain kekayaan finansial dan keterkenalan?
Tidak hanya produk komersil yang saya jadi latar suaranya, tapi juga iklan layanan masyarakat. Tentu itu menjadi salah satu kontribusi untuk peningkatan literasi masyarakat, sesuai bidang saya. Tentunya iklan layanan masyarakat membawa pesan-pesan dan ajakan kebaikan. Jadi ketika mengisi suara untuk di radiopun, saya tidak hanya memilih yang komersil.

Sekarang ini ada AI yang bisa jadi VO, nah apakah itu jadi ancaman bagi VOT dan bagaimana pendapat Anda?
Karena saya kerjanya di dunia digital, tentu bersandingan dengan teknologi, dalam hal ini AI. Ada memang dibeberapa hal membutuhkan AI kalau saya membuat konten. Ya untuk sekedar mencari informasi dan pendukung saja. Kalau bagi saya, untuk saat ini bukan ancaman ya, tapi tidak tahu untuk kedepannya. Karena menurut saya jadi seorang voice over bukan sekedar mengisi suara, tapi kita menyampaikan rasa. Bagaimana caranya kita membangun imajinasi pendengar bahkan hanya dengan dua atau tiga kata saja. Itu tidak mudah. Kita perlu melakukan riset, memahami keinginan klien dan menguasai sasaran dari produk kilen kita. Seperti pengisi suara yang jadi latar iklan marketplace misalnya, itukan sangat melekat di benak pendengar atau masyarakat.

Selain jadi VOT apa aktivitas Anda?
Selain sebagai penyiar radio, saya menjadi mentor di “Kelas Terserah Academy”. Di kelas itu kita belajar apapun dan dimana pun. Karena saya menerapkan fun learning. Sehingga konsep kelasnya juga kita buat menyenangkan, tapi ada up grade skill bagi pesertanya. Kita belajar public speaking, broadcasting dan skill digital yang lain, karena sekarang adalah eranya digital. Untuk jumlah pesertanya kita batasi, karena kalau terlalu banyak nanti kekurangan waktu untuk praktek. Karena di kelas ini, lebih banyak prakteknya. Baik itu yang masih awam, kepo-kepo atau yang memang sedang meningkatkan kemampuannya. Tapi kita kemas sambil healing. Dan sekarang kelasnya sudah masuk season 4. Jika ada yang penasaran, bisa langsung kepoin di Instagramya @kelasterserah. Mau ikut kelasnya atau cuma kepo, ya terserah. Terima kasih.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top