Minggu Merah Jambu di Stasiun Tugu

Kepada

setelah kutemukan kesejatian
kau tersesat di belantara yang belum kuberi nama
dan orang-orang menyebutnya, kekejaman

Kaliurang, 2025

Di Kafe Basabasi Sorowajan

perpisahan telah menjawab segalanya.
pada kursi paling belakang kafe ini
seperti ada yang perlu ditertawakan
barangkali juga dikenang, secukupnya

aku menatap matamu
layaknya memandang tumpukan mawar
dengan gamang kupegang tanganmu
penuh kehati-hatian
seperti memegang putik-putik melati

kita akan tua dan perlahan cinta berubah, katamu
kupasang selingkar cincin tanpa batu bulan di jarimu
:ini membikin cinta kita untuh selamanya. kau tersenyum
kemudian kucium tanganmu. kau mencium tanganku.

di kafe ini malam tak hanya enam jam
kita merasa kebahagiaan tak punya batasan
mencatat rencana-rencana kesetian
pada halaman kosong buku puisi
bersepakat menamai najla atau syahdan
untuk anak kita nanti

sebenarnya aku sudah menduga
jauh sebelum kau menerapkan teori paling kejam
dalam hal meninggalkan seseorang
tapi kepalaku lebih dulu dipenuhi bayang-bayang
bagaimana kau kudengar
mengucapkan selamat pagi berkali-kali
setelah itu membuatkanku kopi
beserta koran yang baru saja kau beli

dengan sisa kegilaan yang masih ada
dengan robusta yang nyaris habis
di kursi kafe paling belakang ini
aku lupa bagaimana mengenangmu dengan cara yang manis
ini upaya terakhir setelah kebencian mengepungku
sebelum aku berpindah ke halaman depan
karna lampu pada tempat kita diikat akan dimatikan
dan bermacam rencana pertemuan
juga benar-benar dibatalkan

perpisahan telah mengatakan segalanya.

Yogyakarta, 2025

Setelah Mendengarkan Lewis Capaldi

/someone you loved

malam tampak murung di hadapanku
kejahatan-kejahatan kecil disembunyikannya selalu
aku tak hendak mengatakan tuhan sedang mengasah pisau
untuk setiap hambanya

menjelang matahari tertanam gelap di pekarangan
kedatanganmu adalah identitas kesunyian
yang tak pernah kuharapkan.
perasaan ini kerap menyusun sendiri kesedihannya

mungkin memang begitu,
obat yang menyembuhkan rasa kehilangan
akan menciptakan kehilangan yang baru

/before you go

peperangan kali ini tak dapat kumenangkan
waktu hanya meniupkan rasa sakit
pintu dan jendela kubiarkan menganga
barangkali angin dapat membawa pergi air matamu

katakan, bagaimana cara menghadapi kematian
berupa kehilangan?

/wish you the best

gerimis hanya mempercantik malam dan lampion
selebihnya, pergi bukan jalan terbaik

kesedihan baru saja dimulai, katamu
tapi ledakan-ledakan dan lubang peluru
sudah lebih dulu memenuhi tubuhku

doa-doa sederhana selalu kubiarkan
mencari jalannya sendiri
mungkin di setiap ujungnya adalah rumahmu

Kutub/Yogyakarta, 2025

Minggu Merah Jambu di Stasiun Tugu

memasuki gerbang stasiun,
ada yang perlahan mengelupas
mungkin semacam warna marun kesedihan
detak jam dan detak jantung sama tergesanya

bagaimana cara menyeka hujan dengan baik
setelah bunyi terompet
setelah getaran mungil pada atap peron

pada kursi tunggu yang setengah gigil ini
kita mesti saling merelakan, barangkali,
bahwa perpisahan merupakan komposisi terbaik
bagi lagu kerinduan yang menggema
sepanjang kesepian

kereta akan segera berangkat
kuwariskan semacam puisi berkarat
juga samsu yang memucat

esok hari, setelah di kota ini
bunyi gemelan raib
cinta menjadi aib
aku akan datang kembali
dengan kereta yang sama
juga kecupan yang sama

Kutub/Yogyakarta, 2025

1 komentar untuk “Minggu Merah Jambu di Stasiun Tugu”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top