Belajar dari Toples Plastik Ungu

Suatu siang, sembari memasak saya menggendong anak baduta –usia bawah dua tahun—yang masih berusia 9 bulan. Tubuhnya yang mungil seraya dibelokkan ke samping, mengarah ke sebuah toples di atas meja. Toples plastik berwarna ungu lengkap beserta tutupnya.

 “Kayla mau main toples?” ucap saya.

Saya lalu mengambil toples tersebut, kemudian anak saya duduk di atas karpet. Saya ajak dia untuk bermain toples. Awalnya saya membuka lalu menutup lagi toples itu. Kemudian anak saya merebut dan memperagakan buka tutup toples. Dia tersenyum saat bisa menutup toples, namun dia menangis saat tidak bisa menutup toples sesuai keinginannya.

Dari pengalaman ini, saya menyimpulkan bahwa benda sederhana seperti toples dapat dijadikan media untuk belajar anak usia dini. Kegiatan sederhana ini ternyata memliki beberapa manfaat antara lain:

Melatih fokus anak.

Tidak semua anak terlahir dengan memiliki kemampuan fokus yang kuat. Namun bukan berarti juga bahwa gangguan fokus pada anak tidak dapat dicegah. Salah satu upaya yang dapat orang tua lakukan tentu dengan melatih kemampuan fokus pada anak. Kita dapat melatih kemampuan fokus anak sejak respon penglihatan anak sudah berkembang. Kemudian bertahap sampai dengan anak sudah mampu merespon secara motoriknya.

Melatih motorik halus.

Siapa sangka melakukan aktifitas sesederhana bermain tutup dan toples mampu melatih motorik halus si kecil. Kemampuan anak memegang, menggenggam, mengambil benda serta mengambil menggunakan dua jari dapat terlatih dari kegiatan ini. Saya biarkan tutup toples tergeletak, lalu anak saya mencoba mengambil dengan menggunakan dua jari tangan kanannya. Saat tutup tersebut hampir meleset dari tangan kanannya, tangan kirinya mencoba menghadang agar tidak terjatuh. Semakin sering bermain seperti ini, semakin membantu anak untuk bisa mengkoordinasikan kedua tangannya.

Melatih koordinasi mata dan tangan.

Koordinasi antara mata dan tangan merupakan salah satu kemampuan kognitif anak yang melibatkan aktivitas tangan dan mata secara bersamaan. Melalui indera penglihatan (mata) anak memperhatikan gerakan yang dilakukan orang tua, kemudian merekamnya dalam otak. Ibarat kata, mata sebagai panduan bagi tangannya untuk melakukan suatu gerakan yang sama dengan contoh dari sekelilingnya. Kemampuan koordinasi antara mata dan tangan menjadi faktor penting dalam perkembangan motorik halus dan motorik kasar anak dalam masa perkembangannya kelak.

Melatih konsentrasi

Meskipun sederhana, menutup sebuah toples dengan benar dan pas tentu tidak mudah bagi balita saya. Terlebih jika bentuknya persegi panjang, ada dua sisi yang berbeda. Ketika bayi saya menutup toples dengan posisi yang salah, dia akan mengulang atau memutar tutup toples itu. Selama proses mencari posisi yang pas, si bayi akan terlatih daya konsentrasi dan daya ingatnya. Sehingga ketajaman ingatan si kecil semakin terasah.

Wah, ternyata aktivitas sederhana menggunakan benda – benda di sekitar kita memiliki manfaat yang cukup besar bagi perkembangan anak balita. Sebagai orang tua kita hanya perlu mengembangkan ide – ide sederhana untuk bermain dengan si kecil, sehingga si kecil tidak jenuh.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top