Mengenal Edi Romadhon, Budayawan Palugada dari Banyumas

Sebagai bentuk apresiasi kami terhadap para seniman, budayawan, penulis dan tokoh yang berkontribusi untuk masyarakat Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, Kebumen dan sekitarnya, kami menyiapkan ruang “Sosok” dalam rubrik media ini. Semoga dari sosok yang kami apresiasi, akan terjaga semangat keilmuannya dan berlipat ganda kemanfaatanya.

Mengenal Pak Edi Romadhon

Akhir bulan Juni 2025, tim redaksi bertemu dengan seorang budayawan senior dari Banyumas. Kami bertemu di rumahnya, yang terletak di tengah kota kecil bagian barat Kabupaten Banyumas, Ajibarang, Di usianya yang sudah 66 tahun, sosoknya masih gagah. Ia adalah Edi Romadhon. Orang-orang menyapanya dengan nama Pak Edon. Rambut panjangnya sudah beruban namun rapi diikat ke belakang. Uban dirambutnya tidak sekedar warna putih, melainkan menyimpan sejarah perjalanan hidup yang panjang dan penuh makna.

Obrolan kami mulai dengan sederhana: menyalakan rokok masing-masing, saling bertanya kabar, kesibukan, hingga kami menyampaikan maksud kedatangan ke rumah beliau. Tak mungkin kami datang tanpa alasan. Ia menyambut tujuan kami dengan ramah. Kami ingin mendengar langsung cerita seorang pelaku budaya lintas zaman, yang konsisten menjaga nyala seni tradisi lokal di tengah kemajuan zaman.

Pak Edon mulai terjun ke dunia kebudayaan sejak 1983, setelah kembali dari Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi di IKIP Yogyakarta –sekarang Universitas Negeri Yogyakarta. Pada tahun-tahun itu meski sempat bolak-balik Yogya–Banyumas, kecintaannya pada tanah kelahiran tak pernah pudar. Ia memulai dari puisi, lalu menyentuh teater, pertunjukan, hingga pelestarian cerita rakyat.

Sebutan Budayawan Palugada

Sebutan Budayawan Palugada, bukan dari kami sendiri, melainkan hasil dari obrolan kami di siang itu. “Kamu mau tanya apa ke saya, soalnya saya ini bisa dibilang Palugada. Kamu mau apa, saya ada” sembari tertawa. Julukan budayawan palugada tak datang tanpa alasan—ia bisa menulis naskah, menyutradarai, jadi aktor, bikin pameran, bahkan mengurus logistik pertunjukan.

Pak Edon adalah budayawan senior yang terbuka dengan kemajuan zaman. Namun keterbukaan beliau dengan tetap membawa tradisi “ngapak” dalam karyanya. Beliau tidak anti terhadap media sosial, yang kini telah menjelma menjadi sebuah dunia tersendiri. Terbuka juga terhadap isu-isu politik lokal dan nasional. Hal itulah yang menjadi salah satu refrensinya dalam berkarya.

Selain pentas teater, Ia aktif di kegiatan sosial-kemasyarakatan,  Ia juga menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Selain itu menjadi pelatih sekaligus pembina Teater Perisai di kampus tersebut.

Teater Gethek dan Tempat Tumbuh

Kami sempat bertanya, kenapa memilih “Gethek” sebagai nama kelompok teater. Ia bercerita waktu dulu berdiskusi dengan teman-temannya, sebenarnya banyak usulan-usulan nama untuk kelompok teaternya. Usulan tidak sekedar nama, namun ada makna dari nama yang diusulkan. “Dulu ada yang usul namanya “Teater Linggis”, lho kenapa linggis?. Linggis itukan lurus, kita sebagai seniman harus lurus, dan linggis itukan tajam kedepan, nah kita harus tajam dalam menyampaikan pikiran kita kedepan”, Pak Edon menceritakan kisahnya dengan gaya tetatrikal di hadapan kami.

Akhirnya terpilihlah nama “Gethek”. Sebuah alat transportasi sederhana dari bambu yang diikat menyerupai perahu, namun bisa menyeberangkan. “Gethek itu rakitlah kira-kira, meskipun sederhana tapi bisa menyeberangkan orang. Jadi anak-anak yang di Teater Gethek, jangan lama-lama. Setelah dirasa mampu dan memiliki ilmu silakan mengembangkan diri di tempat lain.” Begitulah semangat Pak Edon yang diajarakan untuk anak-anak di Teater Gethek, komunitas binaannya. Jadi kalau ada anak Teater Gethek bisa sukses, Pak Edon bangga, dan tidak akan iri. “Teater Gethek regenerasinya cepat. Tidak boleh lama-lama di Tetaer Gethek. Biar saya saja yang di sini, menyiapkan generasi selanjutnya”, ucap Pak Edon.

Teater Gethek membawa budaya “ngapak”. Tidak hanya di pentas lokal maupun nasioanal. “Ngapak” Ia bawa sampai ke pementasan Internasional. “Iya, waktu itu kita pentas teataer di Belanda dan juga di Ceko”, saat kami konfirmasi tentang pementasan teaternya di luar negeri tahun 2009.

Menjaga Warisan Budaya Membangun Masyarakat

Membangun ekosistem seni budaya di Banyumas tidak mudah. Keterbatasan fasilitas dan minimnya dukungan membuat banyak orang menyerah di tengah jalan. Tapi tidak bagi Pak Edon. Ia justru menjadikan semua tantangan itu sebagai bahan bakar untuk bergerak.

“Dulu latihan teater cuma pakai lampu rumah. Tikar jadi panggung. Tapi semangat anak-anak itu yang bikin saya terus jalan,” kenangnya. Dari situ, ia membangun komunitas. Ada kelompok teater, kelas puisi, bahkan pementasan keliling desa. Ia percaya, seni bukan hanya untuk tampil, tapi untuk membangun manusia—menumbuhkan kepercayaan diri, daya pikir kritis, dan rasa memiliki terhadap budaya sendiri.

Kini, generasi baru mulai muncul. Beberapa mantan muridnya sudah jadi seniman, pejabat, dosen, guru, atau pegiat komunitas. Ia tidak mengklaim keberhasilan mereka, tapi jelas kehadirannya menjadi bagian dari proses panjang itu.

Semangat Pak Edon dalam membangun masyarakat –tidak hanya anak didiknya secara langsung saja, namun lebih luas. Ia ingin mengusulkan salah satu syarat menjadi pejabat publik harus melek sastra dan literasi. Misalnya syarat jadi calon kepala desa harus sudah membaca 3 novel, anggota dewan 5 novel, bupati dan gubernur tentu lebih banyak. Nanti para budayawan dan masyarakat yang akan mengujinya. Karena memimpin adalah seni. Dan pemimpin harus belajar sastra karena akan berbicara di depan masyarakat. Harus pandai melihat keadaan sosial masyarakatnya, sehingga kalau bicara bisa tepat pilihan katanya. Jadi memimpin tidak asal membangun, tapi tahu maknanya.

Harapan Kedepan untuk Kebudayaan Banyumas

Sebagai budayawan yang tumbuh dari tanah “ngapak” dan mencintai warisan budaya lokal, Ia menyimpan harapan besar kepada generasi muda hari ini. Termasuk terus mendidik generasi muda untuk melestarikan kebudayaan lokal dengan jalannya, pementasan puisi dan teater.  Saat derasnya arus media sosial sekarang ini, saya berharap anak-anak muda tidak kehilangan jati diri. Justru, mereka harus menjadi penjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur.

Menurut Pak Edon, sekarang ini untuk menjadi terkenal, tidak seperti zaman saya muda dulu. Harus menulis lalu dicetak dan disebarkan. Sekarang lebih mudah karena ada media sosial. Bahkan sekarang setiap orang bisa menjadi penulis, redaktur dan sutradara sendiri di akun media sosial mereka. Namun perbedaanya adalah kalau zaman dahulu, publik mengenal dan mengkui mereka karena karyanya, baru orangnya. Kalau sekarang, kita sendiri bisa mendaku sebagai seorang pencipta karya.

Bentuk kepuasan juga berbeda menurutnya, kalau zaman dahulu kepuasan karena bisa berkarya dan menyampaikan gagasan. Kalau sekarang kepuasan dan bentuk juamlah follower dan juga seberapa uang yang bisa dihasilkan. Tapi itu tidak masalah. Selama nilai-nilai kebudayaan tetap terjaga dan tersampaikan, budayawan terutama yang muda harus adaptif terhadap kemajuan zaman. Karena teknologi dan kemajuan zaman, adalah hasil dari kebudayaan itu sendiri.

2 komentar untuk “Mengenal Edi Romadhon, Budayawan Palugada dari Banyumas”

  1. Pingback: Menulis Ulang Takdir: Budayawan Banyumas Edhon dan Palupi, Sebuah Simfoni Bahagia di Usia Matang - Temenan BIL Fest

  2. Pingback: Ketika Puisi dan Doa Bersua, Tadarus Sastra 2026 Mendekatkan Sastra ke Desa - Temenan BIL Fest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top