Hujan Bulan Juni dan Sebatang Kretek dari Panji

Sekurang-kurangnya dua hari penyelenggaraan BIL Fest mulai dari 12 Juni 2025, saya mendapatkan kabar untuk mengambil jodesk menjadi Liaison Officer (LO) pada 15 Juni 2025, dengan berkesempatan menjadi alternatif akomodasi dan komunikasi Mas Panji Sakti—saya memanggil Mas sekalipun beliau jauh lebih berumur dibanding saya—di salah satu rangkaian pada tanggal tersebut. Pening kepala mendengar kabar untuk mengemban tanggung jawab di sana-sini. Apalagi mengakomodasi artis besar nasional yang nama dan karyanya sedang naik daun.

Sebelum hari itu tiba, pikiran saya sedang bergejolak, meliak-liuk, buntu, karena disebabkan oleh kekecewaan saya terhadap salah satu program kampus saya super aneh dan tidak mantap. Sebut saja kampus Jepang. Kekecewaan saya terjadi karena salah satu programnya tidak sesuai dengan standar yang seharusnya ditetapkan dengan indikator meritokrasi, demokrasi, dan kompetensi. Bukan hanya sebatas program formalisasi. Bentuk kekecewaan ini, memengaruhi suasana emosional begitu mendidih. Akibatnya, pikiran kacau dan ambiradul—mana lagi sistem kampus sering error.

Satu hari setelahnya, setelah siuman dengan kondisi emosional yang tidak stabil, mencoba sustain dengan tetap amanah pada tanggung jawab besar adalah tugas seorang pria. Pada kondisi itu, tetiba teringat dengan salah satu kutipan Pak Ecep—Pimpinan Redaksi TVOne yang merupakan alumni dari salah satu kampus di Purwokerto—dalam salah satu Bab dari bukunya yang berjudul “Membayangkan Republik”, yang dulu beliau berikan kepada saya secara cuma-cuma. Beliau menuliskan satu pernyataan yang meaningfull, dengan narasi “enjoy the pressure”. Baginya, tekanan adalah sebuah keadaan yang pasti ada, dan sebagai manusia, perlulah untuk selalu menikmati tekanan itu. Tidak ada lampu yang menyala tanpa ditekan saklarnya. Begitu pula manusia. Manusia akan selalu menyala dengan tekanan yang mendorongnya. Baik itu tekanan lapar untuk mencari makan sebagai fundamental fisiologis, tekanan sosial untuk mengaktualisasi diri. Begitulah tekanan, seperti piramida kebutuhan pada teori Maslow.

Tidak ada lampu yang menyala tanpa ditekan saklarnya. Begitu pula manusia. Manusia akan selalu menyala dengan tekanan yang mendorongnya.

Kutipan Pak Ecep selalu hadir dalam tafsir pikiran saya untuk mengamati realitas sosial manusia. Sehingga pada saat bersamaan, ketika saya mendapat suatu rasa tertekan untuk tetap bertahan dengan tanggung jawab, maka, saya harus tetap enjoyable menikmati riuh redam kondisi emosional yang semulanya tidak stabil.

Singkat cerita, waktu itu tiba, mengambil tanggung jawab sebagai akomodator musisi ternama di rangkaian BIL Fest pada 15 Juni 2025—tanggal di mana sebelum hari H ulang tahun saya, 18 Juni. Waktu mulai berjalan, hari terasa cepat, tak terasa jam menunjukan pukul 17.55 menjelang malam. Langit masih begitu cerah, tanpa indikasi hujan, berdasarkan cuaca yang saya prediksi melalui intuisi. Saya dengan sigap bertugas untuk menjembatani komunikasi dengan Mas Fadli selaku Manager Panji Sakti. Sedari sore hari menuju malam,  suasana pikiran dan hati menggelegak seperti air mendidih menunggu kedatangan Tim Panji Sakti di depan pintu gerbang vanue acara. Dibantu satu rekan tim dokumentasi, ia saya arahkan untuk menunggu di salah satu titik sebelum mobil Tim Panji melaju masuk. Di situ, saya sendirian berteman dengan HT (Handy Talkie) dan handphone dengan baterai yang tersisa 2%.

Langit mulai gelap, malam akan segera tiba. Waktu menunjukan pukul 18.45, dan benar saja, mobil hitam yang begitu terlihat gagah datang menghampiri gerbang pintu masuk vanue event. Saya bergegas menjemput kedatangannya. Dalam hati saya bertanya, “Inikah yang akan ditunggu orang-orang, dan saya yang sekarang adalah orang pertama yang menunggu dan menjemputnya paling awal?”.

Singkatnya, saya dan Tim Panji Sakti sudah sampai di transit tamu, dan sudah dihidangkan jamuan untuk beristirahat sebelum Mas Panji Sakti akan perform untuk membahas karya buku puisinya. Selang beberapa waktu, saya mulai kenal dengan timnya, yakni Mas Alam dan Mas Aldi. Tapi, di sini, kelihatannya saya lebih dekat dengan Mas Alam, yang ternyata mempunyai banyak kenalan seniman di sekitaran lereng gunung Slamet. Sehingga, secara tidak langsung, obrolan kami mulai mengalir. Selayaknya makhluk sosial, di transit obrolan mulai masuk ke sana-kemari, pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan, garis interaksi mulai terbangun satu sama lain. Pada saat yang sama, musisi lokal dari Banjarnegara, Pak Sendy Noviko, vokalis grup band Ujung Kuku, ikut serta hadir bersama keluarganya dan menyambut hangatnya kedatangan Tim Panji Sakti.

Selang beberapa waktu, performance Panji Sakti akan segera dimulai. Saya mempersiapkan vanue untuk tetap clear dan kondusif. Dibarengi dengan alunan musik akustik, suasana malam dengan rindang pohon dan lampu kuning temaram di area vanue begitu romantis. Audience dan Tim mendatangi vanue, sembari saya dan tim BIL Fest mempersiapkan performance Mas Panji. Alunan akustik syahdu pun berhenti dan acara talkshow bedah buku puisi Panji Sakti pun dimulai, dibersamai oleh Bu Rahmi sebagai moderator yang juga merupakan Project Director BIL Fest.

Waktu demi waktu berjalan, langit terasa lebih gelap, bintang-bintang mulai tertutup awan, seperti bukan bulan Juni biasanya yang terasa cerah. Dan, ya, benar saja. Prediksi saya sewaktu awal menduga langit terlihat cerah pada sore hari, ternyata meleset. Tetiba rintik-rintik air jatuh begitu cepat, membasahi audience dan vanue, sekaligus Mas Panji. Bu Rahmi bergegas mengarahkan Mas Panji dan seluruh audience untuk berpindah tempat, karena dalam waktu yang begitu cepat, hujan akan turun deras. “Teman-teman semuanya, Mas Panji, rintik-rintik hujan mulai cepat, sepertinya, kita harus berpindah tempat di area bazar buku untuk melanjutkan talkshow”, tegas Bu Rahmi untuk memindahkan seluruh audience.

Mendengar itu, saya secepat mungkin memindahkan alat elektronik yang harus diletakan dalam ruangan kembali, karena dikhawatirkan basah terkena hujan. Pada saat yang sama, saya bingung, hujan cukup deras, seluruh vanue dan area acara BIL Fest basah kuyup. Tanpa sepengetahuan saya, vanue Panji Sakti sudah dipindah di area bazar buku dengan audience yang bertumpuk—ada yang seperti sedang mengantre, dan sebagian besar diduk bersila di karpet merah seperti sedang mendengarkan ceramah pengajian. Saya sendiri tidak tahu-menahu plan apa yang sudah direncanakan oleh panitia lain. Forum talkshow pun tetap berlanjut, dan saya tetap harus tenang dalam segala kondisi untuk tetap profesional.

Di tengah keramaian, talkshow berakhir, dibarengi suasana riuh tepuk tangan audience dan panitia. Dengan tergesa-gesa, saya bolak-balik dari transit ke vanue untuk menjalankan koordinasi dengan setiap panitia agar tetap kondusif dan memenuhi kebutuhan event Panji Sakti. Pada waktu yang sama, saya berpapasan dengan Pak Ilham Rabbani, sastrawan dan penulis buku yang merupakan tenaga pengajar di salah satu kampus Purwokerto. Saya sambil berkelakar mengatakan pada beliau, “Emang bener, Pak, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni, hahaha.” Ucap saya dengan nada bercanda sambil tergesa-gesa.

Melihat dari belakang vanue, saya merasa peka terhadap audience yang sepertinya merasa belum puas dengan format acara tersebut. Sontak saya berkoordinasi dengan panitia untuk mempersiapkan gitar, barangkali Mas Panji mau menghibur sedikit kekecewaan audience yang diterpa hujan. Tiba-tiba, Mas Alam dari Tim Panji Sakti, ternyata sudah mempersiapkan gitar klasik Panji yang sepertinya dibawa perform ke mana-mana. Dengan lega hati, harapan saya kepada Mas Panji untuk menghibur audience sepertinya akan dikabulkan. Benar saja, talkshow sudah selesai dan Mas Panji mulai meminta gitar—di saat yang sama beliau ingin merokok, dengan mencoba mengambil satu batang rokok kretek di sakunya, tapi, karena harus memuaskan audience, rokoknya kembali disaku. Suara merdu dan lirik puitisnnya, serta artikulasi jemari panji memetik senar gitar mulai mengiringi rintik hujan yang turun perlahan.

Di sini Mas Panji tidak meminta microphone, tetapi langsung menyanyikan lagu-lagunya di harapan mata para audience yang memuatari alunan musik yang dinyanyikannya. Seperti sebuah pusat tata surya yang dikelelingi planet dan bintang-bintang kecil di sekelilingnya.

Tiga lagu dinyanyikan, salah satunya lagunya yang berjudul “Kepada Noor”, dengan suara autentiknya, Mas Panji benar-benar meluluhkan hati pemirsa dan semua orang yang berada di lokasi vanue. Suaranya menghantarkan hangat dan syahdu setelah berjam-jam diterpa hujan pada malam itu. Sembari menikmati performance Mas Panji, saya berusaha berinteraksi dengan Mas Alam, bercengkrama dan saling mengenal, hingga bertukar user Instagram. Tak disangka, ternyata Mas Alam juga seorang seniman, dan banyak orang mengenalnya. Saya pun merasa sedikit kaget dan heran, ternyata ada seorang seniman seperti Mas Alam yang sudah melanglang buana bersama artis-artis besar, punya kerendahan hati yang begitu menenangkan. Mas Alam ternyata orang baik, dan saya mengakui itu.

Di tengah malam yang mulai sunyi dan hujan tak lagi berbunyi, acara selesai, pengunjung bersurai dan bergerak pulang satu persatu. Saya mengantarkan Mas Panji dan tim langsung masuk ke mobilnya untuk bergegas pulang. Pada saat yang sama, saya baru menyadari, ternyata Mas Panji belum sempat makan makanan berat yang sudah kami sediakan di transit tamu. Beliau menghiraukan dan tetap melanjutkan langkah untuk pulang beristirahat di hotel sebelum esok hari akan pulang ke Bandung. Di depan mobil, Mas Panji masih sempat bercengkrama dengan beberapa kawan-kawan penggiat literasi, seniman, dan tenaga pengajar dari Purwokerto. Mereka berfoto bersama dengan raut wajah yang terkesan bungah melihat performance Panji Sakti. Karena yang mereka petik bukanlah euforia, tapi interaksi dan intimacy.

Salah satu dari mereka ada yang saya kenal, saya mengenalnya di salah satu event Maiyah yang kami prakarsai tahun lalu, yakni Mas Bangkit, yang sekarang juga sedang bertugas di kampus saya. Selagi berinteraksi antara Mas Panji dan Mas Bangkit, tetiba Mas Bangkit diberi satu bungkus rokok kretek yang beliau akan nyalakan sewaktu selesai talkshow, tapi tidak jadi. Akhirnya, mau tidak mau, Mas Bangkit mengambil rokok pemberian Mas Panji dengan ramah hati. Setelah itu, selesai pembicaraan, Mas Panji dan Tim pun bergegas pulang dan melaju dengan mobil hitamnya. Itu membuat saya lega karena tugas hari ini sudah selesai, meskipun tidak telalu maksimal.

Sambil melihat mobil Mas Panji melaju, saya membangun komunikasi dengan Mas Bangkit dengan mengatakan bahwa kami pernah satu kegiatan di forum “Sinau Bareng Mas Sabrang“, Maiyah tahun lalu. Tidak ada angin tidak ada hujan, Mas Bangkit tiba-tiba memberikan saya rokok pemberian Panji, karena ternyata Mas Bangkit bukan seorang perokok. Dan, saya menerimanya dengan senang dan bangga, saya anggap ini satu kenangan dari seorang seniman besar yang belum pernah saya temui sebelumnya. Semua acara malam itu sudah selesai, dan saya tetap merasakan makna dari atmosphere event pada malam itu. Rokok dari Panji adalah obat dari kekecewaan saya di bulan Juni dengan hujan segala riuhnya. Itu kenapa, saya selalu mengutip puisi Sapardi ketika bulan ini tiba, bahwa, “Tak Ada yang Lebih Tabah, Arif, dan Bijaksana dari Hujan Bulan Juni.”

Sepotong bait puisi untuk menutup cerita Juni tahun ini:

Tak ada yang lebih bernilai
Dari sebatang rokok yang datang di kala gulai
Diselipkan Panji saat sunyi mulai usai
Di sela jemari yang nyaris usang dan lalai
Gemetar badanku saat puisi dilantun lirih
Dengan terpa hujan menggema bersih
Seperti yang Sapardi tulis dalam satu bait puisi
“Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni”
—Tan Malika

Purwokerto, 16 Juni 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top