
Dewasa ini, masyarakat banyak dihadapkan dengan kehidupan yang serba cepat, instan, dan memanjakan. Hal ini ditandai dengan aksesibilitas informasi yang kerap kali cepat untuk didapatkan. Akibatnya, lupa terhadap serangkaian proses dalam memverifikasi dan mengolah informasi yang seharusnya jadi sebuah pemahaman yang utuh. Dalam hal ini, proses yang cepat tidak menjamin hasil yang tepat.
Hal demikian bisa disebut sebagai “cognitive debt” yang mengambil kesimpulan dari pengetahuan yang tidak utuh—hanya sebatas permukaan—dan melewatkan proses berpikir. Hal ini pada akhirnya berakibat pada penurunan kemampuan kognitif untuk mengambil keputusan dengan basis pengetahuan yang jelas. Konteks tersebut diambil dari riset terbaru dari MIT tentang Artificial Intelegent yang dapat menurunkan kemampuan kognitif individu karena hasil informasi yang instan.
Dengan demikian, maka, sebetulnya memang proses cepat tidak menjamin hasil yang tepat. Dalam konteks ini, peran buku akan menjadi penting untuk menjadi resources utama dalam menggali pengetahuan yang lebih spesifik. Selain proses yang panjang, buku akan memberikan informasi yang lebih kredibel dan bermuara pada interpretasi pembaca melalui rangkaian proses membacanya. Hal ini memungkinkan pembaca terlibat dalam alur berpikir tanpa menafikan sebuah proses asimilasi informasi.
Dalam proses berpikir, tulisan melalui buku adalah manifestasi dari memformulasikan framework berpikir dalam bentuk tulisan. Tulisan dalam buku adalah representasi dari pikiran. Dan, buku adalah sebuah proses berpikir yang panjang. Sama seperti penyelenggaraan BIL Fest. Secara pelaksanaan menghadirkan event bertajuk literasi dengan proses yang panjang.
BIL Fest (Banyumas International Literacy Festival) adalah ide yang direpresentasikan dalam bentuk tindakan. Hal ini meliputi proses berpikir dan tindakan yang tidak instan. Di BIL Fest semuanya terlibat dalam merangkai semangat dan harapan.
Terkadang, BIL Fest menjadi perbandingan dengan kebanyakan kota lain yang terkesan lebih kolosal dalam penyelenggaran festival bertajuk literasi—misalnya, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Tapi tidak menutup kemungkinan, bahwa Banyumas juga berperan dalam literacy campaign untuk membangun budaya literatif dan kreatif. Hal ini memungkinkan kemajuan terhadap indeks literasi yang kian massif di Banyumas. BIL Fest menjadi sebuah upaya pendekatan inklusif dalam memantik budaya literasi. Budaya agar saling merasa “bodoh” supaya terus belajar, budaya menghargai preferensi orang lain, budaya menghilangkan jarak sosial, budaya untuk legowo –menerima– dan budaya untuk belajar sampai mati.
Di sinilah BIL Fest berperan dengan pendekatan sosial engineering-nya untuk memantapkan tujuan besar itu. Merangkul berbagai elemen; penulis, seniman, penyair, siswa, anak-anak, pemerintah, dsb. Untuk berkolaborasi kemudian berekspresi sesuai dengan wajah-wajahnya masing-masing. Sebab, literasi akan selalu berperan penting dalam setiap dimensi moral, intelektual, emosional, spiritual, dan lainnya. Dan, inilah yang akan menjawab tantangan moral-intelektual di masyarakat pada era ini.

Muhammad Umar Ibnu Malik, mahasiswa PAI, UIN SAIZU Purwokerto. Aktif di kampus sebagai DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) Universitas serta menjadi mahasiswa berprestasi di kampus. Aktif menulis di susukan-banjarnegara.desa.id, kompasiana.com , academia.edu. Bisa disapa lewat IG: @tanmalikaaa.




