
Pukul sepuluh pagi itu, langit Purwokerto begitu jernih. Hetero Space, yang biasanya dipenuhi seminar, kelas-kelas kreatif, pagi itu berubah menjadi ruang akustik terbuka. Tanpa panggung tinggi. Tanpa pengeras suara megah. Tapi justru dari kesederhanaan itulah muncul sesuatu yang mendalam: gitar-gitar yang dipetik bersama, oleh puluhan tangan yang tak semuanya profesional, tapi seluruhnya otentik.
Di hari Kamis, 12 Juni 2025, di tengah gelaran Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest), Dannar selaku bintang tamu tak banyak berbicara. Ia hanya menyandang gitar, lalu mulai memainkan satu nada dasar. Yang lain menyusul. Dan tiba-tiba, dalam waktu yang tak bisa diatur protokol, suasana berubah. Kita tidak sedang menyaksikan pertunjukan. Kita sedang ikut dalam pembebasan kolektif.
Bunyi gitar yang muncul dari berbagai arah itu bukan hanya harmoni. Ia adalah tanda bahwa literasi tak harus berupa lembar teks panjang, seminar akademik, atau pidato seremonial. Literasi bisa muncul dalam denting gitar. Dalam keberanian seseorang mengambil suara, meskipun tak semua nada tepat. Sebab yang penting bukan kesempurnaan, melainkan keberanian untuk muncul.
Dalam tradisi filsafat, kita mengenal bahwa manusia bukan hanya homo sapiens (makhluk berpikir) tetapi juga homo poeticus (makhluk pencipta makna). Pagi itu, Dannar dan para peserta BIL Fest sedang menjadi homo poeticus yang aktif. Mereka mencipta bukan untuk dipuji, tetapi untuk menghidupkan.
Dan inilah literasi yang sejati: bukan sekadar membaca huruf, tetapi membaca waktu, membaca ruang, dan membaca diri. Ketika semua orang memetik gitar bersama, batas antara pemain dan penonton menghilang. Semua menjadi bagian dari cerita. Semua menjadi bagian dari teks yang hidup.
BIL Fest tidak sedang menjadi panggung intelektual yang kaku. Ia menjadi halaman sosial tempat tubuh dan bunyi berpadu. Dan mungkin, tanpa kita sadari, pada pukul 10 pagi itu, di Kamis cerah di Purwokerto, kita sedang mengalami apa yang Paulo Freire maksudkan sebagai conscientização (kesadaran kritis melalui pengalaman bersama).
Penulis dan penggerak literasi dari Banyumas. Ia aktif menginisiasi forum baca dan diskusi sastra. Karya-karyanya mencerminkan kepedulian sosial dan lingkungan. Melalui puisi dan esai, ia menjadikan literasi sebagai ruang perjumpaan, pembebasan, dan pemberdayaan masyarakat secara inklusif.




