
Malam minggu 31 mei 2025 di Unsoed Café berubah menjadi ruang Tukar Baca Tukar Cerita (TBTC), kali ini bukan sekadar kopi dan cerita. Hadir sebagai narasumber tunggal, Rahmi Wijaya selaku Project Director dari Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest).
Rahmi membuka diskusi dengan memaknai literasi menurut dia, salah satu kalimat yang menghantam dinding kesadaran ialah:
“Literasi, membuat saya waktu kecil tidak merasa miskin padahal secara ekonomi saya miskin“
Kalimat itu bukan puisi. Itu kritik. Kritik terhadap sistem ekonomi yang membungkam martabat melalui angka. Rahmi kecil menjadikan literasi sebagai perlawanan diam yang nyaring. Ia tidak membeli realitas, ia membacanya. Dalam dunia di mana manusia dibeli oleh logika konsumsi, Rahmi kecil memilih menjadi pembaca. Radikal!!
TBTC malam itu lalu menguliti ide-ide di balik BIL Fest. Rahmi tidak menjanjikan festival besar tapi lebih kepada doa, yang perlu dipanjatkan melalui ibadah-ibadah kebudayaan sepert BIL Fest, untuk merawat nalar, imajinasi, dan rasa keadilan. Terlihat dari program-program BIL Fest seperti 1 Kid 1 Book, ataupun mengundang banyak bintang tamu dari berbagai latar belakang.
Akhirnya memang di forum TBTC, Rahmi tidak datang untuk memberi jawaban, tetapi malah membawa kegelisahannya, berbagi dorongan-dorongannya serta keragu-raguannya yang ingin dia temukan di BIL Fest.
Penulis dan penggerak literasi dari Banyumas. Ia aktif menginisiasi forum baca dan diskusi sastra. Karya-karyanya mencerminkan kepedulian sosial dan lingkungan. Melalui puisi dan esai, ia menjadikan literasi sebagai ruang perjumpaan, pembebasan, dan pemberdayaan masyarakat secara inklusif.




