Tembakau Rindu dan Puisi Lainnya

Tembakau Rindu

Puntung rokok memenuhi asbak,
menyisakan nikotin
melekat pada paru-paru.

Rokokku raib tak tersisa, hanya bungkus yang ditinggalkannya.

Asap pun sirna,
pergi bersama angin penuh mesra.

Korek api merindukan kerlap-kerlip tembakau.

Tembakau tersenyum dikecup korek api,
hingga lenyap menjadi abu.

Puntung-puntung rokok menjadi saksi bisu keduanya,
tersimpan memenuhi asbak.
Menunggu puntung rokok yang lain
menguburkan kenangan ke dalamnya

***

Surga Birahi

langit malam menatap bisu.

ragaku membeku,
waktu terasa cepat berlalu.

bertahun-tahun ku membeku.
jiwaku mendera, lingkaran ini memang tak ada ujung.
berulang kali aku meraba jalan.
nihil, tak ada jalan keluar.

setan setan mengerumuniku bak tontonan pasar malam.
mereka tertawa, melihat aku yang tak berdaya.
sudahlah, hirup saja udara segar di lingkaran ini.
tak ada gunanya mencari jalan kembali.
hasut setan kepadaku.

kikikikikikikikik
mulut menganga lebar menertawaiku penuh nafsu.
manusia bodoh! hidup enak kok gak mau.
di sini surga instan bisa kau dapatkan.
hasut setan.

lingkaran ini dipenuhi nafsu birahi.
surga dari mana?

***

Urip Mung Sepisan

Hidup cuma sekali.
Tiga kata penuh makna.
Setiap orang berhak mengartikannya,

bukan hanya dipandang sebelah mata.

Ada yang memaknainya:
“Hidup cuma sekali, jangan kaubuat merugi.”
Dan ada lagi,
“Hidup cuma sekali, rugi kalau tidak dinikmati.”

Ateis, agamis, agnostis,
mempercayai tiga kata ini.

“Jika toh hidup cuma sekali,
kenapa tidak kaunikmati?”
cakap ateis.

“Hidup cuma sekali.
Jangan kau buat merugi.
Jangan menikmati hal-hal duniawi,”
cakap agamis.

Akankah kau buat merugi,
tak diampuni?
Akankah kau berbuat untung,
bertemu Ilahi?

Ateis selalu mencari bukti.

Agamis selalu mencari pahala.
Agnostis… entahlah…
mereka saja bingung terhadap diri sendiri.

Semua sama saja, toh,
hidup cuma sekali.
Tak usah kau pikir berat hati

***

Oh Dunia

Dunia oh dunia
Mengapa engkau begitu aneh?
Orang-orang mencari kesenangan di tempatmu yang fana ini,
dari munculnya sang fajar hingga merayapnya si langit kelabu.

Keringat bercucuran delapan jam
hanya demi selembar kertas yang tak berarti.
Satu orang ingin menjadi raja,
tetapi kerjanya cuma berputar-putar di tempat saja.

Jalanan sudah seperti panggung sandiwara.
Ada seseorang yang diburu oleh waktu
hanya demi sesuap nasi,
dan ada orang yang ditertawakan

sebab memakai topeng kelinci.

Dan aku? Oh, jangan tanya soal itu.
Aku saja lupa naskahku seperti apa.
Kertas putih yang dulunya berisi coretan
kian lenyap terlahap batara kala.

Aku mencium bau anyir dari tubuhku,
tubuh yang dulu sangat wangi bak bunga melati,
kini menjadi seekor babi.
Beginikah diriku yang sekarang?

Dunia memang aneh..
Kopi yang biasa kuminum di malam hari
seolah tergantikan pahitnya dengan dunia yang fana ini.
Dunia oh dunia,
di manakah naskahku yang penuh dengan
coretan itu?

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top