
Kursi-kursi bambu itu teronggok seperti tak pernah diduduki. Meja-meja panjang beralas tripleks itu juga terlihat murung. Warung bambu itu tak berbeda nasibnya dengan dua kawannya yang lain, merana, macam warung mangkrak. Padahal pemiliknya telah menghabiskan modal yang banyak. Bahkan satu-satunya gelang yang ia punya telah melayang untuk memodali awal membangun usaha warkop itu.
Nasib, usaha warkop semakin sepi peminat. Orang tua-orang tua yang sering ngopi di warkop-warkop sambil mendengarkan lagu dangdut lawas sudah bertransformasi generasi. Kopi sudah bukan hanya digandrungi oleh bapak-bapak, namun juga oleh anak-anak muda milenial baik laki-laki maupun perempuan, bahkan pula ibu-ibu. Melihat warkopnya hampir roboh karena diamuk oleh angin ribut, lelaki itu menatap dengan lesu. Awalnya ia buka untuk memancing pembeli selama 3 bulan pertama. Tapi selama itu, tak seorang pun yang mampir untuk menikmati kopinya. Lalu, ia pun merubah jadwal buka dari pagi hingga siang dan sore hingga malam. Tetap belum menarik pengunjung datang. Akhirnya, warkopnya pun bubar.
Satu-satunya usahanya yang masih bertahan adalah jualan bensin. Tapi ya begitu, usahanya biasa-biasa saja. Tidak begitu menguntungkan. Selama 5 bulan ini ia belum bisa memenuhi nafkah buat sang istri. Ia hanya mampu memberi uang belanja Rp.50.000 per minggu. Tidak seperti dulu ketika dirinya masih menulis. Ah, ya, sebenarnya lelaki itu adalah seorang cerpenis yang namanya kerap menghiasi halaman rubrik sastra di koran cetak. Jadi, macam mana ceritanya seorang cerpenis bisa berprofesi sebagai penjual bensin?
Tabahi yang awalnya selalu meraup duit dari honor cerpen yang ia kirim ke koran merasa aman-aman saja. Tiap minggu selama sebulan ia selalu mendapat transferan uang dari koran karena cerpennya selalu dimuat. Kehidupan rumah tangganya sungguh bahagia. Dari honor menulis cerpen itu ia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Bahkan ia mampu membelikan istrinya apa pun yang diinginkannya. Tiap malam minggu ia mengajak anak istrinya keluar hanya untuk sekadar makan nasi lalapan ayam atau ke warung bakso solo. Ia juga membelikan kebutuhan sang anak. Tapi, kebahagiaan itu cepat berubah seperti musim. Tabahi dituduh melakukan plagiat oleh seseorang. Salah satu cerpennya yang berjudul “Musim Orang Kawin” divonis plagiat karena mirip dengan karya penulis asal Tapsel yang terbit dua bulan sebelumnya.
Dengan gercep pemberitaan soal plagiat sastra itu langsung menyebar di website resmi koran dan komunitas-komunitas penulis. Meski Tabahi telah melakukan pembelaan terhadap karyanya, semua kuping telah tertutup. Tidak satupun orang yang membelanya. Begitupun dengan kawan-kawannya yang dulu mengapresiasi karyanya berubah berbalik menjadi haters, penghujat. Justru mereka membela dan membesarkan hati si korban yang karyanya habis dijiplak oleh Tabahi, seolah-olah Tabahi-lah yang jahat. Tabahi pun spaneng. Saldo di tabungannya pun kian kempis. Sementara istrinya tak mau tahu kondisi suaminya yang penting uang belanja jalan terus.
Ke sana kemari Tabahi yang bukan tipe lelaki pemalas berusaha mencari pekerjaan sebelum ia kembali ke habitatnya. Betapapun Tabahi sangat mencintai sastra. Sejak ia lulus SMA ia bahkan langsung terjun di dunia tulis-menulis. Ia pun mendalami ilmu kepenulisan sampai ke Jogjakarta. Setelah menyelesaikan sekolah kepenulisannya, Tabahi pulang ke kampung halamannya. Di sana ia melanjutkan pekerjaannya sebagai penulis, sebuah pekerjaan yang terdengar asing di telinga orang yang tak berijazah. Orang-orang yang tak mengenal buku.
Selama sebulan Tabahi terus mencari pekerjaan yang sesuai dengan skill yang ia punya. Kalau tidak mengajar, ya paling tidak sebagai juru ketik di sekolah. Sayangnya, tidak ada satu pun sekolah yang membukakan pintu untuknya. Selain tidak memiliki modal yang memadai untuk membayar Tabahi, peminat sastra juga sepi. Semakin hari saldo tabungan Tabahi semakin menipis, sedangkan pekerjaan tak kunjung datang padanya.
Suatu hari ketika Tabahi habis pulang dari sebuah sekolah, ia kelihatan capek karena harus mengayuh sepeda pancal sejauh 50 km pulang pergi. Bukannya membawakan air minum untuk suaminya justru istrinya minta duit buat membeli bedak.
“Pak, sampean punya duit?”
“Buat beli apa?”
“Bedakku mau habis.”
“Kamu lihat aku lagi apa?” kepala Tabahi tambah mendidih.
“Lha wong bedakku mau habis.”
“Kamu lihat aku sudah dapat pekerjaan?! Sejak tadi aku berkeliling macam orang tawaf bukan untuk cuci mata. CARI KERJA! UNTUK SIAPA?! UNTUK KAMU DAN ANAKMU!” tensi Tabahi yang selama ini tabah, naik-turun macam harga minyak. “Kamu mau beli bedak kek, krim kek, maskara kek, sido kek, pita kek, bedak viva kek, ms glow kek, ps glow kek, ps glow kek, ps makassar kek, ps bandung kek, AKU BELUM PEGANG DUIT! DENGAR!”
Selama ini Tabahi belum pernah membentak istrinya macam siang itu.
“Bukannya mendoakan suami supaya dapat kerjaan yang layak malah minta duit. Duit! Duit!” mulut Tabahi merepet-repet sebelum menggeber motor matiknya.
Selama ini sejak menikah, Tabahi tinggal di rumah mertuanya. Ibu mertuanya yang single parent sejak usia 30 tahun itu cuman bekerja sebagai pedagang ikan asap keliling. Pendapatannya pun tak seberapa.
Setelah pergi, Tabahi duduk di bawah pohon sukun. Di sana ia mendapat sebuah wangsit. Ia melihat seorang bapak-bapak yang menjual bensin. Tampak saat itu, bapak-bapak itu melayani pembeli. Hanya dua jam saja sudah ada enam pengendara yang mengisi bensin. Maka terbetiklah dalam benaknya untuk berjualan bensin. Lalu, kenapa ia juga membuka warkop? Warkop adalah penarik dagangan. Ia berpikir, nanti pengendara yang mampir tidak hanya mengisi bensin, namun juga membeli kopi. Itulah kisahnya.
“Aku harus kembali ke habitatku.”
“Pak, ini ada kiriman bubur candil dari ibuk.” Istrinya membawakan semangkuk bubur candil yang dikirim oleh ibunya.
Mencium aroma wangi pandan dalam santan yang menguar dari bubur candil yang menusuk hidungnya itu, terbetiklah sebuah ide untuk kembali menulis cerpen.
“Aku akan kembali menulis. Judulnya Semangkuk Bubur Candil.” Semangat menulisnya kembali meletup. Tanpa menghambur-hamburkan waktu ia mengganyang bubur candil buatan ibunya, lalu mendorongnya dengan tiga sesapan kopi jahe.
***
“Kalau Bapak tidak percaya kepada saya, siapa lagi yang akan mempercayai saya? Silakan Bapak baca dan pelajari berulang-ulang cerpen saya ini. Jika Bapak menemukan karya yang sama baik judul dan isinya, Bapak boleh menolaknya. Bapak boleh mem-blacklist saya dari daftar kontributor cerpenis.” Tabahi mencoba meyakinkan pimpred koran nasional di ruang kerja pimpred di gedung berlantai sepuluh itu.
“Saya sebenarnya tidak langsung percaya terhadap yang diberitakan oleh kawan-kawan penulis dan wartawan kalau Mas Tabahi telah memplagiat karyanya Yuwaswi Sufi. Gaya tulisannya pun berbeda. Tapi apa yang bisa saya perbuat, ketika kawan-kawan redaktur mengecam saya jika masih memuat cerpen saudara.”
“Makanya, Pak. Silakan bapak baca dengan cermat cerpen terbaru saya ini. Mulai dari konflik, penokohan, tema, plot dan style-nya. Jika memang saya plagiat, saya akan berhenti menulis.”
“Baik, Mas Tabahi. Saya akan membaca naskah sampean dulu. Nanti seminggu lagi akan saya hubungi.” Pimpred mengulum senyum.
Ada secercah matahari harapan untuk membenahi kehidupan Tabahi pagi itu. Usai mengadakan pertemuan dengan pimpred, Tabahi pulang sambil mengepalkan tinju ke udara.
Seminggu berlalu macam badai, macam mendung yang melintasi langit, macam musim angin gending, Tabahi mendapat kabar dari pimpred koran nasional itu kalau cerpennya dimuat besok. Maka bersujudlah Tabahi atas nikmat yang dilimpahkan oleh Tuhannya.
“Alhamdulillah… “
Besok bakda subuh, sambil menggeber motor matiknya, Tabahi pergi ke simpang lampu merah untuk membeli koran dari loper yang mukanya mirip Ozy Syahputra yang terkenal sebagai hantu dalam pelem Si Manis Jembatan Suramadu itu.
“Ambil semua, Mas.”
Ia ikhlas memberikan duit Rp.10.000 buat loper yang cuman untung 1000 rupiah per koran itu. Dibukanya dengan riang halaman sastra. Dan di situ terpampang cerpennya untuk kali pertama setelah skandal plagiarisme itu. Dikibar-kibarkanlah koran tersebut ke langit seperti pejuang yang mengibarkan bendera kemerdekaan bangsanya dari penjajah.
Terbelalaklah mata para pembenci yang selama ini bertekad untuk membenamkannya dalam perut bumi ketika membaca nama Tabahi di situ. Bungkamlah mulut bimoli para penghujat yang bercuit-cuit di medsos. Semakin menyalalah bara dan api unggun di dada para tukang fitnah konconya Abu Lahab, Abu Gosok, Abu Tumang, Abu Kayu Bakar.
Sementara Tabahi merayakan hari kemerdekaannya seperti burung punai yang baru terbebas dari tangan pemburu. Perlahan duitnya kembali terkumpul. Lenyaplah mendung kesedihan yang menyelimuti mukanya berganti cahaya mentari kebahagiaan.
Sejak itu pula ia sudah bisa memberi nafkah istrinya, membelikan anaknya mainan, mengajak makan anak dan istrinya, dan yang lebih spesial lagi adalah, di bulan kemenangan bagi bangsa Indonesia itu ia mengajak keluarga kecilnya menyambangi ibunya.
Di rumah sederhana itu mereka menikmati bubur candil buatan ibunya bersama-sama.
“Apakah ibu tahu, kalau hidupku diselamatkan oleh Allah melalui perantara bubur candil buatan ibu ini.”
“Oh ya?”
“Iya, Bu.” Istri Tabahi menyahut. “Saat itu Mas Tabahi yang lagi buntu langsung bersemangat untuk kembali setelah mencium aroma wangi bubur candil buatan ibu.”
“Suamimu memang suka bubur candil. Apalagi candil yang dicampur dengan mutiara dan agar-agar.”
Di bibir Tabahi tergores sebilah senyum. “Akhirnya aku sudah bisa kembali memenuhi nafkah untuk istri dan anakku. Syukurku hanya kepada Engkau yang tiada henti melimpahkan rahmat dan rezeki kepada hamba yang hanif ini, Yaa Rabb.” Tabahi berbisik di dalam palung hatinya.
Bulan itu juga Tabahi mengantar putrinya untuk mendaftar sekolah SD. Pak Kepala Sekolah yang ngefans sama cerpen-cerpennya Tabahi menyalami pria itu sambil berswafoto sekaligus minta tanda tangan. Dalam sehari Tabahi menjadi artis dadakan.
“Sungguh, berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian, sakit-sakit dahulu, susah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.”

dari Banyumas menyapa Indonesia




