Realitas, Realita, Realit, Really?

Dari berbagai kisah pendek yang saya sukai, I Hope I Shall Arrive Soon akan selalu berada pada tangga paling atas. Saya belum menemukan penulis yang karyanya selalu relate dengan diri saya selain Philip K. Dick. Seharusnya, dengan makin bergerak maju-nya waktu, karyanya akan makin relevan dengan Anda semua, sebagaimana lagu-lagu Ayreon. Sampai titik ini, Anda dapat mencari kisah pendek tersebut di internet dan membacanya sendiri lalu baru kembali ke sini. Kalau saya jadi Anda sih, saya tidak akan kembali ke esei ini. Saya akan membangun interpretasi sendiri dan tidak akan masuk ke penjara dan membelenggukan diri dalam interpretasi penulis esei ini. Namun, kembali lagi, itu pilihan Anda. 

Anda dapat kembali lagi sekadar untuk mengiyakan klaim penulis pada kalimat ketiga paragraf di atas. Atau kembali lagi untuk mengejek penulis di kolom komentar. Bukankah Anda orang ngapak, yang suka berterus-terang di tengah segala cuaca?—meminjam judul buku Selvi Agnesia, dengan sedikit modifikasi, maafkanlah saya. Akan Anda letakkan di mana keleluasaan lidah Anda? Akan Anda letakkan di mana kemerdekaan berbahasa Anda? Di atas kepala Anda, seperti sepotong tanah air di atas kepala, seperti gentingisasi?

Bukankah bahasa ngapak yang Anda gunakan, dapat dikatakan adalah buah dari pembangkangan leluhur Anda yang tidak mau tunduk pada perintah istana untuk mengubah a menjadi o? Yang terakhir ini hanya imajinasi yang memenuhi kepala saya ya, setelah membaca beberapa artikel di internet, saat saya berniat mengikuti Workshop Penulisan Sastra Bermuatan Budaya Banyumas, yang akan diselenggarakan pada tanggal 8 s.d. 9 Agustus tahun ini—yang tidak mungkin saya ikuti karena saya sudah gagal di syarat & ketentuan pertama. Model bercandaan ini sepertinya bukan model bercandaan orang ngapak. Anda yang ngapak mungkin perlu menuliskan model bercandaan orang ngapak itu seperti apa. Itu tugas Anda. Tugas Anda sungguh banyak sekali.

Jadi, I Hope I Shall Arrive Soon itu tentang apa? Saya sendiri tidak tahu dengan pasti. Saya mendapatkan beberapa interpretasi setelah membaca kisah pendek tersebut. Puluhan kali mungkin saya membacanya, dalam berbagai titik usia yang berbeda. Ingin sekali saya dapat menimbulkan multi-interpretasi seperti itu dalam karya saya. Namun, derajat Philip K. Dick terlalu tinggi untuk saya gapai. Apa daya saya? Itu bukanlah sebuah keinginan yang realistis. Jadi tidak usah kita bicarakan lagi. Bagi saya, kisah pendek tersebut adalah tentang rasa bersalah. Tiap dari kita, dalam tingkatannya masing-masing—apabila Anda membayangkannya sebagai sebuah spektrum—memiliki hantu masing-masing yang masih merayap dalam kesadaran dan alam bawah sadar kita. Hantu kecil, hantu besar. Terserahlah Anda namai apa rasa bersalah Anda itu. Ada beberapa hal pelik, yang kita harap dapat ubah di masa lalu. Jadi I Hope I Shall Arrive Soon itu seperti Flashpoint? Tentu tidak. 

Victor Kemmings, si tokoh utama kisah pendek tersebut, adalah orang yang sangat negatif, yang suka sekali menyalahkan diri sendiri. Ya kepribadiannya memang begitu. Di antara kita, ada yang tengah berada dalam fase self-love, ada juga yang persisten selalu meng-gaslight dirinya sendiri. Mudahnya ngomong: self-gaslight. Ini dikotomi yang saya buat sendiri ya. Anda pasti bilang Anda seorang amor fatist—terlihat seperti amor fascist, atau amor fetish. Gerombolan self-gaslighter ini meletakkan segala sesuatu yang buruk yang terjadi dalam perjalanan hidupnya, sebagai kesalahannya sendiri. Bagi mereka, segala sesuatunya seharusnya sure right from the start—meminjam ungkapan Neil Young. Apabila meminjam ungkapan Koil: begitu banyak gembira/hanya kecewa tertanam di hati. Demikianlah kaum self-gaslighter ini. Mudah kecewa dengan diri sendiri. Sungguh sangat tidak kompatibel dengan konsep keberlanjutan hidup. Mereka ini akan selalu mengotori semua simulasi yang berulang-ulang abadi dalam kepala mereka dengan rasa bersalah. Demikianlah Victor Kemmings, dia termasuk manusia tipe ini. Philip K. Dick secara piawai menjelaskan kepribadian Victor Kemmings ini secara bertahap. Anda tidak akan menemukannya langsung dan segera di hadapan Anda saat mulai membacanya. Oleh karena itu, Anda seharusnya sangat menyesal telah membaca esei ini sampai bagian ini, padahal Anda belum membaca kisah pendeknya secara langsung.

Kisah pendek tersebut dimulai dengan bangunnya kesadaran Victor Kemmings ini dari tidur statisnya, dalam sebuah perjalanan yang masih akan memakan waktu sepuluh tahun di luar angkasa. Kecerdasan buatan pesawat tidak mungkin membiarkannya bangun penuh karena pesawat tersebut tidak dilengkapi dengan makanan apalagi udara. Lelaki ini tidak akan hidup. Di sisi lain, pesawat tidak dapat menidurkan Victor Kemmings kembali karena tidak mampu memperbaiki malfungsi yang membuat kesadaran lelaki tersebut bangun.

Apabila lelaki tersebut tersadar selama sepuluh tahun tanpa data sensorik, akalnya bisa jadi corrupt. Payahnya si pesawat juga sama sekali tidak dilengkapi dengan informasi apa pun untuk menyuplai kesadaran Victor Kemmings. Sehingga pilihan yang tersedia bagi pesawat adalah menyuplai Victor Kemmings dari memori-memori bawah sadar lelaki itu sendiri. Tentu saja memori-memori yang menyenangkan. Pintar sekali Philip K. Dick menciptakan situasi yang pelik tersebut sehingga opsi terbaik yang tersedia hanyalah opsi tersebut. 

Jadi bagaimana perjalanan Victor Kemmings dalam situasi yang pelik tersebut? Sudah saya bilang, Anda sebaiknya membaca kisah pendek tersebut secara langsung. Titik yang mungkin dapat dikatakan paling krusial dalam kisah pendek tersebut adalah setelah si pesawat gagal mempertahankan simulasi memori yang nyaman karena disabotase oleh Victor Kemmings yang berkepribadian self-gaslight. Si pesawat bertanya apa yang sebetulnya diinginkan lelaki tersebut, apa yang ingin dialami oleh lelaki tersebut. Si lelaki menjawab dia ingin sampai ke tujuan mereka, ke Sistem LR4. Si pesawat pun mengabulkannya. Masalahnya, mereka belum sampai ke tujuan kan? Sementara itu si pesawat tidak dibekali informasi yang memadai untuk menciptakan simulasi kedatangan mereka. Jadi kembali lagi, si pesawat akan mengandalkan apa yang dimilikinya dalam mengonstruksi masa depan, ya memori lelaki tersebut kembali, termasuk nama orang dan benda-benda.

Hal yang saya sukai dari kisah pendek ini adalah Philip K. Dick lebih fokus pada bagaimana dia memangkas narasinya ketimbang mengikuti dogma show, don’t tell yang saya yakin Anda sembah-sembah itu. Hebatnya, situasi pelik yang saya sebutkan sebelumnya mendukung upaya penulis dalam membangun tumpuan pada telling dan meletakkan showing justru sebagai unreliable medium. Showing-nya merupakan proyeksi atas memori dan bayangan kedatangan yang rusak. Ketika kita sebagai pembaca telah terbiasa dengan showing yang tidak dapat kita percaya lalu penulis mengakhiri kisah pendeknya dalam fase showing, yang muncul adalah berbagai interpretasi. Betapa geniusnya Philip K. Dick!

Bisa jadi Victor Kemmings memang telah sampai ke tujuannya, tetapi pikirannya rusak secara kognitif, masih menganggap realitas tersebut sebagai sebuah upaya simulasi dari si pesawat. Bisa jadi dirinya memang masih berada dalam simulasi. Bisa jadi seluruh kisah pendek tersebut adalah simulasi. Judulnya yang berubah dari judulnya yang semula, Frozen Journey, juga bermakna ganda. I dalam I Hope I Shall Arrive Soon itu siapa? I valid, baik sebagai si pesawat yang ingin segera sampai ke tujuan mereka karena tidak tahu lagi harus memproyeksikan apa ke Victor Kemmings si self-gaslighter, maupun sebagai Vector Kemmings sendiri, yang ingin segera sampai dan terlepas dari siksaan simulasi yang pada akhirnya selalu gagal dipercayainya sebagai realitas.

Victor Kemmings adalah metafora dari kita yang terjebak dalam persepsi kita atas realitas, yang sangat tergantung pada simulasi dunia dalam tayangan yang kita lihat, dalam teks yang kita baca, dalam bisikan-bisikan setan ke kalbu kita. Bukannya membaca dan berusaha memahami kitab suci, yang menjadi alat kita menyelamatkan diri kita dari dosa, lara, derita—atau sebut saja dolade sararita—dalam kesementaraan yang panjang ini, Anda malah membaca esei ini atau kisah pendek itu. Bagaimana sih? Anda tidak mau sampai ke tujuan? Lihatlah, betapa kerasnya hati Anda dari tadi, sampai-sampai saya tidak tahu mau menyampaikan apa lagi. Semua ini memang salah Anda seluruhnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top